Thank You (Chapt. 14 – Stay Like This)

sketch-1485351332705

Note : baca kembali chapter “the best Kim Ahra” dan chapter sebelumnya ya, kalau kalau ada yang lupa 🙂

Beberapa orang berpikir terlahir kembar itu istimewa, sebagiannya lagi mengutuk dan berpikir itu membuat kecewa. Namun sebenarnya tak ada satupun makhluk yang dapat memilih akan terlahir seperti apa mereka nantinya, bukankah semua itu kehendak Tuhan? Kita hanya harus menjalaninya saja. Menerima semua berkah yang Tuhan berikan, semua yang ada di dalamnya, termasuk dirimu…

.

.

Masih dipertengahan musim gugur, dedaunan menguning hingga berwarna coklat. Satu persatu mereka berguguran, berserakan di trotoar jalanan itu bagaikan permadani yang terhampar indah mengantar setiap pejalan kaki yang menapakinya.

Haripun lumayan cerah meski udara sedikit tak bersahabat. Ya, mungkin suhunya tidak sampai minus. Tapi ini cukup untuk membuat orang berpikir dua kali jika ingin keluar tanpa keperluan mendesak. Hey ayolah, meski cuacanya cerah memangnya kau ingin berdiam diri diluar menembus angin hanya untuk melihat langit? Baiklah, kurasa jawabannya tidak.

Di kediaman keluarga Kim seperti biasa jika semuanya tengah berada di rumah, keributan pasti tak dapat terelakan lagi. Apalagi tadi pagi, ketika sepupu mereka belum berangkat sekolah. Wah, rasanya seperti ada konser dadakan di rumah itu.

Teriakan-teriakan nyaring di sertai umpatan menggema mewarnai pagi yang indah, dengan di bumbui sedikit bisikan-bisikan halus yang justru membakar suasana menjadi semakin ramai. Siapa lagi pelakunya?

Tentu saja si kembar Kim yang sudah bertengkar pagi-pagi sekali setelah insiden Kim Ki Bum yang tidak sengaja –mungkin- tertendang oleh Kyuhyun, dan di tambah dengan olokan dari sepupu mereka Shim Changmin yang memang menginap sejak kemarin.

Beruntung, pagi ini Changmin pergi ke sekolah. Begitupun paman dan bibi yang juga harus pergi bekerja. Meninggalkan ketiganya –Ahra, Ki Bum dan Kyuhyun- di kediaman mereka. Jadi setidaknya tak ada yang memberi hasutan kepada si kembar Kim yang bisa membuat mereka bertengkar lagi seperti tadi, bukan?

Kini gadis berusia dua puluh satu tahun itu menghembuskan nafasnya lega, melihat keadaan kedua adiknya yang sudah jauh lebih baik jika di bandingkan kemarin. Ia tatap kedua adiknya yang tengah menonton televisi bersama. Bibirnya merekah, mengulas sebuah senyuman kecil seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku apron sewarna tulang yang ia kenakan.

Merogoh benda persegi berwana pink metallic dari sakunya, tampaknya ia akan melakukan sebuah panggilan.

“Ahra-ya?” sapa seseorang dari sebrang panggilan sana. Benar saja gadis bernama Kim Ahra itu memang menghubungi seseorang.

Ahra mendekatkan smartphone nya pada daun telinganya, mendengar suara baritone namun terdengar manis itu sembari menggigit bibirnya menahan rasa yang sulit untuk di jelaskan.

Rindu? Entahlah…

“ne oppa, ini aku…”

“ada apa menghubungiku? Apakah terjadi sesuatu?” Tanya seseorang di ujung sambungan itu cemas.

Gadis itu menggeleng, padahal ia tahu seseorang di sebrang sana tak mungkin bisa melihatnya. Akhirnya ia menjawa singkat, “tidak, semua baik-baik saja…”

“lalu?”

“lalu? Oppa, kau tidak suka kalau aku menghubungimu?” jawab Ahra sedikit tersulut. Nada bicaranya terdengar cukup kesal menanggapi jawaban Leeteuk yang tak juga peka.

Tidak bisakah ia mengerti? Memangnya untuk apalagi ia menghubungi Leeteuk jika tak ada yang ingin dibicarakan selain satu alasan? Tentu saja Kim Ahra…

“aku meridukanmu…” bisik seseorang di ujung sambungan sana.

Nafas Ahra tercekat, ia yang awalnya akan marah dan hendak menutup sambungan akhirnya urung melakukannya. Eskpresinya yang tadi sempat kesal kini berangsur melembut.

“yoboseyo, Ahra-ya? Kau mendengarku?”

Lagi Kim Ahra menganngguk. “aku dengar oppa, sangat jelas…”

“baguslah, karena untuk hari ini aku tak akan mengatakannya lagi,” ujar Leeteuk di ikuti dengan tawa renyah untuk menggoda Ahra.

Si sulung Kim itu mendecak, namun tak urung ia juga ikut tertawa kecil mendengar candaan Leeteuk.

“lalu bagaimana keadaan Kyuhyun dan Ki Bum sekarang?”

Ahra bersandar pada lemari es yang berada di area dapur itu, sebelah tangannya masih ia masukan kedalam saku apronnya sementara yang lainnya ia gunakan untuk menggenggam smartphonenya yang kini tengah terhubung dengan pujaan hatinya. Park Jung Soo.

“sudah lebih baik, bahkan mereka sudah bisa bertengkar lagi…”

“benarkah? Syukurlah, aku ingin menjenguk hari ini, tapi sepertinya tidak bisa…”

“gwenchanayo, aku tahu pekerjaanmu sangat banyak sekali-” Ahra berhenti sejenak, ia ingat ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan Leeteuk segera. “ah, besok bagaimana? Jam makan siang besok apa kau ada waktu?”

Hening sesaat, “ya, saat jam makan siang tentu saja ada. Kenapa Ahra-ya? Kau ingin aku datang?”

“tidak, biar aku saja yang datang ke kantormu oppa. Aku akan membawakan makan siang,”

“keurae? Baiklah, aku tunggu kedatanganmun besok…”

“eoh, sampai bertemu besok…”

.

.

“Kyuhyun-ah, air,”

Kyuhyun beranjak dari duduknya dan meraih segelas air, mengangsurkannya pada sang kakak sebelum mengambil alih kembali gelas tersebut dan menyimpannya di atas meja.

“Kyuhyun-ah, tolong ambilkan ponselku,”

Kali ini Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju nakas tepat di belakang sofa, mengambil ponsel milik Ki Bum dan memberikannya pada pemiliknya.

Sementara tanpa Kyuhyun sadari, Ki Bum menyeringai kecil melihat tingkah adik bungsunya yang sangat patuh hari ini. Tampaknya Kyuhyun serius dengan perkataannya tadi malam (baca: Chapter 12). Ia benar-benar menjadi ‘sandaran’ bagi Ki Bum, atau lebih tepatnya ‘pesuruh’?

Ki Bum tertawa kecil di balik punggung Kyuhyun yang duduk menyamping membelakanginya, sepertinya menyenangkan juga sedikit menjahili adik kecilnya itu. Walaupun sebenarnya ia juga tak tega, apalagi Kyuhyun-nya sedang sakit sekarang. Tapi sepertinya jika hanya bermain-main sedikit saja, tak apa kan?

“Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun mendelikan matanya malas, entah sudah yang ke berapa kalinya Ki Bum memanggilnya hari ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa menolak karena ia sudah berjanji akan menjadi sandaran Ki Bum dan menjadi Kim Kyuhyun yang dewasa bagi kedua kakaknya.

Si bungsu Kim akhirnya membalik tubuhnya menghadap Ki Bum, “apa lagi?” tanyanya malas.

Mendengar nada bicara Kyuhyun yang sedikit kesal, Ki Bum susah payah menelan salipanya. Sesungguhnya ia tak tahan ingin tertawa, tapi ia mencoba untuk bertahan agar Kyuhyun tak curiga kalau dirinya sengaja ingin menjahilinya.

Dengan wajah merengut yang di buat-buat, Ki Bum berucap. “kau kesal karena aku terus meminta bantuanmu, Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun mengerjap melihat ekspresi sedih Ki Bum, apakah ia benar-benar terlihat kesal? Ah, dasar Kyuhyun bodoh. Seharusnya ia bisa menyembunyikan itu agar Ki Bum tak tersinggung.

“a- a- aniyo! Sungguh bukan begitu maksudku!” ujar Kyuhyun berusaha keras membela diri.

Ki bum menundukan wajahnya, menahan tawanya yang hampir pecah.

Sedangkan Kyuhyun tampak kikuk, ia kebingungan dan merasa tak enak pada kakak laki-lakinya itu. Padahal sebelumnya dia sendiri yang meminta Ki Bum untuk bersandar padanya, tapi baru satu hari saja dia sudah mulai kesal melakukan semua itu untuk kakak keduanya itu.

“maaf… maafkan aku Ki Bum-ah, sungguh aku tak kesal! Sekarang katakan padaku, apa yang kau butuhkan? Katakan…”

.

.

“gila… ini gila… ini sungguh gila…”

Gumaman dan gerutuan tak jelas terdengar di ruangan dengan aroma khas itu, tercium wewangian dari beberapa bahan makanan yang ternyata tengah diolah oleh sang trouble maker Kim Kyuhyun. Dengan telaten ia memotong beberapa buah segar dan menyajikannya di atas meja, ditemani dengan dua buah piring pancake yang… baiklah wujudnya memang tak terlalu bagus, tapi dari aromanya sepertinya mereka masih masuk dalam kategori layak konsumsi.

Kyuhyun membawa semuanya beserta dua buah gelas jus jeruk di atas nampan berwarna merah muda. Untuk pertama kalinya… untuk pertama kalinya… ia memasak! Bahkan ketika ia sangat lapar sekalipun di tengah malam, ia pasti akan membangunkan Ahra untuk membuatkannya makanan. Atau kalau Ahra tak ada, ia lebih memilih untuk menahan lapar dari pada harus masuk ke dapur dan memasak.

Jika bukan karena Ki Bum, jika bukan karena permintaan Ki Bum. Ia tak akan pernah mau memasak, apalagi untuk orang lain.

Tidak akan pernah!!

.

Tanpa bicara, Kyuhyun meletakan nampan yang ia bawa di atas meja di hadapan Ki Bum. Ki Bum menegakkan tubuhnya, ia tersenyum manis melihat apa yang sudah adiknya buat. Pancake, beberapa potong buah dan juga jus jeruk.

“maaf karena sedikit gosong,”

Ki Bum menggelengkan kepalanya, ia menepuk sofa di sebelah kirinya dan meminta Kyuhyun duduk disana. “duduklah,”

“dan terimakasih untuk makanannya,” lanjut Ki Bum sambil memotong pancake yang warnanya sedikit menghitam itu. Ia memakan suapan pertama dan lalu mengangguk-anggukan kepalanya.

Sementara Kyuhyun tampak was-was, ia takut hasil masakannya tak enak. Dengan tatapan penasaran ia memperhatikan Ki Bum yang tengah menikmati pancakenya, menunggu tanggapan Ki Bum tentang masakan pertamanya itu.

“bagaimana?” Tanya Kyuhyun sambil meringis.

Ki bum mengerutkan dahinya, ia mengunyah pancakenya perlahan dan lalu menelannya susah payah. “aromanya sedikit… gosong?”

Hembusan napas Kyuhyun terdengar berat mendengar komentar yang Ki Bum lontarkan, ia sudah menduga kalau pancakenya itu benar-benar tak layak konsumsi. Ya, ia tahu. Ia memang sungguh tak berbakat dalam bidang ini, ia tahu itu.

“tapi rasanya cukup enak, aku suka…”

“jangan mencoba untuk menghiburku, aku tahu kau hanya tak ingin membuatku sedih. Aku tahu itu…” lirih Kyuhyun sambil menyandarkan tubuhnya malas. Lagi, ia duduk membelakangi Ki Bum dan memfokuskan sepasang matanya pada televisi yang tengah menayangkan acara gameshow.

Di balik punggung Kyuhyun, Kim Ki Bum menyunggingkan sedikit senyumnya. Ia memotong kembali pancakenya dan lalu menepuk bahu Kyuhyun lembut.

“berbaliklah,” perintahnya pelan.

Meski enggan, Kyuhyun tetap saja menuruti perintah kakaknya. Dengan maniknya yang sedikit berair dan wajah merengut, Kyuhyun membalikan tubuhnya kearah Ki Bum.

“buka mulutmu,” perintah Ki Bum lagi, dengan wajah yang sedih, akhirnya si bungsu Kim itu membuka mulutnya. Menerima suapan pancake dari Ki Bum.

“kunyah dengan benar,” pinta Ki Bum perhatian, “bagaimana? Sudah aku bilang ini cukup enakkan?” lanjutnya sambil meneruskan makannya.

Kyuhyun terdiam, ia mengunyah pancakenya dengan hati-hati. Dan ternyata rasanya memang tak seburuk itu, tapi tetap saja. Ini tak seenak pancake buatan eomma ataupun noona.

Tanpa terasa, air mata Kyuhyun menggenang di pelupuk matanya. Entah mengapa, mungkinkah tiba-tiba ia merindukan eomma yang dulu sering sekali membuatkan mereka pancake? Ataukah ini karena ia kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa membuatkan pancake yang enak untuk Ki Bum hyung-nya? Atau mungkin…

“tapi tadi kau bilang aromanya gosong!” sentak Kyuhyun dengan sebelah lengannya yang menutup kedua matanya. Ia menyembunyikan manik kecoklatannya yang telah menjatuhkan air mata itu dari pandangan Ki Bum.

Tak dapat bicara, Ki Bum hanya mampu menahan tawanya melihat adiknya yang sungguh kekanakan itu. “kau menangis? Kau menangis, Kyuhyun-ah?” tanyanya sambil berusaha menurunkan lengan Kyuhyun.

Namun Kyuhyun bersikukuh untuk tetap terus menutup matanya, meski nyatanya tangisannya itu sudah tak dapat ia sembunyikan lagi. Isakan-isakannya kian nyaring membuat Ki Bum merasa bersalah karena sempat mempermainkan adik manisnya itu.

“Ya! Kenapa kau menangis? Akukan sudah bilang pancakenya enak, hanya sedikit bau gosong saja!”

Tangis Kyuhyun masih belum berhenti, ia terus terisak membuat Ki Bum sedikit khawatir. Ia takut keadaan Kyuhyun memburuk lagi, hampir saja ia lupa kalau Kyuhyun juga tengah sakit sekarang. Bagaimana kalau ia muntah-muntah lagi seperti tempo hari karena terlalu banyak menangis?

“Kyuhyun-ah…”

Perlahan, tangisan Kyuhyun mereda setelah Ki Bum mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membuat adiknya itu berhenti menangis. Ya ampun, ia tak menyangka akan sesulit ini membujuk adiknya tersebut. Dasar Kim kyuhyun.

Masih sedikit terisak, namun Kyuhyun tampaknya sudah merasa jauh lebih baik. Sementara Ki Bum justru terkekeh melihatnya.

Sepertinya memang butuh waktu yang lama untuk membuat Kyuhyun berubah, sifatnya yang sulit di tebak membuat Ki Bum terkadang kepayahan menangani Kyuhyun. Ia bisa tetap bertahan sekalipun di pukuli oleh delapan orang sekaligus, tapi adiknya itu akan menangis dengan sangat keras hanya karena hal sepele seperti ini.

“kau ini bagaimana, masa menangis hanya karena aku bilang masakannya sedikit gosong?” goda Ki Bum.

Bibir Kyuhyun mengerucut dengan mata berair dan hidungnya yang memerah, ia mendelik kesal melirik Ki Bum.

“tapi sebelumnya kau tidak menangis ketika aku merebut Nam So Hee darimu,” ujar Ki Bum tak hentinya menggoda Kyuhyun.

“aish! Jangan bicarakan itu Kim Ki Bum!”

“wae? Kau tak suka karena kalah dariku?”

“siapa yang kalah? Justru kau yang curang karena mencuri start dariku!”

“itu karena kau lamban Hyun!”

“aku tidak lamban!!”

“tapi buktinya kau tak bisa mendapatkan Nam So Hee, bukan?”

“jangan berbangga diri dulu Bum-ah! Kau lupa kalau kau juga di campakan?”

“siapa? Siapa yang dicampakan? Kami putus baik-baik…”

“oh, yeah? Aku tak percaya…”

Dan pada akhirnya hari itupun berlalu di iringi dengan pertengkaran mereka. Ya, seperti biasanya. Suasana rumah menjadi ramai kembali. Tapi rasanya ini jauh lebih baik, setidaknya kediaman keluarga Kim itu terasa lebih hidup meski hanya di huni oleh sebuah keluarga yang tak sempurna.

.

.

Suara dentingan menyadarkan lamunan seorang pria dengan rambut kecoklatannya, tubuhnya yang tadi ia sandarkan lesu pada dinding lift kini sudah berdiri tegak sebelum akhirnya ia langkahkan sepasang kaki letihnya itu keluar dari dalam lift. Berjalan menapaki lantai gedung apartemen tempat tinggalnya tersebut.

Sesekali Nampak jakunnya turun naik, tangannya yang terbebas bergerak mengusak rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Kini jemari pucatnya itu beralih pada saku celananya, merogoh smart phone-nya yang berwarna putih. Membuka sebuah pesan dari seseorang, seseorang yang pria itu panggil dengan sebutan Sora Noona.

From : Sora Noona

 

Teuk-ah, apa kau sudah menyampaikannya pada Eunhyuk? Maaf karena noona justru membuatmu repot, tapi kau tahu sendiri situasi noona sekarang bagaimana, bukan? Yang aku miliki di dunia ini hanya kalian berdua, aku tahu tak mungkin bagiku untuk mengajakmu juga karena kau sudah punya kehidupanmu sendiri di Korea. Tapi setidaknya, aku ingin bersama putraku Teuk-ah…

 

Pesan yang cukup panjang, ia membacanya berkali-kali sembari mencari solusi terbaik yang bias ia lakukan. Di lain sisi, ia ingin membantu kakak perempuannya dan membuatnya bahagia, sedangkan di sisi lainnya lagi, ia tak ingin melukai hati keponakannya lagi.

Sepasang maniknya yang sayu kini menerawang, menatap lurus pintu apartemen tempat tinggalnya. Tangannya hendak meraih pintu, namun angannya masihlah berkelana. Ia bimbang, keputusan apa yang harus ia ambil sebagai jalan keluar dari masalahnya itu.

Menyuruh Noonanya untuk kembali ke Korea? Tidak mungkin, lagi pula kakaknya itu tak mungkin bersedia kembali ke Korea dan membangun semuanya dari awal lagi. Pencapaian karirnya selama bertahun-tahun di Amerika adalah pertimbangan utama sang kakak, alasan itu pula lah yang membuat keponakannya ada bersamanya sekarang.

“Teuk-ah, biaskah kau menjaga Eunhyuk untukku? Disini aku dan suamiku sangat sibuk, dan kau tahu sendiri bagaimana pergaulan disini. Aku tak ingin putraku terjerumus pada hal-hal negatif Teuk-ah…”

 

Ya, ia ingat betul apa yang noona-nya katakan beberapa tahun lalu. Ketika tiba-tiba ia dan suaminya datang ke Korea. Membawa keponakannya beserta barang-barangnya, meminta seorang pemuda seperti dirinya untuk menjaga seorang anak berusia sepuluh tahun.

Rasanya kenangan itu masih segar dalam ingatannya, bagaimana sang kakak membawa Eunhyuk ke kediamannya dan lalu meninggalkannya begitu saja. Benar-benar tindakan yang tak bertanggung jawab.

Selain dari pada itu, hal yang paling menyakitkan baginya adalah ketika ia menatap manik keponakannya. Bola bening itu berkaca dan menyiratkan rasa terluka.

Benar, saat itu Eunhyuk-nya pasti terluka.

Dan sejak hari itulah, ia mulai meyayangi Eunhyuk yang memanggilnya hyung itu dengan penuh kasih sayang selayaknya seorang ayah, ibu, kakak dan paman tentunya. Ia menjaga Eunhyuk dan memberikan apapun yang keponakannya inginkan, setidaknya dengan begitu ia berharap bisa sedikit mengobati rasa kehilangan Eunhyuk akan kedua orang tuanya.

Kedua orang tuanya yang egois, mengatas namakan cinta namun nyatanya itu karena mereka lebih memperdulikan dunianya di bandingkan putranya sendiri. Sungguh Leeteuk tahu ia adalah seorang pendosa karena sudah membenci kakak satu-satunya itu. Tapi memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan selain membenci tindakan mereka.

Dan tak cukup sampai disana, nyatanya selama di Korea Eunhyuk juga kerap kali membuatnya kecewa. Ia sudah cukup bersabar dengan sikapnya yang kekanakan tapi sepertinya anak itu tak juga jera. Karena hal itu pula lah ia mulai menjaga Eunhyuk dengan lebih ketat lagi. Perlakuannya yang menurut Leetuk adalah yang terbaik tapi sepertinya tidak bagi Eunhyuk.

“awalnya aku merasa itu adalah hal yang benar, tapi semakin lama justru itu akan menjadi boomerang yang siap berbalik menyerang kita… karena itu, sekarang aku mulai mempercayai Kyuhyun. Aku tetap memantaunya namun dengan cara yang sewajar mungkin. Aku ingin membuat kedua adikku nyaman dengan didikanku, tanpa perlu mengorbankan kebahagiaan mereka,”

 

Leeteuk menghela napas, tangannya yang tadi terangkat hendak menyentuh knop pintu perlahan turun dan terjuntai di samping tubuhnya. Ia dongakan kepalanya dan menatap langit-langit lorong apartemennya seraya bergumam pelan.

“sepertinya aku tak akan punya kesempatan untuk membuatnya merasa nyaman Ahra-ya…”

Dan kini tampaknya Park Joong Soo telah membuat sebuah keputusan, meski sedikit ragu. Akhirnya ia membuka pintu apartemennya. Melangkahkan kakinya hingga pandangannya bertemu dengan sebuah punggung yang tengah terduduk membelakanginya.

“Eunhyuk-ah,” panggilnya pelan.

Sang pemilik nama berbalik dan menemukan Leeteuk disana, berdiri dengan senyuman Lembut yang membuat remaja berusia tujuh belas tahun itu mengerutkan keningannya.

“ada yang ingin aku bicarakan…”

.

.

Sepasang kaki itu berjalan tertatih di bantu dua buah kruk di sisi tubuhnya, meski kesulitan ia tak mengeluh dan tetap melakukannya seorang diri. Dengan perlahan ia menggerakan kakinya beserta kruknya di atas lantai agar tak menimbulkan suara barang sedikitpun.

Seharian ini ia sudah cukup mengerjai Kyuhyun dan bahkan hingga membuatnya menangis, melihatnya kini membuatnya sedikit merasa bersalah. Langkah seorang Kim Ki Bum yang tertatih menuju pada sebuah ranjang di samping ranjang miliknya. Meraih selimut yang terlipat itu dan menaikannya hingga ke dada seseorang yang kini tengah tertidur pulas.

Remaja berusia enam belas tahun tersebut mengulas senyum kecilnya, ia usap lembut surai dengan wangi mint itu dengan penuh kasih sayang. “Maafkan aku Hyun…” lirihnya.

Tak terganggu, yang di panggil tetap terlelap dalam tidurnya. “bagaimanapun dirimu aku akan tetap menyayangimu Hyun, senakal apapun dirimu aku tak keberatan untuk terus menjagamu… jadi, tetaplah seperti ini Hyun… aku menyayangimu…”

Seuntai kalimat manis itu Ki Bum tutup dengan sebuah kecupan di kening adik bungsunya. Lagi, ia usap surai Kyuhyun dengan penuh kasih sayang. Menutup malamnya yang sepi dengan sebuah kata, “selamat tidur…” yang terdengar bagaikan lullaby bagi siapapun yang mendengarnya.

“aku juga menyayangimu… selamat tidur, Bum-ah…”

.

.

END/TBC

Umbrella (Chapt. 8 – Dilemma)

sketch-1485359662801

Remaja dengan surai kecoklatan berdiri sambil melipat tangannya di depan sebuah gerbang sekolah dengan bangunannya yang bisa terbilang megah. Ini… Sekolah Seni Seoul, salah satu sekolah seni terbesar yang ada di Korea Selatan. Banyak idola hallyu yang merupakan lulusan sekolah ini, beberapa trainee dan artis di agensi milik ayahnya juga sekolah disini, dan ia berharap tidak bertemu dengan salah satu dari mereka hari ini. Semoga saja.

Dia, Kyuhyun dengan santainya berdiri disana tanpa mengindahkan pandangan aneh dari siswa sekolah tersebut yang melihatnya berada di sana dengan seragam yang berbeda. Tentu saja, Kyuhyun tidak bersekolah di sekolah ini. Ia akui ia suka musik, tapi baginya musik dan sekolah itu hal berbeda.

Musik adalah musik, ia menekuninya di luar lingkungan sekolah. sedangkan sekolah tentu saja belajar hal lain, ia suka eksakta karena itu ia memilih masuk ke sekolah umum di bandingkan kejuruan.

Lupakan mengenai sekolah dan musik bagi Kyuhyun. Tujuannya datang kesini adalah untuk menemui seseorang, seseorang dengan suaranya yang lembut bagaikan es krim. Seorang pemuda yang baru ia temui beberapa hari yang lalu dan berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tidak, tunggu sebentar ini bukan soal perasaan seseorang kepada orang lain. Tapi ini…

“Kim-” serunya namun suaranya tercekat tatkala melihat orang yang ia tunggu keluar dari area sekolah.

Bukan karena kedatangannya yang membuat ia urung memanggil nama siswa itu, akan tetapi tiga orang dibelakangnya yang datang dan merangkulnya akrab namun tampak mengintimidasi.

“…ryeowook…” lanjutnya dengan suara yang menghilang di ujung kata.

Kyuhyun yang tadinya akan menghampiri Ryeowook memutuskan untuk bersembunyi, ia melihat Ryeowook dari kejauhan. Mencuri dengar apa yang sedang mereka berempat bicarakan.

“kau sudah mengerjakan tugasku waktu itu, bukan? Kau ingat? Besok kita harus mengumpulkannya,” ujar salah seorang dari mereka sambil memainkan anak rambut Ryeowook dan memutar-mutarnya.

Ryeowook hanya diam, ia mengangguk sekilas memberi jawaban. Dua orang lainnya tersenyum nyinyir pada Ryeowook, tak jauh berbeda, mereka juga sama-sama memperlakukan Ryeowook tak kalah buruk dari temannya.

Seorang dari mereka menepuk-nepuk namja mungil itu hingga pipinya memerah dan sedikit meninggalkan bekas di sana, sedangkan yang lainnya merangkul atau kita bisa menyebutnya menjepit leher Kim Ryeowook?

Kyuhyun tak tahu, yang ia tahu adalah ini sama sekali tak benar. Mereka bertiga sudah melakukan intimidasi pada Ryeowook dan ia harus menghentikannya.

Namun ketika Kyuhyun hendak menghampiri mereka, di depan gerbang mereka justru mengambil jalan yang berbeda.

Remaja bersurai kecoklatan itu kebingungan, kemana ia harus pergi? Mengikuti ketiga haksaeng itu dan membuat perhitungan dengan mereka? Atau pergi mengikuti Ryeowook sesuai dengan rencana awalnya?

.

Remaja berperawakan mungil itu memasuki sebuah restoran keluarga yang menjual galbi, ia masuk ke area restoran yang lebih dalam dan tak lama kemudian ia sudah keluar kembali dengan seragam pelayan yang di gunakan oleh pegawai di restoran tersebut.

Sepasang manik menatapnya dari balik jendela, ia mencuri pandang ke dalam restoran. Memperhatikan kegiatan seseorang yang sejak tadi ia ikuti. “jadi kau juga bekerja disini,” monolognya sambil mengangguk-angguk paham.

“baiklah, aku akan menunggumu selesai bekerja saja Kim ryeowook,” lanjutnya sambil lalu menuju ke salah satu mini market yang berada tepat di sebrang jalan. Berhadapan dengan restoran tempat Kim Ryeowook bekerja.

.

Satu jam…

Pemuda itu masih betah duduk bersandar di depan mini market sambil memainkan ponselnya.

Dua jam…

Dua kaleng minuman bersoda lengkap dengan tiga bungkus snack berserakan di atas meja di depan remaja tersebut. Namun focus Cho Kyuhyun tetap pada satu arah saja, dia Kim Ryeowook yang tampaknya masih sibuk bekerja.

Tiga jam…

Kini ada satu cup mie instan yang tengah mengepulkan asap di atas meja di depannya, baiklah. Ini sudah pukul 7 malam. Dan itu berarti sudah waktunya makan malam. Sebenarnya ia ingin pulang, apalagi eomma sudah mengiriminya pesan dan memintanya segera kembali ke rumah karena beliau membeli jjangmyeon untuk makan malam mereka. Tapi sepertinya tekad bocah itu memang sangat besar, meski berat ia merelakan jatah jjangmyeon-nya di lahap sang ayah yang memang sama-sama pecinta jjangmyeon seperti dirinya.

Baiklah Cho Kyuhyun… demi harta karun milikmu kau harus bersabar, sabar…

Empat jam…

Kali ini remaja berusia enam belas tahun itu mulai terkantuk-kantuk, ia membaringkan kepalanya di atas meja sambil terus memperhatikan restoran- tidak bukan restoran, lebih tepatnya seseorang yang bekerja di restoran- harta karun miliknya. Kim Ryeowook.

Beberapa menit berlalu sejak hitungan jam ke empat Kyuhyun berada disana, pintu restoran terbuka. Mengantarkan seorang pria mungil keluar dari restoran tersebut. Namja itu membungkuk sopan dan mengucapkan selamat tinggal pada seorang ahjumma yang sepertinya pemilik restoran yang mengantarnya hingga ke muka jalan.

Kyuhyun yang melihatnya lekas beranjak, ia meraih ranselnya dan juga jas sekolahnya yang sudah ia lepas. Kakinya ia langkahkan terburu-buru mengejar Kim Ryeowook yang berjalan cepat beberapa meter di depannya.

Kyuhyun masih tetap mengikutinya, kini Kim Ryeowook memasuki jalanan yang tidak terlalu ramai, “jadi sekarang kau mau pulang…” tebaknya sambil memperpendek jaraknya dengan Kim Ryeowook.

Tapi sepertinya tebakan si jenius Cho salah kali ini, pemuda yang ia ikuti justru memasuki sebuah mini market. Kyuhyun menunggu di luar, mengira jika Ryeowook ke mini market hanya untuk membeli sesuatu. Tapi nyatanya tebakannya lagi-lagi salah.

Kini Ryeowook sudah kembali berganti pakaian, ia mengenakan rompi berwarna biru tua. Seragam pegawai di mini market tersebut.

Kyuhyun tampak berpikir, ia mengangkat jari tangannya. Melipat ibu jarinya sambil berujar, “mengantarkan susu dan Koran,”.

Lalu jari telunjuknya menjadi yang kedua ia lipat, “pelayan di restoran galbi,”.

Dan selanjutnya yang ketiga adalah jari tengahnya yang turut ia lipat seperti ibu jari dan juga telunjuknya, seraya bergumam, “pegawai mini market,”

Ya, Kyuhyun menghitung pekerjaan paruh waktu apa saja yang sudah Ryeowook lakukan dalam satu hari. Dan ini membuatnya sulit untuk percaya. Kim Ryeowook bekerja di tiga tempat dalam satu hari? Apakah ia gila?

Seperti yang ia lakukan tadi, sekarangpun ia memutuskan untuk menunggu Ryeowook. Dan ternyata sama seperti di restoran, pria mungil itu juga bekerja disini selama empat jam.

Kyuhyun melirik jam tangannya yang melingkar di lengan pucatnya, “sekarang sudah lewat tengah malam, sepertinya tak mungkin ia pergi bekerja lagi,”

Si putra mahkota JeHa Ent. Itu duduk berjongkok, lagi-lagi mencoba bersembunyi dari Kim Ryeowook yang keluar dari mini market dan berjalan ke arah jalanan yang lebih sepi. Ia simpulkan itu arah menuju rumahnya. Ya, mungkin begitu.

Tidak mengikuti Kim Ryeowook, Kyuhyun memutuskan untuk masuk ke dalam mini market dan membeli sesuatu yang sebenarnya tak penting, ia masuk hanya untuk bertanya kepada seseorang yang ia yakini sebagai manager mini market mengenai Kim Ryeowook.

“semuanya jadi berapa?” Tanya Kyuhyun ramah.

“3000 won, kau membutuhkan kantong plastic?” tanya pegawai mini market tersebut.

Kyuhyun menggeleng sambil mengangsurkan uangnya, ia menelan salivanya sesaat. Bersiap memulai percakapan. “Chogiyo…”

Pegawai mini market mendongak mendengar panggilan Kyuhyun, “ya, ada yang bisa aku bantu?” tanyanya ramah.

Kyuhyun tersenyum canggung, meski sedikit ragu akhirnya ia memantapkan hatinya untuk menanyakan soal Ryeowook. “mmm, begini… pegawai yang tadi kau gantikan, Kim Ryeowook…”

“apakah kau mengenalnya cukup baik?” Tanya Kyuhyun.

Pegawai mini market menautkan alisnya, “nuguseyo?” tanyanya balas bertanya.

“eoh, aku temannya Ryeowook. Begini… aku baru berteman dengan Ryeowook dan awalnya aku tidak tahu mengapa sulit sekali mengajaknya bermain, dan aku baru mengetahuinya sekarang… ternyata Ryeowook punya cukup banyak pekerjaan part time…”

Pegawai mini market mendesah, ia menghembuskan nafasnya kasar. “aku senang ternyata Ryeowook memiliki teman yang perhatian sepertimu,” ujar pegawai mini market tersebut sambil tersenyum tulus.

Ia mengangsurkan uang kembalian kepada Kyuhyun sambil berkata, “aku sudah mengenalnya satu tahun terakhir sejak ia memulai bekerja disini. Di usianya yang semuda itu ia harus membiayai kehidupan nenek dan juga adiknya, belum lagi ia harus mempertahankan prestasinya di sekolah agar beasiswanya tidak di cabut. Hah… anak yang malang, aku tidak tahu bagaimana ia bisa menjalani semua ini,”

Kyuhyun tercenung mendengarkan penuturan yang terasa menohok hatinya itu, kenyataan yang sebelumnya tak pernah ia sangka akan ia temui dalam kehidupan nyata.

Kim Ryeowook… kenapa hidupmu bak sebuah drama?

 

.

 

Pemuda dengan manik caramelnya itu termenung di atas kursi taman di dekat pusat kota, tangannya saling bertaut di atas lututnya. Ia berada disana seorang diri, memikirkan tentang masalah baru yang di dapatnya beberapa saat yang lalu.

Beberapa kali ponselnya bergetar, entah itu pesan masuk atau panggilan telepon. Ia tak menggubrisnya, ia seolah tak sadar kalau ini sudah lewat pukul satu malam. Pantas jika ponselnya terus berdering, mungkin itu eomma atau appanya. Ia tak memperdulikannya sekarang.

Yang ia lakukan hanya terus memutar otaknya, mencari solusi terbaik yang bisa ia tawarkan kepada Kim Ryeowook nanti. Karena ia tahu, tanpa menanyakannyapun Kim Ryeowook pasti akan menolak tawarannya jika itu tak bisa menjadi solusi untuk semua permasalahan bocah mungil itu.

Tapi apa? Apa yang harus ia lakukan?

Memberinya nilai kontrak yang besar? Tidak, iya yakin Ryeowook pasti akan menolaknya mentah-mentah. Lagipula, nilai kontrak setiap trainee haruslah sama. Meski ia sangat menginginkan Kim Ryeowook, tetap saja ia harus memperlakukannya dengan adil dan setara dengan yang lainnya.

Lalu apa?

Ia sungguh tak bisa menemukan jalan terbaik yang bisa ia ambil, semuanya serasa buntu baginya.

Cho Kyuhyun, dengan jemari kurusnya ia memegang kepalanya. Menumpukannya pada lututnya yang terlipat. Remaja berusia enam belas tahun itu tertunduk dengan wajah yang ia palingkan ke arah kiri, menatap jalanan sepi yang hanya ditapaki oleh seorang pejalan kaki saja.

Mungkin pria itu juga dalam keadaan yang sama dengannya, dilemma dan kebingungan. Terbukti, ia bahkan berani merokok di tempat umum. Sayang sekali, postur tubuhnya yang bagus harus di rusak dengan sepuntung rokok. Apalagi wajahnya itu, walaupun cahaya temaram ia bisa melihatnya cukup jelas. Pria itu tampan…

Tiba-tiba saja si bungsu Cho itu mengangkat kepalanya tegap, memicingkan matanya mempertajam penglihatannya. Dia yang berjalan kearahnya, wajah pria itu tampak tak asing baginya. Bukankah dia…

Kyuhyun beranjak dan melangkah setengah berlari menghampiri pria tersebut, ia yakin ia tak salah mengenali orang. Jadi, bukankah kau harus menyapa orang yang kau kenal ketika kalian tak sengaja berpapasan?

“Annyeonghaseyo Siwon-ssi!” sapa Kyuhyun tiba-tiba sambil memasang wajah manisnya.

Pria yang ia sapa terperanjat, refleks ia lempar puntung rokoknya keatas tanah dan menginjaknya. Mematikan asap beracun dari benda itu yang masih mengepul pekat.

Kyuhyun hanya memandang tindakan Siwon tanpa memberi komentar, ia mengulas senyumnya ramah. Bibirnya tersungging lebar namun dengan tatapan yang cukup tajam mengarah kepada seorang Choi Siwon yang tak sengaja ia temui di tempat yang tak terduga.

Tanpa berkata apapun Siwon cepat berbalik hendak meninggalkan Kyuhyun, ia yakin jika sedikit lebih lama saja dirinya berhadapan dengan anak itu, pendiriannya pasti akan goyah. Dan itu tak boleh terjadi.

Siwon siap melangkahkan kakinya, akan tetapi sebuah tangan menarik lengan kekarnya cukup kuat. Membuat Siwon kembali berbalik dan melempar tatapan tak suka.

Tapi tampaknya Cho Kyuhyun tak peduli, ia tetap tersenyum manis dan justru melompat kecil menghalangi jalan Siwon, mencegat putra sulung keluarga konglomerat itu.

“wah, aku tak menyangka bisa bertemu dengan Siwon-ssi dalam situasi yang…” tak lekas menuntaskan kalimatnya, Kyuhyun melihat sepuntung rokok yang teronggok tepat di samping kaki Siwon, “… menarik,” komentarnya sambil terus memandang Siwon.

Namun tak begitu dengan Siwon, ia membuang muka. Melihat kearah lain dan menghindari tatapan tajam Kyuhyun, sebuah tatapan yang entah mengapa terasa begitu mengintimidasi baginya.

“Siwon-ssi karena Tuhan sudah mentakdirkan kita untuk bertemu malam ini, tidakkah lebih baik jika kita menikmatinya barang sebentar saja?”

Siwon menghindar, ia mundur satu langkah menjauh dari Kyuhyun. Namun putra bungsu pemilik JeHa Ent. Itu tampaknya tak menyerah, ia justru ikut melangkah mengikuti Siwon, menggamit lengan kekar lawan bicaranya itu dan membawanya duduk di kursi taman yang tadi ia duduki.

Dengan tatapan tak suka Siwon menghempaskan tangan Kyuhyun, “sebenarnya apa yang kau inginkan Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun menggedikan bahunya, ia tertawa ringan. “santailah saja Siwon-ssi, jangan terburu-buru. Oke?”

Tak perduli, Siwon acuhkan Kyuhyun yang sepertinya akan memulai ocehannya. Baiklah, mungkin tak ada salahnya ia mendengarkan ocehan anak itu sebentar saja.

“bagaimana kabarmu Siwon-ssi?” Tanya Kyuhyun membuka pembicaraan, terlihat sekali apa yang Kyuhyun katakan ini hanya sekedar basa-basi belaka.

Enggan, Siwon tak menjawab pertanyaan klasik Kyuhyun itu. ia hanya terus membuang mukanya dan tak memperdulikan keberadaan Kyuhyun.

Sementara Kyuhyun ia tak menyerah, ia tetap berusaha mengajak Siwon bicara. Namun kali ini topiknya berubah, Kyuhyun pikir ia tak boleh membuang-buang waktu lagi. Tipe orang seperti Choi Siwon pasti tak akan mudah terpengaruh hanya dengan obrolan-obrolan kecil. Ia harus langsung pada intinya.

“Siwon-ssi, apa kau suka bernyanyi?”

Siwon tersentak, namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya karena sebuah pertanyaan yang mungkin orang pikir itu bukanlah apa-apa. Tapi nyatanya dampaknya sungguh berbeda untuk dirinya, untuk seorang Choi Siwon.

Kyuhyun menyeringai kecil melihat respon yang Siwon tunjukan, sepertinya ia berhasil menarik perhatian Siwon. Baiklah, sekarang kita lihat bagaimana respon Choi Siwon untuk yang satu ini.

Kyuhyun menyandarkan tubuhnya santai, ia menepuk-nepukkan jemarinya pada lututnya. Membuat sebuah ketukan sederhana. “aah, seharusnya aku tak perlu bertanya iyakan? Karena aku tahu, Siwon-ssi sangat suka bernyanyi dan menari,”

Kali ini Siwon benar-benar mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun, menatap anak itu dengan tatapan penuh selidik.

“oh dan satu lagi, nilai-nilaimu saat di Sekolah Seni Seoul juga bagus. Memang bukan yang terbaik, tapi aku yakin Siwon-ssi punya bakat. Tapi pertanyaanku yang sebenarnya…” menggantung, lagi-lagi Kyuhyun menggantung kalimatnya membuat Siwon menanti kelanjutan kalimat itu dengan degupan jantungnya yang kian mengeras.

“pada pentas seni akhir semester… mengapa saat itu kau tidak datang dan membuat penampilan dari kelasmu gagal? Apakah terjadi sesuatu?”

Siwon menelan salivanya, ia memandang Kyuhyun tak percaya. “Kyuhyun-ssi, darimana kau tahu semua itu?”

Sekali lagi Kyuhyun menggedikan bahunya menanggapi pertanyaan Siwon, “tak penting darimana aku mendapatkan semua informasi itu, tapi yang jauh lebih panting dari semua itu adalah… bahwa aku masih tetap pada niat awalku, aku… ingin mendebutkanmu,” ujarnya penuh percaya diri.

Putra tuan Choi itu tercekat, namun ia tetap melempar tatapan sinis pada Kyuhyun seraya berdecak meremehkan. “jadi kau ingin tetap mendebutkanku?”

Kyuhyun menganggukan kepalanya yakin, lalu ia miringkan kepalanya sambil tetap memasang senyumnya.

Sementara Siwon terkekeh, ia beranjak dari duduknya. “kalau begitu, bersiaplah untuk kehilangan investasi dari KH Corp. di perusahaan ayahmu itu,” ujarnya seraya berlalu meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun tercenung mendengar pernyataan Siwon, namun tak lama kemudian ia terkesiap dan buru-buru berlari mengejar Siwon. Meraih lengan jaket Siwon dan memasukan sesuatu kedalam sakunya.

Pewaris KH Corp. itu terperangah menyaksikan sikap Kyuhyun yang tampaknya masih tetap kukuh pada pendiriannya, anak itu benar-benar keras kepala.

Akhirnya Siwon berlalu meninggalkan Kyuhyun, ia memasukan tangannya ke dalam saku jaketnya. Melihat benda apa yang anak itu masukan ke dalam sana.

Ternyata sebuah kartu nama, kartu nama atas nama Cho Kyuhyun dan juga deretan angka yang merupakan nomor telponya.

“berhentilah merokok dan jaga suaramu! Ingatlah tahun depan kau akan debut! Ingat itu Choi Siwon!”

Mendengar teriakan nyaring itu tanpa terasa senyuman kecil terukir di bibir Choi Siwon, namun itu tak bertahan lama. Dalam sekejap, senyum itu sirna. Tergantikan dengan tatapan kosong yang menyiratkan sebuah ketakutan.

Sementara sepeninggal Siwon, Kyuhyun menghembuskan napasnya kasar. Tangan pucatnya yang kurus naik meraih keningnya, memijatnya perlahan mencoba menghilangkan ketegangan disana. Kini ia tahu alasan kenapa Siwon memutuskan untuk pindah sekolah.

Choi Siwon, ia pasti mendapat ancaman yang sama dari ayahnya seperti yang ia dapatkan dari Siwon baru saja. Apalagi setelah mengetahui dari Jaejoong hyung kalau KH Corp. merupakan investor terbesar di yayasan Sekolah Seni Seoul. Mendapati semua ini, tampaknya Kyuhyun mulai di landa dilemma.

Antara mewujudkan mimpi Choi Siwon atau menghindari hal-hal tak di inginkan yang dapat mengganggu kelangsungan perusahaan milik ayahnya.

Ia harus membuat keputusan dengan segera.

.

.

TBC

maaf karena sangat pendek dan saaaaaaangaaaatttt lama 🙂

Thank You (Chapt. 13 B – She is Mine)

C360_2016-08-30-15-30-44-956

 

Ia benar-benar melakukannya bagaikan sungai yang mengalir, membiarkan perasaannya hanyut hingga ke hilir…

.

.

Tatapan sepasang manik coklat menembus kaca mata berbingkai hitam yang ia kenakan, melihat seseorang yang berjalan bersama disampingnya, bibir pemuda itu tak henti mengulum senyum seraya melantunkan seuntai kekaguman dan juga pujian dalam hatinya.

Pahatan tangan Tuhan yang paling sempurna batinnya. Dan lalu ia mulai meruntut apa saja keindahan yang ia lihat, rambut hitam yang terurai panjang, alis hitamnya yang tebal, bulu matanya yang letik, dan juga bibir mungilnya yang sewarna merah jambu. Cantik… cantik… cantik.

Ya, bahkan satu kata itu sama sekali tak cukup untuk menggambarkan dirinya, gadis di sampingnya. Nam So Hee… sang pujaan hati.

“Ki Bum!!”

Yang di panggil tersentak, ujung bibirnya tertarik seraya mengerjap. Ia tatap sang pelaku yang membuatnya terkejut, seorang gadis yang tengah melipat tangan di dadanya sambil memasang wajah cemberut.

“kau tidak mendengarkanku?” tanyanya kesal diikuti dengan gerutuan-gerutuan kecil dari bibir mungilnya.

Ki Bum tak lekas menjawab, lagi ia hanya tersenyum dan lalu menaikan alisnya –mengerling- kepada gadis itu. “maaf,” katanya menyesal sekaligus mengaku kalau ia memang tak mendengarkan apa yang gadis itu katakan.

Gadis dihadapannya berdecak, “memangnya apa yang kau pikirkan sampai melamun seperti itu?” tanyanya masih dengan nada yang sama.

Ki Bum menggeleng menyangkal, “tak ada,” katanya singkat.

“bohong!” ujar So Hee tak percaya. Ia berlalu meninggalkan Ki Bum dengan langkah yang sengaja ia hentakan keras di tanah.

“So Hee-ya! Tunggu!” seru Ki Bum mengejar So Hee yang berjalan beberapa langkah di depannya.

So Hee tak perduli, ia masih berjalan cepat dan mengabaikan Ki Bum yang mengejarnya. Bibirnya masih tetap mengerucut kesal sambil acuh berpura-pura tak mendengar panggilan Ki Bum. Kekasihnya sejak 48 jam yang lalu.

Ya, kekasihnya. Kalian tak salah dengar, Kim Ki Bum memang kekasihnya. Tepat 48 jam yang lalu mereka meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Kim Ki Bum dan juga Nam So Hee. Pasangan baru yang tersembunyi.

Sejujurnya, tak ada satupun yang tahu mengenai hubungan mereka. Karena banyak alasan mereka tak dapat mempublikasikannya. Mereka hanya takut, kelak jika terungkap hubungan ini akan menyakiti perasaan seseorang.

“Nam So Hee!” panggil Ki Bum sekali lagi. Kini ia tengah mencoba mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu, sementara So Hee tak perduli ia membuang muka kearah lain, enggan menatap Ki Bum.

“kau marah?” Tanya Ki Bum.

Tak ada jawaban, So Hee masih saja kukuh pada pendiriannya untuk mengabaikan Ki Bum.

“hey, maafkan aku…” katanya sambil terus mengekori So Hee. “baiklah… baiklah, aku memang sedang memikirkan sesuatu, jadi sekarang berbaliklah,” pinta Ki Bum menyerah pada akhirnya.

Entah pemuda itu sadar atau tidak, ia sudah berubah begitu banyak hanya dalam waktu dua hari. Pernahkah ia sadar kalau sebelumnya ia tak pernah bersikap seperti ini? Kim Ki Bum, hanya karena seorang gadis, ia bisa bersikap selayaknya remaja pada umumnya. Bukankah itu pencapaian yang sangat bagus?

Kali ini So Hee menurut, ia berhenti namun masih enggan berbalik. “kalau begitu, katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya sambil membelakangi Ki Bum.

Senyum Ki Bum mengembang, ia berlari kecil kehadapan gadisnya. “kau benar-benar ingin tahu?” Tanya Ki bum menggoda So Hee.

So Hee mengangguk pasti membenarkan, “tentu saja! aku ingin tahu! Apa yang kau pikirkan?”

Ki Bum tersenyum jahil, senyuman langka yang hampir tak pernah terlihat di bibir si tengah Kim itu. “aku… memikirkanmu,”

Mendengar pengakuan Ki Bum tanpa terasa pipi gadis cantik itu merona. Ia tak tahu kalau Ki Bum bisa mengatakan hal-hal menggelikan –namun ia suka- semacam ini. Kim Ki Bum, orang yang mampu menarik perhatiannya karena auranya yang dingin, tapi ketika kau mengenalnya lebih jauh… ia tak ayal layaknya segelas coklat panas. Manis dan mampu menghangatkan.

“a- apa… yang kau katakan Ki- Ki Bum-ah?!” seru So Hee tergagap.

Ki Bum hanya tertawa melihat reaksi So Hee yang menurutnya tampak lucu itu. sesaat ia tatap sepasang bola caramel milik Nam So Hee, perlahan tangan kanannya terulur, meraih jemari So Hee yang terjuntai bebas disamping tubuhnya.

So Hee mengerjap ketika merasakan tangan Ki Bum yang meraih tangannya, “maaf, karena aku kita harus menyembunyikan hubungan ini dari semua orang…” tutur Ki Bum tiba-tiba.

Nam So Hee terdiam, ia memandang Ki Bum dengan tatapan sendu.

Dan lalu gadis itu menggeleng, menolak pernyataan kekasihnya Ki Bum. “aniyo, ini bukan karenamu. Ini memang kesepakatan kita, mungkin memang sebaiknya seperti ini, kita tahu apa alasannya Ki Bum-ah…”

Ki Bum mendongak, membalas tatapan teduh gadis di hadapannya. “terimakasih karena sudah memahami situasiku,”

“sama sepertimu, aku juga sangat menghargai perasaan Kyuhyun. Karena alasan itu… kita memang harus menjalaninya seperti ini terlebih dahulu bukan?”

Keduanya kini saling melempar pandang, senyuman terukir di bibir masing-masing. Mencoba menata kembali perasaan yang sebelumnya terasa sedikit menyesakan karena kenyataan bahwa hubungan mereka mungkin akan tetap seperti ini hingga batas waktu yang tak mereka ketahui.

Kini sepasang remaja itu melanjutkan kembali langkahnya dengan jemari mereka yang saling berpaut. Saling menyalurkan perasaan masing-masing yang terlihat jelas namun sesungguhnya masih terasa abstrak.

Sebuah perasaan yang tak dapat di jelaskan, namun bisa di wakilkan dengan hanya satu kata saja. Cinta…

.

.

Suara televisi mendominasi pendengaran ketiga orang yang sedang berada di ruang keluarga. Ketiga orang anggota keluarga Kim itu tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Si sulung Kim Ahra dengan tumpukan buku sumber untuk tugas makalahnya lengkap dengan laptop dan beberapa alat tulis lain yang berserakan di atas meja, sementara Ki Bum dan Kyuhyun tengah sibuk dengan smartphone masing-masing. Terutama Kyuhyun yang terus tersenyum-senyum sendiri entah karena apa.

“noona,” panggil Kyuhyun pada sang kakak, Ahra bergumam tak jelas memberi tanggapan tanpa melihat sedikitpun kearah Kyuhyun.

Melihat noona-nya yang tak merespon dengan baik, akhirnya Kyuhyun tepuk bahu Ahra minta perhatian. Mau tak mau, gadis berusia dua puluh satu tahun itupun berbalik. Ia lirik Kyuhyun melalui ujung matanya.

“ada apa Kim Kyu?”

Kyuhyun tak lekas menjawab, ia melemparkan senyuman manis kepada Ahra seraya mengangsurkan smartphone-nya meminta Ahra untuk melihatnya.

Awalnya gadis itu menautkan alisnya tak mengerti, namun tak urung ia ambil juga smartphone milik sang adik terkecil. Menatap layar berukuran 5 inch itu dengan tatapan bingung yang lalu ia tujukan pada sang adik.

Ahra menatap Kyuhyun minta penjelasan.

Lagi-lagi hanya diam, cukup dengan memperlihatkan sedikit senyuman malu-malunya pada Ahra. Tanpa memberi penjelasan apapun, Ahra seolah menyadari apa yang ingin di katakana adiknya

“cantik,” puji Ahra tiba-tiba sambil sesekali kembali melihat ke layar ponsel milik sang magnae.

Setelahnya ia angsurkan ponsel tersebut pada pemiliknya sambil diikuti dengan cubitan kecil di lengan Kyuhyun, Kyuhyun memekik namun ia tetap tersenyum. Senyuman malu-malu yang terasa menyenangkan ketika kau melihatnya.

“siapa namanya?”

Kyuhyun masih saja tersenyum, ia menggerakan dagunya menunjuk Ki Bum yang tampaknya tak peduli dengan obrolan kedua saudaranya. Mencoba melemparkan pertanyaan dari sang kakak tertua pada hyung satu-satunya.

Kini Ahra mengalihkan tatapannya pada Ki Bum, “Kim Ki kau tahu siapa namanya?”

Tampak tak tertarik namun Ki Bum akhirnya memberi respon juga dengan kerlingan singkat pada alisnya, “nama siapa?” katanya belum mengetahui topic obrolan adik dan juga kakak sulungnya.

Tanpa berkata apapun Kyuhyun memperlihatkan layar smartphone nya pada Ki Bum, menampilkan potret seorang gadis dengan seragam berwarna coklat muda, rambutnya terurai panjang menutupi kedua telinganya.

Gadis itu…

“kau tahu namanya Kim Ki?” Tanya Ahra sekali lagi.

Ki Bum mengerjap, ia terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk penuh keraguan. “aku… tahu noona,” ujarnya pelan.

Ahra tersenyum sumringah, ia senang ternyata kedua adiknya saling terbuka satu sama lain bahkan mengenai seorang gadis sekalipun. “… jadi, siapa namanya? Dia cantik dan sepertinya juga baik,”

“dia memang cantik dan baik!” kata Kyuhyun tiba-tiba menimpali seraya menatap kearah Ki Bum.

Ki Bum mengangguk ragu ikut membenarkan, “ne, dia gadis yang baik… dan nama siswi itu… Nam So Hee,”

.

.

Pukul empat sore, di sebuah café yang terkenal dengan chesse cake nya yang sangat enak. Suasana café cukup ramai hingga hanya menyisakan sedikit meja kosong saja, ada beberapa pasang remaja yang masih mengenakan seragamnya tampak bercengkrama begitu akrab. Ada pula sebuah keluarga kecil dengan sepasang ibu dan ayah juga seorang gadis cilik yang tengah menceritakan sesuatu dengan penuh semangat kepada kedua orang tuanya.

Suasanya sungguh menyenangkan, semua yang ada di café tersebut tampak bahagia. Membuat seulas senyuman terkembang di paras rupawan seorang pria dengan rambut kecoklatan dan juga lesung pipitnya yang amat manis itu.

Tak ubahnya mereka, dirinyapun juga bahagia hari ini. Bagaimana tidak? Hari ini ia akan bertemu dengan pujaan hatinya. Gadisnya yang seolah selalu memenuhi relung hatinya.

Masih tetap memperhatikan suasana café, pria tersebut –Leeteuk- sesekali melihat kearah pintu mengantisipasi andai saja gadisnya datang maka ia akan segera menyambutnya. Terdengar berlebihan? Ia tak peduli.

Lonceng pintu masuk café berdenting tanda bahwa ada seseorang yang membuka pintu tersebut, Leeteuk mengubah posisi duduknya menjadi tegap. Melihat kearah pintu sekiranya siapa yang datang, mungkin saja itu gadisnya bukan?

Dengan penuh antusias Leeteuk siap menyambut Kim ahra, namun ternyata apa yang ia lihat tidak sesuai dengan harapannya. Dia yang datang itu memang seorang Kim, tapi dia bukan Kim Ahra. Dia… Kim Ki Bum?

“Ki Bum?” gumam Leeteuk melihat dua orang yang baru saja masuk ke dalam café tersebut.

Dahinya berkerut melihat salah satu adik dari pujaan hatinya yang datang ke café ini dengan seorang gadis. Melihat dari seragamnya, tampaknya mereka dari sekolah yang berbeda.

Leeteuk menundukan kepalanya, mencoba menyembunyikan diri agar Ki Bum tak dapat melihatnya. Kini ujung bibirnya terangkat kecil. Ia tersenyum mendapati adik dari kekasihnya telah mengenal ‘cinta’. Ia memang hanya menduga, tapi melihat interaksi mereka berdua, melihat bagaimana Ki Bum membukakan pintu untuk gadis itu, lalu memesankan minuman dan bahkan menyiapkan kursi untuknya. Bisa ia simpulkan bahwa keduanya sedang dalam hubungan yang istimewa.

“oppa?”

Leeteuk tersentak, ia cepat menengadahkan kepalanya dan mendapati Kim ahra yang melihatnya dengan kebingungan. Ia tarik lengan Ahra agar segera duduk di hadapannya, masih mencoba menyembunyikan diri. Leeteuk melambaikan tangannya meminta Ahra ikut menunduk dan mendekatkan kepalanya.

‘wae?’ Tanya Ahra tanpa suara, ekspresinya menunjukan kalau ia tak mengerti dengan sikap Leeteuk yang sangat aneh itu.

Namun tak urung ia turuti keinginan Leeteuk, ia ikut menunduk dan mendekatkan kepalanya pada Leeteuk.

“Lihat kearah kananmu,” bisik Leeteuk tepat di depan telinga Ahra.

Ahra masih tetap tak mengerti namun ia patuh dan melihat kearah kanannya, matanya memicing melihat punggung dengan seragam yang amat ia hapal tengah membelakanginya. Belum selesai sampai disana, penglihatannya ia alihkan pada seorang lagi dengan rambutnya yang terurai dan juga seragam berwarna coklat muda yang ia kenakan. Gadis itu… Ahra mengenalnya. Bukankah, itu Nam So Hee?

Alis Kim Ahra saling bertaut, jika itu Nam So Hee. Lalu siswa yang sedang bercengkrama dengannya itu… dia dengan seragam yang serupa dengan adik kembarnya. Dia… Ahra yakin dia bukan Kyuhyun, gadis itu hapal betul bagaimana perawakan adik bungsunya yang tinggi dan kurus. Dan ia juga hapal betul dengan perawakan siswa yang duduk bersama Nam So Hee itu. Tinggi yang dibawah Kyuhyun, dan juga ukuran tubuhnya yang kecil namun tampak berisi.

“Kim Ki…”

“kau bisa mengenalinya walaupun hanya melihat punggungnya ternyata, kau benar Ahra itu Ki Bum. Sepertinya gadis itu pacarnya, mereka tampak akrab.” Jelas Leeteuk sambil melihat sepasang remaja itu.

Berbeda dengan Leeteuk yang nampak sangat antusias, Ahra justru memperlihatkan ekspresi yang berlawanan. Ia terdiam cukup lama, wajahnya tak menunjukan raut apapun. Sejujurnya ia tak tahu bagaimana ia harus bersikap. Bagaimana ia harus menghadapi dan menyikapi semua ini.

Entah bagaimana, ia yakin ini akan menjadi masalah kedepannya. Dan ia tak ingin itu terjadi, tapi apa yang harus ia lakukan? Ia bingung dan ia sungguh tak tahu.

Eomma… jika eomma ada dalam posisi yang sama denganku, apa yang akan eomma lakukan? Eomma deowajuseyo… jebal…

.

.

Rumah keluarga kecil Kim terasa sepi malam itu, hanya terdengar sayup sayup suara gesekan dedaunan di luar sana yang di terpa angin musim gugur disertai cicitan burung dan juga suara ketikan dari keyboard laptop milik seorang Kim Kyuhyun.

Ya, malam ini Kyuhyun tengah berkutat dengan laptopnya –tugas sekolahnya- yang besok harus di kumpulkan. Berbeda dengan Kyuhyun yang tampak sibuk, Ki Bum justru santai-santai saja. Ia bersandar pada kepala tempat tidur sambil membaca buku yang tadi sore ia beli bersama… Nam So Hee.

Baiklah, katakan saja tadi sore ia habis berkencan dengan pacarnya itu. walaupun hanya sebentar, tapi baginya itu sangat menyenangkan. Pantas saja beberapa waktu lalu noona nya sangat sedih ketika ia tak mengizinkannya berkencan dengan Leeteuk hyung. Sekarang ia mengerti bagaimana rasanya itu.

“Ki Bum-ah!”

“hn?” gumam Ki Bum memberi jawaban.

“kau tidak mengerjakan tugas dari Yoo sonsaengnim?”

Tanpa melepaskan tatapannya pada buku, Ki Bum menjawab seadanya, “aku sudah selesai mengerjakannya tiga hari yang lalu,”

Kyuhyun menggerutu mendengar jawaban yang terkesan acuh itu dari Ki Bum, ia mendengus dan lalu kembali menatap ke layar laptopnya. Mengerjakan tugasnya yang ia akui memang sempat terbengkalai karena akhir-akhir ini ia terlalu sibuk memikirkan gadis yang ia sukai. Siapa lagi, tentu saja Nam So Hee.

“dasar menyebalkan, kenapa tidak mengingatkanku untuk mengerjakan tugas? Lihat saja semester ini aku yang akan mendapatkan peringkat pertama…” dan gerutuan Kim Kyuhyun itu terus berlanjut hingga menjadai umpatan-umpatan khas dari seorang Kim Kyuhyun.

Ki Bum yang mendengarnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya maklum, ia sudah terbiasa mendengar hal tersebut. Kyuhyun yang selalu menggerutu sambil mengumpat pada dirinya. Itu sudah seperti lagu lama dan ia tak harus memperdulikannya.

Tak lama getaran ponsel Ki Bum mengiringi gerutuan adik kecilnya yang belum juga usai, bahkan sekarang ia mulai menyebut hewan-hewan laut seperti ubur-ubur dan otak udang. Astaga Kim Kyuhyun.

Ki Bum meraih ponselnya, melihat pesan masuk yang terkirim dari nomor noonanya tercinta.

“Kim Ki, datanglah ke kamar utama… dan usahakan jangan sampai Kyuhyun tahu,”

Dahi Ki Bum berkerut, untuk apa Ahra memintanya datang ke kamar utama? Apakah ada sesuatu yang penting yang harus noonanya itu katakan?

Kini Ki Bum beranjak dari tempat tidurnya, melangkah menuju pintu kamarnya dan juga adiknya yang masih tetap menggerutu tanpa henti.

“… dasar kura-kura lelet, kepiting bau, cumi-cumi-”

“kalau aku cumi-cumi, berarti kau gurita.” Ujar Ki Bum seraya berlalu melewati Kyuhyun keluar dari kamarnya dan juga adiknya itu.

Mendengar Ki Bum membalas umpatannya, tentu Kyuhyun semakin kesal. Ia berteriak nyaring sambil terus mengumpat tanpa henti.

Membuat Ki Bum yang tengah meniti anak tangga tak kuasa untuk menahan senyumnya. Ya, sekali-kali membuat adiknya itu kesal tak apa bukan? Lagipula ini cukup menyenangkan.

Ki Bum sampai di depan kamar utama, ia mengetuknya sekali dan lalu memutar knop pintu dan masuk ke dalam. Melihat noonanya yang tengah duduk di meja kerja yang dulu sering kali appa gunakan.

“noona, aku datang,”

Ahra berbalik, senyuman kecil terpatri di bibir mungil gadis cantik itu. “eoh, kemarilah Kim Ki,” perintah Ahra seraya menepuk kursi yang tampaknya sudah ia siapkan tepat di samping tempat duduknya.

Tanpa berkata apapun Ki Bum menurut, ia berjalan menghampiri Ahra dan duduk di samping sang kakak. “ada apa noona memanggilku?” Tanya Ki Bum langsung.

Ahra tersenyum mendapat pertanyaan to the point dari salah satu adiknya itu. Ki Bum memang seperti ini, ia pribadi yang tegas dan tak suka bertele-tele, sangat berbeda dengan adik bungsunya Kim Kyuhyun.

Tampaknya gadis berusia dua puluh satu tahun itu mulai berpikir, menata kata-kata seperti apa yang sebaiknya ia utarakan pada Ki Bum untuk membicarakan permasalahan ini.

Perlahan jemari putih milik Ahra terangkat dan meraih surai halus Kim Ki Bum, ia mengusaknya lembut. Membuat Ki Bum merasa nyaman sekaligus tak faham dan bertanya-bertanya.

“wahh, kenapa aku baru sadar sekarang? Uri Kim Ki ternyata sudah besar,” kata Ahra sambil terus mengusap surai adiknya tersebut. Nada suaranya terdengar penuh kebanggaan.

Ki Bum sendiri tak berkata-kata, ia hanya diam dan menikmati setiap sentuhan yang Ahra berikan. Ahra memang tak sering melakukan ini padanya karena biasanya ia akan menolak, berbeda dengan Kyuhyun yang hampir setiap malam selalu membangunkan kakak sulungnya itu hanya untuk meminta di buatkan makanan dan tentu saja di manjakan.

“kau dan Kyuhyun sudah besar, kalian sekarang sudah beranjak menjadi anak remaja yang mulai memiliki kehidupan sendiri, keinginan sendiri, dan sesuatu yang kalian sukai…”

Ki Bum masih tak mengatakan apapun, ia mendengarkan dengan baik semua perkataan Ahra tanpa melewatkannya sedikitpun.

“melihat kedua adik kembarku yang punya banyak hal berbeda ini, yup… bahkan jika aku tak melihat wajah kalian, mungkin aku lupa kalau kau dan Kyuhyun kembar,”

Kali ini Ki Bum tersenyum, ia juga menyadari itu. Selain wajah mereka yang mirip sepertinya mereka tak memiliki sesuatu apapun lagi yang sama antara dirinya dan juga Kyuhyun. Baiklah, walaupun terkadang mereka memiliki sesuatu seperti telepati itu tetap saja tak terlihat. Yang terlihat jelas dari sikap dan sifat mereka, keduanya memang sangatlah berbeda.

“sejak awal kalian memang berbeda, dan aku tak pernah menyangka jika suatu hari kalian akan menyukai sesuatu yang sama,”

Nafas Ki Bum tertahan ketika mnedengar penuturan Ahra kali ini, sepasang maniknya yang kecoklatan menatap Ahra tajam. Ia menyadari maksud lain dari kalimat itu, tidak ini bukan wejangan biasa yang selalu Ahra berikan padanya. Dari awal ketika Ahra memanggilnya untuk datang ke kamar utama, ia sudah curiga kalau noonanya itu ingin mengatakan sesuatu. Dan sekarang itu terjawab.

“noona… sudah tahu?” Tanya Ki Bum tergagap dengan volume suaranya yang pelan dan nyaris seperti berbisik.

Salahkan otaknya yang terlalu cerdas, salahkan kepekaannya yang memang melewati batas. Ya, ia tahu kemana arah pembicaraan kakaknya itu.

Sementara Ki Bum menatap AHra dengan pandangan tak percaya, jemari gadis itu yang sejak tadi mengusak surai halus Ki Bum mulai turun dan lalu ia letakan saling bertautan dengan jemarinya yang lain di atas meja.

Ahra mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan Ki Bum yang lebih terdengar seperti cicitan, ia menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya membuka suara. “ne Kim Ki, noona sudah tahu-”

“dari mana noona tahu?” sambar Ki bum tak memberi kesempatan Ahra untuk melanjutkan kalimatnya.

Tak lekas menjawab, terlihat keraguan terpampang di paras cantik seorang Kim Ahra. “… tadi sore, noona melihatmu bersama So Hee di café,”

Ki Bum tersentak, jadi… Ahra noona melihatnya tadi sore?

“ke- kenapa noona tak menegurku?”

“jika aku menegurmu lalu apa yang akan kau katakan, Ki Bum-ie?”

Ahra benar, jika tadi sore Ahra menegurnya lalu apa yang akan ia katakan? Apakah ia kan berkata kalau ia sedang mengerjakan tugas dengan seorang teman? Atauka ia akan berkata kalau ia sedang berkencan denga gadis yang di sukai adiknya? Bukankah keduanya sama-sama tak masuk akal untuk di katakan?

“tanpa aku menjelaskannya… noona pasti sudah mengerti situasinya bukan?”

Ahra mengangguk, kini ia membalas tatapan bola mata milik Ki Bum. “ya, aku mengerti. Tapi tetap saja aku butuh penjelasan Ki Bum-ie,”

Ki Bum membuang wajahnya sekilas, “penjelasan seperti apa lagi yang ingin noona tahu? Semuanya sudah jelas bagi noona, bukan? Aku dan Kyuhyun menyukai gadis yang sama… gadis itu Nam So Hee, dan sekarang dia adalah pacarku,” jelas Ki Bum eksplisit dan terdengar penuh penekanan.

Ahra mencoba bersabar, meski ia tahu Ki Bum nampaknya mulai tak senang dengan topik pembicaraan ini. “ya, aku tahu itu Ki Bum-ie. Tapi apakah kau pernah memikirkannya? Maksudku, tidak kah seharusnya kau memikirkan akibat yang akan terjadi jika kau melakukan ini?”

“noona ingin aku mengalah pada Kyuhyun?” simpul Ki Bum tanpa banyak berpikir.

Ahra mendesah lelah, ia memejamkan matanya sejenak. “bukan itu maksud noona, tapi seharusnya kau membicarakan mengenai ini baik-baik dengan Kyuhyun. Jangan menyembunyikannya seperti ini, kau tahu? Semakin lama kau menyembunyikannya, maka ini akan semakin-”

“tolong biarkan aku menjadi egois kali ini saja noona, kali ini saja… aku tak ingin mengalah pada siapapun. Baik itu noona atau Kyuhyun sekalipun, aku-”

“dasar pengkhianat…”

Desisan dari arah pintu menghentikan pembicaraan Ahra dan Ki Bum seketika. Manik keduanya membola mendapati Kyuhyun yang membuka pintu dan berdiri sambil melipat tangannya.

“Kim Kyu…” cicit Ahra tertahan.

Sementara Ki Bum yang juga sama terkejut mencoba sebaik mungkin mengendalikan ekspresinya, ia mencoba untuk tetap menampilkan ekspresi dinginnya yang selalu terlihat.

Kyuhyun menyeringai sambil menatap tajam pada Ki Bum, “aku tak pernah tahu kalau saudara kembarku ternyata seorang pengkhianat, bahkan dia rela menusuk adiknya sendiri dari belakang. Mmmm, kalau begitu aku bisa menyebutnya musuh dalam selimut? Bagaimana menurutmu Kim Ki Bum?”

Hati Ki Bum tertohok mendengar kalimat menyakitkan itu, meski ia sudah menyiapkan hatinya jikalau Kyuhyun akan marah seperti ini. Tapi tetap saja, ia tak pernah siap untuk mendengarnya. Tidak sekalipun.

“Kyuhyun-ie, hentikan…” lerai Ahra sambil berlari kecil menghampiri adiknya.

Namun Kyuhyun seolah tuli, ia tetap berdiri disana dan menyeringai ke arah Ki Bum. “jadi Kim Ki Bum, bagaimana menurutmu? Apakah peribahasa tadi itu cocok aku sematkan pada saudara kembarku? ataukah itu masih belum cukup? lalu aku harus menyebut saudara kembarku apa lagi? Mungkin breng*** bagaimana menurutmu… pengkhianat?”

Dengan paksa Ahra tarik lengan Kyuhyun agar pergi dari mulut pintu kamar utama, meninggalkan Ki Bum yang terpekur seorang diri di kamar itu dengan penyesalan dan keangkuhan untuk memiliki Nam So Hee yang nyatanya tak luruh hanya karena kemarahan Kyuhyun.

Apapun yang terjadi, ia tak akan pernah melepaskan Nam So Hee. Itu keputasannya.

.

Ahra membawa Kyuhyun ke kamarnya. Menyeret pemuda jangkung itu sekuat tenaganya. Setelahnya ia tutup pintu rapat, membiarkan Kyuhyun tetap berdiri memunggunginya.

“Kim Kyu…” panggil Ahra pelan.

Kyuhyun tak memberi jawaban. Ia tetap berdiri membelakangi Ahra dengan kepala menunduk dalam.

“Kim Kyu berbaliklah,”

Tak ada jawaban, Kyuhyun tetap kukuh berdiri disana. Akhirnya dengan sekali hentakan, Ahra membalik tubuh Kyuhyun hingga berbalik menghadap padanya.

Gadis itu tersentak mendapati apa yang ia lihat. Kyuhyun-nya… Kyuhyun-nya yang tadi mengumpat dan memandang Ki Bum dengan tatapan tajam kini hanya mampu menunduk dengan lelehan air mata di kedua belah pipi pucatnya.

Terdengar isakan-isakan pelan dari remaja berusia enam belas tahun itu, bahunya bergetar menahan tangis yang nyatanya tak mau mendengarkan keinginnya. Air mata itu tetap jatuh begitu deras, membuat pandangannya mengabur dan berbayang.

Tanpa berkata apapun, Ahra mendekap tubuh tinggi itu erat. Mengusap punggung kurus adik terkecilnya yang terus bergetar.

“kenapa… ke- kenapa Ki- Ki Bum melakukan… ini … padaku…” ujarnya tersedat-sedat.

“Ki Bum hanya bingung, dia belum tahu apa yang seharusnya ia lakukan Kyuhyun-ie…” kata Ahra menenangkan.

Namun tampaknya itu tak memberi pengaruh yang besar, Kyuhyun masih terus menangis dalam dekapan Ahra. Mencurahkan rasa sakitnya yang tertahan di pundak gadis berperawakan mungil itu, di pundak sang noona, satu-satunya orang yang bisa ia percaya.

.

.

Hari-hari berlalu begitu saja, keadaan tak kunjung membaik antara Ki Bum dan Kyuhyun. Keduanya tak saling bicara bahkan mereka enggan untuk melempar pandang sekalipun.

Semuanya berjalan pada jalurnya masing-masing.

Kyuhyun dengan teman-teman musim panasnya, dan Ki Bum dengan kesibukannya bersama kubu-nya juga.

Baik di sekolah taupun di rumah keduanya bersikap sama saja seolah tak saling mengenal satu sama lain. membuat orang-orang di sekitar mereka khawatir dengan hubungan keduanya.

.

.

Di waktu yang sama dan di tempat yang sama pula, ponsel milik Ki Bum dan Kyuhyun bergetar hampir bersamaan, menampilkan sebuah pesan singkat dari seseorang yang meminta untuk bertemu di suatu tempat.

Salah satu diantaranya segera membalas dan mengiyakan, sementara yang lainnya tampak enggan meski pada akhirnya ia juga setuju untuk bertemu.

Ya. Tak ada salahnya bukan untuk bertemu dan menanyakannya? Ia harus tahu semuanya langsung dari mulut gadis itu. Nam So Hee.

Ia harus mendapat penjelasan.

.

.

Gadis dengan suari hitamnya yang terurai tengah terduduk seorang diri di salah satu sudut café itu, sekarang ia sedang menunggu kedua orang yang ia ajak untuk bertemu. Ia tak peduli jika nanti mereka marah padanya karena merasa di jebak, ia hanya ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin. ia tak ingin menjadi penyebab pertengkaran antara kedua orang yang sangat penting baginya. Keduanya memiliki tempat berarti di hatinya meski mereka belum lama saling mengenal.

“So Hee-ya?”

So Hee terperanjat, ia tersenyum membalas panggilan itu. “eoh, Ki Bum kau sudah datang?”

Ki Bum mengangguk, “apa kau menunggu lama?” tanyanya seraya melepas tas punggungnya.

So Hee menggeleng sambil tetap tersenyum, “tidak, aku juga baru sampai. Kau ingin pesan sesuatu?”

“kau sendiri belum memesan? Kau mau apa biar aku yang memesannya,” ujar Ki Bum perhatian.

So Hee menggeleng menolak tawaran Ki Bum, “nanti saja, ada satu orang lagi yang aku tunggu,”

Dahi Ki Bum berkerut, ia tak mengerti. Memangnya siapa lagi yang So Hee tunggu? Ia pikir So Hee ingin mengajaknya berkencan hari ini, tapi jika ada seorang lagi yang datang. Ini tak bisa di sebut berkencan, bukan?

“eoh, dia sudah datang!” seru So Hee sambil berdiri. Ki Bum melihat kearah kedatangan orang yang So Hee tunggu. Matanya terbelalak ketika melihat siapa yang datang. Dia…

“Kyuhyun!”

Kyuhyun berjalan angkuh ke meja tempat So Hee dan Ki Bum berada, ia tersenyum menatap So Hee dan melempar tatapan jengah pada kakak kembarnya. Ya, memang hubungannya dan So Hee tak berubah meski ia sudah tahu kalau ternyata So Hee berpacaran dengan Ki Bum di belakangnya. Ia tetap berteman baik dengan gadis itu, meski rasanya sulit, ia sama sekali tak ingin mencari musuh lagi di luar sana apalagi ini seorang wanita. Rasanya ia bukan lelaki jika memusuhi seorang wanita karena masalah seperti ini.

Tapi untuk masalah Ki Bum, jelas baginya ini berbeda. Seandainya saja Ki Bum mengatakannya sejak awal kalau ia juga menyukai So Hee, tentu ia akan menerimanya dan tak akan mempermasalahkan itu jika pada akhirnya So Hee memang memilihnya.

Ia tak akan menjadi seorang pengecut seperti apa yang Ki Bum lakukan sekarang, ia sungguh akan menerima keputusan So Hee dan membiarkan mereka berpacaran. Ia tak masalah jika memang ia kalah. Bukankah hidup memang seperti itu? tak selamanya kau harus selalu menang, ada kalanya kau harus mengecap apa itu kekalahan agar kau bisa mendapatkan pelajaran dari pengalamanmu itu.

“Kyuhyun duduklah,” pinta So Hee ramah.

Pemuda itu menurut ia duduk di samping So Hee dan berhadapan langsung dengan Ki Bum, keduanya sama-sama melempar pandang ke arah lain. Enggan untuk saling menukar tatapan sekalipun.

“kenapa kau tak bilang kalau ada orang ini disini?” Tanya Kyuhyun pada So Hee dengan menjadikan Ki Bum sebagai orang ketiga.

Ki Bum tak berkata apapun, ia tetap bersikap dingin seperti biasanya.

“pertama-tama…” So Hee buka suara, “aku ingin meminta maaf karena tak mengatakan kalau aku mengundang kalian berdua kesini,”

“kau memang harus minta maaf So Hee,” ujar Kyuhyun ketus.

“maafkan aku Kyuhyun, Ki Bum padamu juga. Aku meminta maaf…” kata So Hee mengulang kembali permintaan maafnya, “sekarang aku tak akan banyak bicara, aku tahu kalian tak saling bicara karena masalah yang melibatkanku-”

“bukan karenamu, ini karena dia,” potong Kyuhyun sambil menunjuk Ki Bum dengan dagunya. Menuduh Ki Bum kalau pemuda itulah yang merupakan sumber masalahnya.

“ya, tapi aku ada di dalamnya. Jika kita tak pernah bertemu mungkin hubungan kalian tak akan menjadi seperti ini,”

Ki Bum dan Kyuhyun terhenyak, keduanya siap-siap membantah. Namuan secepat mungkin So hee melempar pandangan kepada keduanya, meminta mereka untuk diam dan tak memotong kalimatnya.

“biarkan aku menyampaikan semua yang ingin aku katakan, jangan pernah ada yang memotong atau aku akan marah!” ancam gadis itu dengan suara yang meninggi.

Akhirnya Ki Bum dan Kyuhyun diam, mencoba menahan diri untuk tak berbicara dan berusaha mendengarkan apa yang ingin So Hee sampaikan.

“seperti yang aku katakan, sebenarnya masalah ini bersumber padaku. Oleh karena itu, aku ingin membuat semuanya kembali seperti semula. Terutama hubungan kalian sebagai saudara yang merenggang karena roman picisan yang kita alami bertiga,” jeda. So Hee menarik nafasnya panjang sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya.

“dan satu-satunya cara yang bisa aku lakukan- tidak, tapi satu-satunya cara yang terpikirkan olehku adalah, aku harus mengakhiri semuanya.”

Ki Bum dan Kyuhyun kembali siap memotong kalimat So Hee, namun secepat mungkin So Hee mencegahnya. Ia melanjutkan kembali kalimatnya tanpa memperdulikan dua saudara itu.

“aku… aku ingin mengakhiri hubunganku denganmu Ki Bum, dan Kyuhyun untuk saat ini aku juga tak ingin berhubungan denganmu. Dalam bentuk apapun…”

Keduanya terdiam, mereka terpaku tak tahu harus mengatakan apa. Sementara So Hee ia justru mengulum senyum dalam bibirnya. “mungkin ini memang bukan keputusan terbaik, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya. Aku harap hubungan kalian akan kembali seperti semula dan suatu hari nanti jika kita bertemu lagi, ayo kita memulai semuanya dari awal. Ayo kita berteman, dan anggap hari-hari ini tak pernah ada, bagaimana?”

“aku…” seperti biasa Kyuhyun menyambar kalimat So Hee tepat setelah kalimat itu tuntas. “aku- aku tak mempermasalahkan hubungan kalian berdua,” aku Kyuhyun tanpa menatap So Hee ataupun Ki Bum.

Ki Bum menatap Kyuhyun tak mengerti, namun ia tak bertanya. Ia hanya menunggu kelanjutan kalimat dari adik terkecilnya.

“aku- aku hanya tak terima Ki Bum mengkhianatiku, andai saja Ki Bum mengatakannya sejak awal kalau ia menyukaimu. Aku akan menerimanya, akan lebih baik untukku bersaing secara sehat dengan Ki Bum dari pada aku harus kalah sebelum berjuang. Kalian tahu? Rasanya memalukan sekali berada di posisi ini, seolah kalian mengasihanikau karena rasaku yang tak terbalas padamu So Hee,”

Ki Bum menggeleng kecil untuk menyangkal, “aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya tak ingin menyakitimu. Karena itu… aku tak jujur mengenai hubunganku dengan So Hee,”

“tapi caramu salah Kim Ki Bum! Kau pikir aku akan mati hanya karena patah hati, eoh? Aku memang tak sekuat dirimu, tapi aku tak selemah itu!”

Ki Bum terpekur, ia menunduk dalam menyadari kesalahannya. Ia sadar tak seharusnya ia memperlakukan Kyuhyun seperti itu, terlepas dari sikapnya yang egois untuk mendapatkan So Hee. Nyatanya ketika ia dihadapkan pada pilihan apakah ia harus memilih So Hee ataukah adiknya Kyuhyun. Pilihannya mutlak Kyuhyun, bahkan ketika kini ia melihat keduanya ada dihadapannya, yang ada di matanya hanya seorang saja. Kim Kyuhyun, Kim Kyuhyun, dan Kim Kyuhyun. Bukan yang lainnya.

“maafkan aku, Hyun…”

“seharusnya sejak awal kau minta maaf bodoh! Seharusnya sejak awal kau tahu kalau aku marah bukan karena kau berpacaran dengan So Hee! Aku marah karena kau tak mau jujur padaku, dasar kau menyebalkan Kim Ki Bum!!!”

.

.

So Hee berjalan keluar dari café, ia memasukan kedua tangannya kedalam saku seragamnya. Mungkin hari ini ia memang putus cinta, tapi entah mengapa ia merasa hari ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidupnya.

Bisa mempersatukan si kembar yang nyatanya keras kepala, rasanya ia sudah melakukan hal baik hari ini. Memang sulit tapi ia tak menyesal mengambil keputusan ini. Toh, jika memang berjodoh suatu saat nanti mereka bisa bertemu kembali.

Ini bukan masalah besar, ia tak kehilangan teman atau pacar. Ia hanya harus berpisah untuk sesaat dan ketika bertemu kembali ia bisa menjadi teman yang baik bagi keduanya. Ia hanya muncul di waktu dan tempat yang kurang tepat saja. Ia percaya itu, Tuhan pasti memiliki rencana yang lebih besar untuknya dan juga si kembar Kim di masa yang akan datang.

“So Hee!”

So Hee tersentak, namun tak urung ia tersenyum dan balas melambai pada seseorang yang memanggil namanya. “Ahra eonnie!”

.
.

Ahra berdiri bersandar di depan gerbang SMU seni Seoul, ia melihat setiap siswi yang berlalu dengan rambut hitam panjang. Menunggu dan tentunya mencari siswi yang ia maksud.

Beberapa saat ia menunggu, hingga akhirnya datang seorang siswi dengan earphone di telinganya. Bola mata Ahra membulat, ia menemukannya. Ia menemukan siswi dengan rambut hitam panjang yang ia cari.

“So Hee-ssi?”

Gadis yang Ahra panggil menghentikan langkahnya, ia melepas earphone yang ia gunakan. Membungkuk dalam dan bertanya dengan sopan. “nuguseyo?”

“namaku Kim Ahra, bisa kita bicara sebentar?”

.

.

Ahra membawa sekaleng minuman dan menyodorkannya pada So Hee, So Hee menerimanya dan lalu mengucapkan terimakasih.

“terimakasih, eonnie…”

“seharusnya aku yang berterimakasih padamu So Hee, terimaksih karena sudah membuat mereka berbaikan lagi,”

“aniyo, justru aku merasa bersalah karena sudah membuat mereka bertengkar. Sekarang aku merasa jauh lebih baik setelah menyelesaikan semuanya, oh ya. Tadi eonnie duduk di sebelah mana? Aku tak melihatmu, tapi aku melihatmu ketika sudah keluar dan ada di depan pintu,”

“aku bersembunyi dengan sangat baik, bukan?”

So Hee mengangguk antusias, “ne, aku bahkan tak bisa menemukanmu sama sekali,”

“So Hee, tadi aku mendengar semuanya. Maaf karena membuatmu harus putus dengan Ki Bum…”

“aniyo, ini bukan karenamu eonnie. Ini mutlak keputusanku, sejak pertama kali kita bicara aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Karena itu aku melakukan ini, lagipula kami masih sangat muda. Perasaan kami masih bisa berubah dengan mudah,”

Ahra tersenyum mendengar penuturan So Hee, gadis itu tampak sangat dewasa dari kelihatannya. Ia mampu menyikapi sebuah masalah dengan kepala dingin dan seolah tanpa beban.

“terimaksih So Hee…” ucap Ahra tulus.

“sudah aku bilang, eonnie tak usah berterimakasih. Tapi eonnie… bolehkah aku meminta satu permintaan padamu?”

“tentu, apa itu?”

“bolehkah suatu hari nanti aku berteman dengan Ki Bum dan Kyuhyun?”

Ahra tersenyum tulus mendengar permintaan polos dari remaja cantik itu. “tentu saja! tentu saja boleh So Hee, aku akan sangat senang kalau Ki Bum dan Kyuhyun mendapatkan teman yang sangat baik sepertimu,”

Mendapat persetujuan AHra, So Hee tersenyum bahagia. “terimakasih, eonnie…”

“terimakasih kembali, gadis cantikku Nam So Hee…”

 

END/TBC

 

Thank you? No romance 😊 jadi yang gak suka romance jangan khawatir ya, cerita gak akan melenceng pindah genre ko 😆

Thank You (Chapt. 13 A – She is Mine)

sketch-1471774062250

 

Note : setting waktu chapter ini dua minggu sebelum si kembar berkemah (Ursa Major)

“kau mau pergi kesekolah hari ini?”

Yang ditanya mengangguk pasti, ia beranjak dari duduknya dan menyambar tas punggung yang ada diatas meja belajarnya. “tentu saja, aku harus pergi ke sekolah hari ini,” ujarnya seraya berlalu meninggalkan kamar tidur miliknya dan sang kakak.

Ki Bum mengekori Kyuhyun. Ia memang diam, namun wajahnya nampak jelas memperlihatkan kekhawatiran dan juga ke tidak sukaannya pada keputusan Kyuhyun.

Baiklah, istirahat dua hari di rumah setelah Kyuhyun pulang dari rumah sakit mungkin itu cukup bagi orang lain, tapi bagi Ki Bum tidak. Setidaknya Kyuhyun harus istirahat satu atau dua hari lagi di rumah, dan setelah itu ia boleh melakukan aktivitasnya seperti biasa lagi.

Berlebihan? Ki Bum tak perduli, ia hanya ingin yang terbaik untuk adiknya. Apakah itu salah?

“Kyuhyun-ah, tak bisakah kau tinggal sehari lagi saja di rumah?”

Kyuhyun yang sudah duduk di ruang makan membalikkan wajahnya, ia mendelik tak suka mendengar permintaan Ki Bum. “Tidak bisa!” jawabnya tegas.

Tak berhenti sampai disana, Ki Bum mendudukan dirinya disamping Kyuhyun. Ia kembali mengungkapkan keinginannya agar Kyuhyun tak pergi ke sekolah, “satu hari lagi saja Kim Kyuhyun, bisakan?”

“tidak!”

“Kyuhyun-ah!”

“aku bilang tidak Kim Ki Bum! Aku mau sekolah!”

Sementara keduanya tengah beradu argument, disisi lain ruangan itu, Ahra tengah menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya maklum mendengar perdebatan Kim Ki dan Kim Kyu yang sudah ia duga akan terjadi.

Untuk saat ini Ahra akan membiarkannya, lagipula ia masih kerepotan untuk menyiapkan sarapan mereka. Akan tetapi, jika ini berlanjut dan mulai tak terkendali…

TRAAANNGGG!!

Kegiatan gadis berusia dua puluh satu tahun itu terhenti seketika, matanya mendelik malas . Astaga, mungkin jika isi hatinya ia ucapkan, bibirnya bahkan belum terkatup rapat, dan sekarang apa yang terjadi?

Ahra berbalik menatap kearah meja makan, tempat Ki Bum dan Kyuhyun duduk ‘manis’ menunggu sarapan buatannya. Disana, bisa Ahra lihat sendok dan sumpit berserakan diatas meja, dan Ahra yakin mereka adalah korban ‘kejahatan’ Kyuhyun.

Ya, pasti anak itu yang melemparnya dan menimbulkan keributan tadi.

Namun di luar dugaan Ahra, Ki Bum dan Kyuhyun masih tetap beradu argument tentang masalah yang sama. Mereka sama sekali tak terganggu dengan keributan yang mereka buat sendiri.

“Ya!! Kau harusnya mengalah karena aku adikmu, pabo!!”

“kau yang harusnya mengalah karena aku kakakmu!!”

“tidak mau!! Kenapa aku harus mengalah padamu??!!”

“karena aku kakakmu!!”

“kau hanya lebih tua lima menit dariku!!”

“tapi tetap saja aku kakakmu!”

“dan kau harus mengalah!!”

“kau yang ha-”

“DIAM!!!!!”

Teriakan Ahra menggelegar, Kim Ki dan Kim Kyu terdiam, keduanya saling melempar pandang sebelum akhirnya mengerut takut mendengar teriakan Ahra.

Kepala keduanya menunduk dalam, tak berani menatap manik sang kakak tertua yang membola dengan kilatan merah dimatanya. Astaga, Kim Ahra murka, ya kurang lebih begitulah isi hati si kembar Kim.

Ahra menatap Kim Ki dan Kim Kyu bergantian, matanya memicing tajam. Ekspresi wajahnya memang menampakan kemarahan, tapi siapa sangka kalau sebenarnya ia tengah tertawa dalam hatinya.

Ini bukan kali pertama Ahra melihat kedua jagoannya mengkerut takut hanya karena mendengarnya berteriak, tapi tetap saja, baginya mereka terlihat sangat lucu. Kyuhyun yang hoby berkelahi dan si dingin Ki Bum yang keras kepala, mereka berdua hanya akan kalah oleh dirinya.

Seorang wanita dengan tubuh kecil, dan suara cempreng yang… ya, memang lumayan keras. Bahkan Kyuhyun pernah berkata kalau suara teriakan Ahra bisa memecahkan kaca jendela. Dasar anak itu.

“kalian sudah selesai?” Tanya Ahra dingin pada kedua adiknya.

Ki Bum dan Kyuhyun kembali saling melempar pandang, dan dengan kompak menganggukkan kepalanya. Menjawab pertanyaan Ahra.

“bagus, sekarang diam dan jangan ada yang berbicara, mengerti?”

Lagi-lagi keduanya mengangguk tak berani membantah, bagi mereka perintah Ahra itu mutlak dan tak boleh dilanggar.

Kyuhyun hendak berdiri, tangannya ia ulurkan di atas meja. Dan tentu saja hal itu menarik perhatian Ahra.

“Bukankah aku sudah bilang untuk diam, Kim Kyuhyun?”

Kyuhyun menarik tangannya cepat, ia kembali menunduk dalam. “aku… aku hanya ingin ambil sendok dan sumpitku,” aku Kyuhyun dengan suaranya yang hampir tak terdengar.

Ahra melihat ke arah sendok dan sumpit milik Kyuhyun yang berserakan, ia mengatupkan bibirnya menahan tawa. Dengan susah payah ia berkata, “kalau begitu ambilah, dan setelah itu duduk manis dikursimu, mengerti?”

Belum sampai tangan Kyuhyun meraih sendok dan sepasang sumpit itu, dengan cekatan Ki Bum mengambilnya dan menyimpannya tepat di hadapan Kyuhyun tanpa berkata apapun.

Kyuhyun mencuri pandang pada Ki Bum, ia ingin berterima kasih tapi itu sama sekali bukan gaya seorang Kim Kyuhyun, bukan?

Sementara Ahra sudah berbalik, kembali berkutat dengan masakannya pagi ini dengan senyuman yang masih terpatri manis di bibirnya melihat momen kecil antara kedua adik kembarnya. Kim Ki dan Kim Kyu.

Sarapan sederhana hasil sepasang tangan mungil itu sudah terhidang diatas meja, tiga porsi nasi goreng Kimchi lengkap dengan telur mata sapi dan juga tiga gelas susu.

“habiskan sarapan kalian, dan hari ini aku izinkan Kyuhyun masuk sekolah…”

Mendengar pernyataan itu, Kyuhyun mendongak. Ia tersenyum puas lalu setelahnya memalingkan wajahnya dan memeletkan lidahnya kepada Ki Bum sembari mencibir sang kakak kedua.

Ki Bum tentu saja tak terima, ia hampir melontarkan protes pada Ahra. Namun, Ahra cepat mencegah. Ia melempar tatapan pada Ki Bum. “tapi dengan satu syarat, kemanapun kau pergi, Ki Bum harus ikut!”

Kali ini Ki Bum yang tersenyum puas, baiklah ia pikir ini cara terbaik untuk menengahi masalah antara dirinya dan Kyuhyun. Setidaknya Kyuhyun senang, dan ia bisa menjaga Kyuhyun sebaik mungkin.

“aku setuju!” itu suara Kyuhyun. Ia mengangkat sendoknya tinggi-tinggi dengan senyuman lebar di bibirnya.

Melihat senyuman si adik terkecil. Ki Bum dan Ahra tak terasa ikut menyunggingkan senyumnya, ah… senyuman Kim Kyuhyun seolah menular pada mereka.

Terimakasih… tetaplah bahagia…

.

.

“teong bin nae binkan Chae Wojwo now oeptneun yeojeumeun teong bin kkeopdegi… ”

Senyuman kecil terkulum di bibir si tengah Kim, sesekali ia melirik orang yang berjalan disampingnya yang asyik menyanyikan Emptiness dari Madtown. Remaja berusia enam belas tahun itu terus mengangguk-anggukan kepalanya sambil menggerakan jemarinya dan bahkan membuat ekspresi seolah ia adalah seorang idol yang sedang menghibur fansnya dari atas panggung.

Tak terasa Kim Ki Bum –yang sejak tadi memperhatikan adiknya- terkikik geli tanpa suara, ya… baginya ini menyenangkan. Hiburan di pagi hari yang tadi sempat memanas karena pertengkarannya dengan adik bungsunya itu.

Kini keduanya sudah sampai di halte bus dekat kediaman mereka, menunggu bus yang akan mengantar si kembar menuju sekolah. Bus yang mereka tunggu akhirnya datang, hari ini bus hampir penuh, hanya ada satu tempat duduk kosong yang tersisa.

Ki Bum yang pertama masuk berdiri disamping tempat duduk kosong itu, sementara Kyuhyun mengerling kearahnya.

“kenapa tak duduk?” Tanya Kyuhyun tak mengerti.

Ki Bum tak menjawab, ia hanya mendorong tubuh Kyuhyun hingga adiknya menempati satu-satunya kursi kosong tersebut. “kau saja,” ujarnya singkat membalas tatapan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil mendapat perlakuan manis itu dari kakak kembarnya, ia tarik ujung seragam Ki Bum minta perhatian. Ki Bum menundukan kepalanya memberi respon, ia lihat adiknya tersenyum dan menggerakan bibirnya mengucap kata ‘gomawo’ tanpa suara.

Ki Bum hanya berdeham, ia tampak kikuk mendapatkan ucapan terimakasih dari Kyuhyun seperti itu. namun pada akhirnya ia mengangguk kecil memberi tanggapan.

Ah… pagi ini bukankah pagi yang sangat indah bagi mereka berdua?

.

.

Waktu istirahat telah tiba, Ki Bum beranjak dari tempat duduknya. Ia hendak pergi ke kantin bersama teman-teman musim dinginnya, namun atensinya teralihkan ketika melihat Kyuhyun masih betah duduk di tempat duduknya dengan ponsel yang ia mainkan.

Ia maju mendekat pada Kyuhyun, mencuri pandang pada layar smart phone milik adiknya.

“Nam So Hee?” gumamnya tepat di samping telinga Kyuhyun.

Kyuhyun terperanjat, ia sontak berdiri dan lalu menyembunyikan ponselnya. “Ya!! Kim Ki Bum!! Apa yang kau lakukan?!”

Tak menghiraukan respon Kyuhyun yang berlebihan, Ki Bum hanya menggedikan bahunya dan lalu menunjuk ponsel Kyuhyun dengan dagunya. “Nam So Hee? Siapa Nam So Hee?”

Kyuhyun melihat ponselnya sekilas lalu melompat kearah Ki Bum. “Sssttt… jangan keras-keras Bum-ah, nanti Donghae dan Eunhyuk mendengar,” bisiknya pada Ki Bum.

Sepasang alis si tengah Kim itu bertaut, wajahnya memperlihatkan ekspresi kebingungan yang amat kentara. “memangnya kenapa kalau mereka tahu?”

Kyuhyun kembali mendekatkan bibirnya pada telinga Ki Bum, ia berbisik. “nanti mereka ingin bertemu dengan So Hee, bagaimana jika mereka menyukainya juga?”

Tak memberi tanggapan berarti, Ki Bum hanya mengangguk acuh. Ah… dasar Kim Kyuhyun kekanakan. Baiklah, ia pikir itu cukup memberinya alasan mengapa Kyuhyun hingga terkaget-kaget seperti itu. Tapi ngomong-ngomong, Nam So Hee… siapa Nam So Hee?

“siapa Nam So Hee?” kembali pada pertanyaan pertamanya, Ki Bum masih belum mendapatkan jawaban mengenai identitas si So Hee itu. yang ia tahu hanya So Hee mantan member Wonder Girls dan mengenai So Hee yang lainnya, ia sungguh tak tahu.

Tak lekas menjawab, Kyuhyun mengukir senyuman kecil dibibirnya. Ki Bum hanya terdiam, dan lagi-lagi ia di buat tak mengerti dengan sikap adiknya itu.

“So Hee… yang tadi pagi kita temui di bus…” ujar Kyuhyun tersipu.

Ki Bum masih mengingat-ingat. “So Hee… di bus?”

“ya, kau lupa? Yang tadi hampir jatuh di dalam bus!” kata Kyuhyun mengingatkan kejadian tadi pagi di bus.

So Hee…

.

.

Bus yang Ki Bum dan Kyuhyun tumpangi sampai di halte selanjutnya, beberapa orang mulai naik dan salah satu diantaranya ada seorang siswi SMU dengan rok kotak-kotak dan blazer berwarna coklat muda. Gadis itu berdiri tepat di samping Ki Bum, seorang gadis dengan rambut hitamnya yang terurai hingga mencapai punggung, kulitnya putih dengan paras cantik polos tanpa make up.

Cantik…

Di dalam bus susah payah gadis itu berpegangan pada sandaran kursi terdekat yang bisa ia raih, mencoba mempertahankan dirinya agar tak terdorong dan lebih parahnya lagi terjatuh.

Sepasang manik milik Ki Bum menatap gadis itu lekat, ia ingin menawarkan bantuan agar gadis itu saja yang berpegangan pada besi yang ia pegang. Namun entah mengapa rasanya sulit sekali mengeluarkan satu kalimat singkat pada gadis itu. Apa yang salah dengannya?

Dan tiba-tiba saja bus berhenti mendadak, membuat sebagian besar penumpang hampir jatuh terdorong oleh penumpang di belakangnya. Begitupun gadis yang berada tepat disamping Ki Bum, ia terdorong dan hampir terjerembab andai saja tak ada sebuah tangan yang meraih tubuhnya dan memeganginya kuat.

Semua orang di dalam bus memaki, sebagian memaki sopir dan yang lainnya memaki pengendara sepeda motor yang tiba-tiba menerobos lampu merah dan menyebabkan bus yang mereka tumpangi harus berhenti mendadak.

Namun tak berlangsung lama, keadaan di dalam bus kembali terkendali.

Akan tetapi masih ada dua orang yang belum beranjak dari keterkejutannya, keduanya saling melempar pandang. Mereka…

“kalian baik-baik saja?”

Ki Bum mengerjap, ia melepaskan dekapannya pada siswi SMU yang ia tolong. Lalu mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang mempertanyakan keadaannya. Ia mengangguk sebagai jawaban bahwa ia baik-baik saja.

Tak jauh berbeda, gadis yang Ki Bum tolong juga segera berdiri dan berpegangan pada punggung kursi seperti semula. Ia tersenyum kecil sembari menunduk. “aku baik-baik saja, terimakasih…” katanya tanpa menatap balik Kyuhyun ataupun Ki Bum.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega, ia mengusap dadanya dengan sebelah tangan. “ ah syukurlah, aku pikir kalian kenapa karena diam saja,”

Kembali gadis itu tersenyum menanggapi, sementara Kyuhyun. Beberapa saat ia memperhatikan siswi tersebut dan lalu tersenyum tanpa alasan. Ia lalu berdiri, melempar pandang kearah sisiwi tadi.

“duduklah,” ujarnya pada gadis itu.

Gadis tersebut mendongak menatap wajah Kyuhyun, lalu ia menggeleng seraya menolak halus tawaran Kyuhyun. “tidak perlu, aku bisa berdiri seperti ini.” Katanya sembari tersenyum.

Tak mau menyerah, si bungsu Kim tetap kukuh pada pendiriannya untuk memberikan tempat duduknya pada gadis itu. “duduklah, atau kau mau jatuh lagi seperti tadi?”

Terdiam, tampaknya gadis itu mulai memikirkan tawaran Kyuhyun. “lalu bagaimana denganmu?” tanyanya ragu.

“aku laki-laki! Aku bisa berdiri berpegangan padanya,” gurau Kyuhyun seraya melirik Ki Bum dan menggamit tangannya.

Siswi itu mengerucutkan bibirnya, ekspresi tak mengertinya membuat Kyuhyun ikut menyunggingkan senyuman kecil itu.

“ahaha… dia saudaraku, saudara kembarku. Bukankah kami mirip?”

Gadis itu terbelalak, mulutnya kini membulat dan ber ‘wow’ ria. “daebak!” serunya sambil duduk.

Kali ini, bukan hanya Kyuhyun yang tersenyum melihat respon manis gadis itu, namun juga seseorang yang meminjamkan lengannya untuk Kyuhyun pegangi. Pemuda bermarga Kim dengan ekspresi dinginnya yang sudah menjadi ciri khasnya.

Ia tersenyum manis tanpa siapapun sadari.

.

.

Hari beranjak gelap menelan langit biru dalam kelamnya malam itu, namun tampaknya suasana hati seseorang tak sekelam malam. Sejak tadi ia terus tersenyum sambil memandangi layar smart phone nya, sesekali bersenandung lagu-lagu cinta –mungkin- dan berguling kesana kemari di atas tempat tidurnya.

Tak jauh darinya seseorang tampak tengah terfokus pada buku bertemakan psikologi di atas meja, secara beraturan ia membuka lembaran demi lembaran halaman yang selesai ia baca. Namun tak dapat di pungkiri, ia juga tak bisa mengabaikan tingkah Kyuhyun yang terlihat aneh di belakangnya.

Sekilas ia lirik Kyuhyun yang terus asyik dengan smartphone nya, setelahnya ia tutup buku yang sejak tadi ia baca, melepas kaca mata ber frame hitam dari hidungnya dan lalu menghembuskan napas cukup keras.

Kelakuan Kyuhyun mengingatnya pada sesuatu. Tidak, maksudnya pada seseorang.

Jadi… namanya Nam So Hee… gumam pemuda itu dalam hati. Kini tangannya saling bertaut di atas meja, jemarinya bergerak beraturan. Menandakan ia tengah memikirkan sesuatu.

Ya, sekelebat bayangan kejadian tadi pagi muncul dalam benaknya. Otaknya seakan mereka ulang adegan yang terjadi, ketika ia masuk ke dalam bus, berdiri di sampingnya, dan… tanpa terasa wajahnya bersemu merah.

Ia lepas tautan tangannya, membalikan tangannya hingga ia bisa melihat telapak tangannya dengan jelas.

Tangan ini, entahlah… pada tangan ini seolah ia masih bisa merasakan-

“Ki Bum-ah, kau demam?”

Ki Bum mengerjap, “tidak, memangnya kenapa?” jawabnya cepat.

Jari telunjuk Kyuhyun terangkat, menunjuk wajah Ki Bum lurus dengan ekspresi khawatir. “itu… wajahmu memerah, kau yakin baik-baik saja?”

Sontak Ki Bum menyentuh ke dua belah pipinya. Tidak, ia tidak demam. Lalu kenapa wajahnya memerah?

“be- benarkah? Mungkin hanya perasaanmu saja,” ujar Ki Bum terbata.

Kyuhun menggedikan bahunya tak acuh, “baiklah, aku hanya khawatir. aku takut kau sakit…” aku Kyuhyun malu-malu.

Pengakuan singkat itu membuat Ki Bum menyunggingkan senyum kecilnya, ia beranjak berdiri dan lalu menepuk kepala Kyuhyun sambil mengusaknya lembut. “jangan cemas, aku baik-baik saja…” katanya sambil lalu meninggalkan ruangan tersebut.

Tapi, hatiku rasanya tak baik-baik saja Kyuhyun-ah…sungguh…

.

.

Suara derap langkah membuat sepasang manik itu menoleh dan melihat kemana arah langkah itu pergi, hingga akhirnya bayangan sang pemilik langkah perlahan menghilang di tikungan depan sana. Satu jalan ke tempat satu-satunya juga. Atap sekolah.

Sesaat ia tampak berpikir, jemarinya memainkan sumpit yang ia genggam. Seolah ia tengah mempertimbangkan sesuatu yang hanya dirinya seorang yang tahu.

“Ki Bum-ah, kau sudah selesai?”

Ki Bum merapihkan alat makannya seraya beranjak, ia berdiri dan menepuk bahu Siwon yang bertanya padanya. “ya, aku selesai. Kalian selesaikanlah dulu makan kalian, aku duluan…” Katanya sambil berlalu pergi mengabaikan tatapan heran kawan-kawannya.

Dahi Ryeowook –salah satu anggota musim dingin- berkerut, ia menggaruk rambut coklatnya dengan ekspresi tak faham. “tidak biasanya Ki Bum menyelesaikan makannya secepat ini,” tuturnya seraya melihat kepergian Ki Bum.

Semua yang berada satu meja dengannya ikut mengangguk setuju, Yesung yang sejak tadi tengah makan sambil mengangkat ujung mangkuknya mulai tertarik dengan pembicaraan itu. Ia mendongak dan melihat temannya satu persatu. “Mungkinkah…” gumamnya pelan.

Semua temannya melihat kearah Yesung, menunggu lanjutan kalimat Yesung yang entah mengapa terdengar seperti bisikan dalam film horror. Kelam, dan penuh misteri, “mungkinkah… Ki Bum…”

Tanpa terasa adrenalin mereka sedikit demi sedikit mulai terpacu mendengar suara husky milik Yesung yang bergumam pelan itu. “… Ki Bum… ingin pergi ke toilet?”

“YA!!! KIM JONG WOON!!!!!” seru mereka serempak mengucapkan nama sang President School yang sukses membuat jantung mereka yang hampir melompat tiba-tiba saja berlari kembali pada tempatnya.

Astaga, Kim Jong Woon.

.

.

Sepasang kaki berbalut sepatu cats hitam itu melangkah perlahan meniti anak tangga satu persatu, mencoba tak menimbulkan suara nyaring dari langkahnya itu, ia mengendap hingga akhirnya ia sampai pada pintu besi yang tak tertutup sempurna. Memberi celah pada dirinya untuk melihat hampir keseluruhan dari bagian atap sekolahnya.

“ah, begitu…”

Sebuah suara menghentikan tangannya yang hendak menjangkau knop pintu, suara itu. suara yang tentu sangat ia hapal.

“uhm… So Hee-ssi,”

Deg

Nama itu… pemuda yang berdiri di balik pintu tanpa terasa menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja bergemuruh mendengar nama itu di sebut. So Hee, Nam So Hee.

“pulang sekolah nanti kau ada waktu?”

Senyap untuk beberapa saat, pemuda di balik pintu mengintip antara celah. Melihat siswa dengan seragam yang sama dengannya tengah berdiri sambil bersandar pada tembok pembatas atap.

Ekspresi pemuda itu tampak gugup, terlihat dengan ia yang terus mengetuk ngetukan kakinya pada lantai. Wajahnyapun tak dapat menyembunyikan perasaannya. Sesekali tampak ia menggigit bibir bawahnya, hingga tak lama setelah itu. Perlahan senyuman kecil tersungging pada bibir pucat miliknya.

“kalau begitu, kita bertemu di café xxx dekat sekolahmu, bagaimana?… arraseo, sampai bertemu nanti So Hee-ssi, annyeong!”

Sambungan telepon pun terputus, pemuda tadi mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berjingkrak girang. Ia terus memekikan kata “yoohoo!!” berulang kali, mengekspresikan kegembiraannya yang terasa seperti hampir meledakan jantungnya.

Sementara di balik pintu, pemuda yang sejak tadi berdiri dalam diam memutuskan untuk melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Kedua tangannya terjatuh lunglai di samping tubuhnya, maniknya memancarkan kepedihan, meski senyum kecil terukir dibibirnya namun ia tak cukup mampu untuk menyembunyikan luka dalam hatinya.

Bagiku tak apa… Asalkan kau bahagia, aku juga bahagia… Kyuhyun-ah…

.

.

Kelas masih lengang, hanya terdapat beberapa orang siswa saja disana. Sebagian lagi mungkin masih makan siang dan sebagian lagi… entahlah. Ia tak tahu, hanya saja yang pasti ia bersyukur keadaan kelas masih sepi seperti ini. Rasanya ia butuh ketenangan untuk saat sekarang.

Pemuda itu, si tengah Kim, Kim Ki Bum. Ia menarik kursinya, duduk disana dan melempar pandangannya kearah jendela. Ia melihat semuanya, awan yang saling berarak, langit biru dan… adiknya. Kyuhyun yang sedang bermain basket bersama teman-teman musim panasnya.

Kyuhyun-nya yang tampak ceria, tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. Kyuhyun-nya yang sehat dan penuh semangat. Ya, baginya itu cukup. ia tak menginginkan apapun lagi, melihat noona dan Kyuhyun-nya bahagia, itu sudah lebih dari segalanya.

Ki Bum beranjak dari duduknya, berdiri di depan jendela dan memperhatikan setiap yang Kyuhyun lakukan dengan seksama. Ia tersenyum tatkala melihat Kyuhyun yang terus menjahili Eunhyuk salah satu sahabatnya.

Entah ikatan batin atau apa, mereka, si kembar Kim memang selalu bisa menemukan satu sama lain meskipun itu di tengah keramaian. Begitupun sekarang, tanpa sengaja manik keduanya bertemu pandang.

Kyuhyun yang melihat Ki Bum di balik jendela melambaikan tangannya riang. “Ki Bum-ah!! Bum-ah!!!” panggilnya nyaring. “cepat kemari!!! Kita bermain bersama!!!”

Ki Bum tersenyum menanggapi seraya menganggukan kepalanya, ia balik melambai dan berseru. “aku kesana!!”

Ki Bum berlari keluar kelas, namun langkahnya terhenti ketika ponselnya ia rasa bergetar. Nomor tidak di kenal. Ki Bum hendak menolak panggilan itu, namun urung ia lakukan. Akhirnya ia menerima panggilan tersebut dengan sedikit ragu.

“Yeobosseo?” sapanya terlebih dahulu.

“Yeobosseo… Ki- Ki- Bum-ssi?”

Dahi Ki Bum berkerut ketika mendengar nada suara seseorang wanita di sebrang sana, ia terdengar ragu-ragu.

“ye, ini dengan Ki Bum. Nugusaeyo?”

Tak ada jawaban, sunyi. Hanya terdengar suara hembusan nafas dan gumaman-gumaman tak jelas.

“Nugusaeyo?” sekai lagi tanya Ki Bum karena tak juga mendapat jawaban.

“ah, maaf… aku- aku- kau ingat siswi di bus kemarin, Ki Bum-ssi?”

Ki Bum terhenyak, matanya membola. Apakah ia ingat? Tentu, tentu saja ia ingat. Mustahil ia tak mengingatnya, mustahil ia melupakannya.

“ah, ya. Aku rasa aku ingat.” Jawab Ki Bum singkat.

“ne, ini aku Ki Bum-ssi… namaku-”

“Nam So Hee,” potong Ki Bum tanpa ia sadari. Dan setelahnya ia membekap mulutnya sendiri yang berbicara tak terkendali.

“kau sudah tahu namaku?” Tanya So Hee sedikit bingung.

Ki Bum berdeham, ia menelan salivanya sebelum mulai bicara. “ya, aku tahu namamu dari Kyuhyun.”

“ah, begitu…”

Hening, kini keduanya terdiam. “oh, ya. So Hee-ssi, ada apa kau menghubungiku?” Tanya Ki Bum memulai pembicaraan kembali.

“ti- tidak, aku hanya memastikan kalau nomor ini benar nomor milikmu, Ki Bum-ssi,”

Ki Bum menganggukan kepalanya, “ya, ini memang nomor milikku. Kau mendapatkannya dari Kyuhyun?” tebak Ki Bum.

“ne, aku pikir- mu-mungkin kita bisa berteman. Karena itu, aku- aku meminta nomormu pada Kyuhyun,”

Lagi-lagi Ki Bum mengangguk. “ya, tentu. Kita bisa… berteman,”

“Ki Bum-ah!! Kyuhyun memanggilmu!!” teriak seorang siswa dari dalam kelas.

Ki Bum teringat tujuan utamanya tadi untuk menemui Kyuhyun, ia menepuk kepalanya karena bisa melupakan hal itu. “Ya, aku segera kesana!”

“Ki Bum-ssi, apa kau sedang sibuk?”

“tidak juga, tapi sepertinya aku harus mengakhiri sambungan teleponnya. Maafkan aku, So Hee-ssi,”

“tidak, tidak apa-apa. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah mengganggumu, kalau begitu sampai jumpa Ki Bum-ssi…”

“ne, sampai jumpa So Hee-ssi…”

Dan sambunganpun terputus. Ki Bum menatap layar ponselnya sesaat, melihat nomor baru yang tertera disana. Nomor milik gadis itu, Nam So Hee gadis yang mampu membuat jantungnya bergemuruh hanya dengan mendengar namanya saja.

Nam So Hee…

Nam So Hee…

Nam So Hee…

.

.

Bel tanda pulang berdentang nyaring, di muka kelas sonsaengnim mulai membereskan buku-buku serta peralatan mengajarnya. “baiklah, pertemuan hari ini kita sudahi sampai disini. Sampai jumpa minggu depan.”

Semua siswa membungkuk memberi hormat, sepeninggal sonsaengnim mereka mulai membreskan peralatan belajar mereka dan meninggalkan kelas satu persatu. Begitupun Ki Bum dan Kyuhyun.

Kyuhyun yang sudah selesai membereskannya terlebih dahulu datang mendekat pada Ki Bum, “Bum-ah!” panggilnya.

Ki Bum mendongak seraya membenarkan bingkai kaca matanya, ia menatap Kyuhyun lurus. “ada apa?” tanyanya sebelum kembali mencurahkan perhatiannya pada buku-buku dan juga balpoin yang berserakan diatas mejanya.

“begini…” kata Kyuhyun ragu, “hari ini aku ada janji bertemu dengan seorang teman, sebaiknya kau pulang duluan saja,” ungkapnya pelan.

Sejujurnya ia takut Ki Bum akan melarangnya pergi sendiri, jika sampai itu terjadi, maka rencananya akan berantakan.

Ki Bum menghentikan aktifitasnya sesaat, “baiklah,” katanya setuju. “tapi berhati-hatilah, jaga dirimu dan jangan sekali-kali kau matikan handphone-mu.” Ujarnya santai lalu melanjutkan kembali aktifitasnya –membereskan peralatan belajar-.

Kyuhyun melongo mendapat persetujuan dari Ki Bum semudah itu. Biasanya Ki Bum akan mengintrogasinya terlebih dahulu dengan berbagai macam pertanyaan sebelum memberikan izin, tapi kenapa sekarang mudah sekali?

“kau tak ingin tahu dengan siapa-”

“cepatlah pergi sekarang, semakin cepat kau pergi semakin cepat pula kau kembali. Ingat! Jangan pulang terlalu malam!” nasihat Ki Bum sambil menggendong ranselnya di punggung.

Kyuhyun menganggukan kepalanya berkali-kali dengan antusias, senyuman tak lekang terus terumbar di bibir pucatnya. Ia yakin, sekarang dewi fortuna sedang ada di pihaknya. Dengan wajah gembira, ia peluk Ki Bum sekilas dan lalu berlari keluar kelas sambil berseru, “aku janji tak pulang malam!! Saranghaeyo Ki Bum-ah!!!”

Ki Bum menggeleng maklum sambil tersenyum kecil, namun setelah bayangan Kyuhyun tak nampak dari pandangannya. Senyuman itu sirna begitu saja, tangannya kembali terangkat menyentuh dadanya. Rasanya sedikit berdenyut, entah ini rasa sakit atau apa. Ia tak mengerti.

Rasanya seperti campuran dari rasa gembira, kesal dan sedih. Ia tak tahu termasuk jenis perasaan apa ini. Ia sungguh tak tahu.

.

.

Remaja dengan surai kecoklatannya itu duduk santai sembari sesekali melirik jam tangannya, satu jarinya ia ketukan pada meja dengan berirama sambil bersenandung lembut entah menyanyikan lagu apa.

Selain jam tangannya, satu hal lagi yang menjadi pusat perhatiannya adalah pintu masuk café yang terletak tepat di hadapannya. Menunggu pintu itu terbuka dan mengantarkan seseorang yang sudah ia tunggu sejak tadi. Seorang gadis dengan rambut hitamnya yang terurai hingga punggung, seorang gadis yang dikenalnya sejak beberapa hari yang lalu.

Tanpa terasa ia tersenyum kecil. Hanya memikirkannya saja membuat ia gugup apalagi jika nanti ia sudah datang dan mereka bisa bertatap muka secara langsung? Astaga, ia tak sanggup membayangkannya.

Remaja itu masih tetap terhanyut dalam khayalannya, hingga suara decit pintu terdengar mengalun ditelinganya. Dengan sigap ia tegakkan tubuh dan berdiri siap menyambut gadis itu dengan perasaan bahagia yang seolah membuncah memenuhi dadanya.

Dengan penuh percaya diri tanpa memastikan apakah yang datang itu gadis yang ia tunggu atau bukan, pemuda itu lekas menyapa dengan nada bicaranya yang begitu riang.

“Annyeong So Hee-s…” sapaannya terhenti tatkala ia melihat orang yang baru datang tersebut berdiri di depannya. Dia…

“Kyuhyun-ah? Apa yang kau lakukan disini?”

Kyuhyun, ia diam dengan tatapan heran yang ia tujukan pada orang di depannya. “Ki- Bum-ah?” tanyanya tergagap mengabaikan pertanyaan Ki Bum padanya.

“sedang apa kau disini?” lanjut Kyuhyun bertanya.

Ki Bum tampak berpikir, ia gigit bibir bawahnya sesaat dan lalu membuka suara. “kenapa kau balik bertanya? Kau sendiri sedang apa disini?”

Si bungsu Kim itu menarik tubuhnya, wajahnya berkerut tak faham. “akukan sudah minta ijin padamu, kalau hari ini aku akan bertemu dengan seorang teman dan kami berjanji bertemu disini. Kau sendiri apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku?” tuduhnya tanpa aling-aling penghalang.

Ki Bum terkesiap, namun ia masih tetap berusaha terlihat santai. “tidak, aku datang kesini hanya untuk membeli kopi,” jawab Ki Bum sambil melirik daftar menu yang terpajang dekat meja kasir.

Tak ada tanggapan Kyuhyun berikan, akan tetapi pemuda itu justru melemparkan tatapan curiga pada sang kakak. Entah mengapa, baginya alasan Ki Bum itu terasa janggal. Bagaimana tidak? Kenapa Ki Bum harus jauh-jauh datang kemari hanya untuk membeli kopi? Bukankah banyak sekali café dekat sekolah yang lebih mudah di jangkau?

“kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Ki Bum sedikit tak senang menerima tatapan curiga dari Kyuhyun.

Kyuhyun mengedikan bahunya, mungkin ia memang sudah berlebihan mencurigai kakaknya seperti itu. walaupun tak bisa di pungkiri ia masih tetap saja merasa kalau Ki Bum memang menyembunyikan sesuatu darinya. Ya, tapi Ki Bumnya tak mungkin melakukan sesuatu yang akan membuatnya kesal, bukan?

“tidak apa-apa, aku hanya-”

“annyeonghaseo?”

Ki Bum dan Kyuhyun mengalihkan perhatian mereka pada sapaan lembut seorang gadis yang menginterupsi obrolan keduanya, setelah melihat siapa yang datang si kembar tampak berdiri kaku dengan ekspresi gugup yang cukup kentara. Terutama Kim Kyu, adik bungsu Kim Ahra itu sungguh tak pandai menyembunyikan perasaannya. Wajahnya merona begitu saja dengan senyuman kikuk yang tergambar jelas di bibirnya.

“annyeonghaseo Kyuhyun-ssi dan… Ki Bum-ssi,” sapa gadis itu sekali lagi karena tak juga mendapatkan jawaban.

Kini keduanya tersadar, lagi-lagi mereka tersenyum kikuk sebelum akhirnya membalas sapaan dari gadis tersebut.

“Annyeonghaseo So Hee-ssi,” balas Kyuhyun tergagap, sedangkan Ki Bum hanya membungkuk sekilas tanpa sekalipun melepaskan pandangan dari gadis dihadapannya.

“Ah!” seakan mengingat sesuatu, gadis itu Nam So Hee berseru. Ia tarik lengan seorang gadis yang berdiri di sampingnya yang beberapa saat lalu sempat ia lupakan karena tak dapat melepaskan perhatiannya dari salah satu pemuda dihadapannya.

Ia tersenyum canggung, “sebelumnya, perkenalkan ini temanku Ji Hyun, Choi Ji Hyun…” katanya memperkenalkan temannya yang ia bawa pada Ki Bum dan juga Kyuhyun.

Ki Bum dan Kyuhyun mengangguk bersamaan, menyapa dan memperkenalkan nama mereka bergantian.

“namaku Kim Kyuhyun,”

“aku Ki Bum,”

“senang bertemu dengamu Ji Hyun-ssi,” ujar Kyuhyun akrab seperti biasa.

Choi Ji Hyun tersenyum, “ye, senang juga bertemu denganmu Kyuhyun-ssi dan Ki Bum-ssi,”

Pertemuan keempatnya terasa sedikit canggung, terutama karena Ki Bum memang tak banyak bicara. Tampak selama berada di café hanya Kyuhyun, So Heed an Ji Hyun yang terlibat obrolan. Sedangkan Ki Bum sibuk dengan dunianya sendiri. Namun tanpa mereka sadari dua orang dari mereka sama-sama mencuri pandang tiap kali ada kesempatan.

Bahkan sesekali pandangan mereka bertemu dan berakhir dengan wajah keduanya yang merona dan tampak gugup.

Perasaan itu, perasaan tersembunyi yang perlahan mulai menampakan diri. Apakah ini akan menjadi masalah? Apakah ini akan berakhir dengan ia yang kembali mengalah? Ia tak tahu, dan ia tak pernah ingin tahu bagaimana akhirnya.

Ia pikir mungkin untuk kali ini, ia akan melaluinya bak sungai mengalir. Biarkan takdir menghanyutkannya dan membawanya ke hilir.

.

.

TBC

Setelah kha berhibernasi dan chapter ini tertunda lebih dari 1 tahun akhirnya she is mine publish juga (walaupun belum selesai 😀 ).

Chapter ini dibagi dua bagian A dan B, karena kha ngebet mau publish di hari ulang tahun Ki Bum (chapter 12 juga di hari ulang tahun kyuhyun 😀 ) jadinya chapter ini kha bagi dua karena bagian ending nya belum selesai.

Sun (Chapt. 3 – Finish)

 

 

Gelap beranjak terang…

Siang beranjak malam…

 

Seseorang terlahir dan suatu hari nanti ia harus rela untuk pergi meninggalkan raganya…

Meninggalkan kenangannya…

 

Begitulah siklus kehidupan, bergulir dan tak seorangpun dapat mencegahnya…

 

Namun bicara tak semudah kenyataannya, semuanya justru terasa jauh lebih sulit dari yang dibayangkan…

 

Akankah… aku siap menghadapinya?

 

.

 

.

 

Rerumputan kering tampak goyah ketika diterpa angin, keadaannya yang sudah hampir mati membuatnya lemah dan tak dapat mempertahankan diri.

 

Begitupun dedaunan di pohon-pohon itu, mereka kini menguning dan menyerah untuk bertahan. Jatuh, menyentuh tanah dan mati disana.

 

“musim yang menyedihkan, kenapa dia bisa suka musim seperti ini?” monolog seseorang seraya menggelengkan kepalanya tak mengerti. Kakinya yang menapak diatas tanah ia mainkan mengikuti arah hembusan angin. Menggoyangkannya lembut sembari sesekali menutup matanya merasakan setiap sentuhan udara di kulit putihnya.

 

Ia lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu tapi seseorang yang ditunggunya belum juga menampakan batang hidungnya. Kemana dia?

 

Terdengar helaan nafas darinya, akhirnya ia beranjak dari sana. Mungkin sekaleng kopi panas bisa menghangatkan sedikit tubuhnya. Ia pergi menjauh mencari mesin minuman terdekat di sekitar taman sungai Han itu.

 

Beberapa menit berlalu, ponselnya bergetar ketika ia hendak kembali ketempatnya semula dengan dua buah kaleng minuman di tangannya. Susah payah ia genggam dua kaleng minuman yang ia bawa di tangan kirinya, sedangkan tangan yang lainnya menerima panggilan yang ternyata dari seseorang yang sejak tadi ia tunggu.

 

“Little Cho!” serunya sumringah, ia geser tanda hijau dilayar ponselnya dan menyapa seseorang di sebrang sana dengan penuh semangat. “Little Cho, kau dimana?” tanyanya antusias.

 

Terdengar gerutuan sebagai balasan pertanyaan yang pria itu lontarkan, “hyung sendiri dimana sekarang?” Tanya orang itu balik.

 

“hei Little Cho kenapa balik bertanya?” ujarnya seraya melangkah menuju tempat duduknya tadi, tempat itu memang tempat mereka membuat janji untu bertemu. Namun belum sampai ia pada tujuannya, punggung seseorang nampak berdiri di dekat kursi dengan sebuah ponsel di telinganya.

 

Dari postur tubuhnya dan pakaian yang ia kenakan, pria itu yakin orang yang dilihatnya adalah orang yang sejak tadi ia tunggu. Little Cho, Kyuhyun adiknya.

 

“Donghae hyung?”

 

“ah ya, Little Cho apa kau sudah sampai?” Tanya Donghae seraya tersenyum jahil, pura-pura tak tahu kalau Kyuhyun sudah datang dan menunggunya. Ia berjalan mendekat sambil mengendap-endap agar Kyuhyun tak mengetahui kedatangannya.

 

“ya, aku-” tercekat, suara Kyuhyun tiba-tiba saja hilang.

 

Dahi Donghae berkerut, pandangannya terkunci pada satu objek saja. Kyuhyunnya yang tiba-tiba saja memegangi kepalanya dan menjatuhkan ponselnya.

 

Sepasang kaki putra sulung keluarga Cho itu serasa membeku, ia hanya dapat diam ketika tubuh adik kesayangannya oleng dan terduduk lemas ditanah. Tangan pucat adiknya meraba tanah entah apa yang ia cari, hingga akhirnya tangan itu meraih ponsel miliknya yang tadi terjatuh.

 

Dengan susah payah Kyuhyun mendekatkan ponselnya pada telinganya, “Hyung…” panggil suara itu parau.

 

Donghae tertegun, ia tersadar dari keterkejutannya. “ah- ya- Kyuhyun-ah…”

 

“Hyung- eodiya…”

 

Aku dibelakangmu…

 

“aku masih dalam perjalanan, apa kau sudah sampai?” bohong. Pemuda itu berbohong entah untuk alasan apa, disamping tubuhnya tangannya menggenggam kaleng minuman semakin erat.

 

Helaan napas terdengar dari sebrang sana, “ahh… baguslah… aku- aku… aku tak bisa mengantarmu mencari buku hari ini hyung… tiba-tiba saja… ada pelajaran tambahan, jadi aku- maafkan aku hyung…”

 

“ba-baiklah… gwaenchana- Kyuhyun-ah…” ujar Donghae tersendat, focus matanya masih tetap pada satu arah saja, pada Kyuhyun-nya yang tengah berusaha berdiri sambil berpegangan pada kursi di taman sungai Han ini.

 

“kalau begitu- aku… tutup telponnya hyung…”

 

“ne Little Cho… belajarlah yang rajin…”

 

Dan setelahnya panggilan terputus, tangan Donghae yang memegang ponsel perlahan terkulai kesamping tubuhnya. Ia tak mengerti kenapa Kyuhyun membohonginya, dan ia tak mengerti kenapa dirinya juga harus berbohong. Apa yang salah dengan mereka berdua?

 

Sementara di depan sana, Kyuhyun mulai berjalan meninggalkan taman dengan langkahnya yang terseok. Tanpa sepengetahuannya Donghae mengikutinya dari belakang, menatap langkah lemah itu dengan maniknya yang mulai berembun.

 

.

 

Seseorang turun dari taxi dengan susah payah, ia berjalan sembari meraba dinding mencari topangan untuk tubuhnya. Dan tepat di depan pintu seorang wanita paruh baya menyongsongnya, meraih tubuh ringkih sang putra terkecil. Tangannya bergetar hebat ketika menyentuh tangan putranya yang sudah mendingin. “eomma…”

 

Belum sampai mereka di bibir pintu, tubuh itu sudah terkulai jatuh dilantai. Membuat wanita paruh baya yang menopangnya memekik histeris. “Kyuhyun-ah!!”

 

Keduanya kini tersungkur dilantai dingin itu, hingga tak lama sebuah tangan meraih tubuh Kyuhyun yang sudah tak sadarkan diri. Mengangkatnya keatas punggung tegapnya, “kita kerumah sakit?” tanyanya datar meski tersirat kekhawatiran dalam nada bicaranya.

 

Eomma terpaku di tempatnya, maniknya lurus menatap pemuda tampan dihadapannya. “Donghae-ya…” gumamnya pelan.

 

Decit pintu pagar yang di buka menginterupsi, dua orang pria dewasa muncul dengan langkah terburu-buru. Namun langkah salah satu diantara mereka terhenti tatkala maniknya menatap bayangan tubuh tegap yang tengah menggendong seseorang yang ia yakini putra bungsunya.

 

“Donghae-ya…” serunya ragu.

 

“bisakah kita cepat? KEMANA AKU HARUS MEMBAWA ADIKKU!!!”

 

.

 

Wajah pucat dengan surai ikal kecoklatan itu memejamkan matanya, tak ada bekas kesakitan yang tadi nampak kentara diwajah itu. Tubuhnya kini melemas tak seperti beberapa saat lalu ketika ia tiba-tiba saja kejang dan membuat semua orang kalang kabut hingga akhirnya diputuskan kalau ia harus dilarikan ke rumah sakit.

 

Adiknya… Kyuhyun-nya… mataharinya…

 

Donghae mengusap wajahnya kasar, ia menghela nafasnya. Mendekat pada ranjang pembaringan Kyuhyun dan mengecupnya sekilas, tangannya mengusak lembut surai kecoklatan itu. “kenapa membohongiku?” tanyanya entah pada siapa.

 

Kyuhyun? Sudah jelas ia tak mungkin menjawab dalam keadaan seperti itu. Lalu… dua orang lain yang berada disana?

 

Tatapan sayu milik Donghae kini beralih pada sang appa dan juga eomma yang berada di sebrang tempat tidur Kyuhyun bergantian, tatapan menyiratkan kepedihan itu seakan menusuk relung mereka berdua. “adakah yang ingin kalian katakan padaku?”

 

Appa menelan salivanya, begitupun eomma yang menggenggam tangannya semakin kuat.

 

“kita bicara diluar, Donghae-ya…”

 

Tanpa menunggu perintah lagi, Donghae berlalu keluar ruangan. Menyandarkan tubuhnya di tembok putih lorong rumah sakit tempat Kyuhyun-nya dirawat. Menunggu kedua orang tuanya keluar dan menjelaskan semuanya. Semua yang terjadi hari ini.

 

.

 

Ketiganya kini berkumpul diruangan milik Dokter Choi, Dokter yang tadi sore datang bersama appa yang ternyata merupakan dokter pribadi Kyuhyun.

 

“ini Arteriovenous Malformation atau biasa disebut AVM,” ujar Dokter Choi mengawali. Beliau menghela nafas sekilas sebelum akhirnya melanjutkan kembali kalimatnya. “penyakit ini biasanya penyakit bawaan yang semakin lama akan semakin parah jika tidak cepat ditangani, sebenarnya kami bisa saja melakukan operasi. Namun letak AVM otak yang terjadi pada Kyuhyun sangat sulit untuk di jangkau dan sangat riskan jika kami harus melakukan operasi,”

 

Donghae terdiam mendengar penjelasan Dokter Choi, baginya itu sudah cukup menjelaskan segalanya. Sakit yang di derita Kyuhyun bukanlah sakit yang ringan, AVM atau apalah itu Donghae tak peduli. Tapi kenapa harus Kyuhyun-nya? Dan kenapa hanya dirinya yang tak mengetahui soal keadaan Kyuhyun?

 

“Dokter Choi cukup,” cegah Donghae ketika Dokter Choi hendak membuka mulutnya lagi untuk menjelaskan lebih lanjut perihal penyakit Kyuhyun. “jangan menjelaskan apapun lagi, aku hanyalah orang bodoh yang tak akan memahami penjelasanmu… aku hanyalah orang bodoh yang bahkan terus dibohongi seumur hidupnya.”

 

Eomma dan appa yang sejak tadi hanya menyimak kini terkesiap, menerima tatapan terluka milik putra sulungnya membuat mereka ikut merasakan sakit itu. “kenapa kalian tak mengatakannya padaku?”

 

Lirih, kalimat itu sungguh hampir tak terdengar andai saja posisi duduk mereka tak sedekat ini. “aku… tidakkah cukup bagi kalian untuk membohongiku selama ini?”

 

“apa maksudmu Donghae-ya?” Tanya eomma minta penjelasan.

 

Donghae tersenyum miris, ia terkekeh dengan tawa kecilnya yang terdengar di buat-buat.

 

“eomma bertanya apa maksudku? Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? apa maksud kalian membohongiku selama ini? Aku sudah cukup bersabar menerima kebohongan kalian tentang status Kyuhyun sebenarnya,”

 

Eomma dan appa tersentak, kini mereka faham kemana arah pembicaraan Donghae. Rahasia yang selama ini mereka tutupi akhirnya terkuak juga, rahasia yang mereka yakini sebagai kenyataan paling menyakitkan yang cepat atau lambat tetap harus Donghae terima.

 

“Donghae-ya-”

 

“aku belum selesai,” potong Donghae dingin pada kalimat appa, “aku sudah memutuskan akan membiarkan kebohongan itu, tapi untuk kali ini… kenapa kalian juga harus menyembunyikannya dariku?”

 

Eomma dan appa terdiam, entah jawaban seperti apa yang harus mereka berikan. Mungkin mereka memang sudah menyiapkan hati mereka untuk kemungkinan seperti ini, tetapi ketika semuanya benar-benar terjadi. Nyatanya mereka belum siap untuk menghadapinya, atau bahkan mungkin mereka tak akan pernah siap untuk itu.

 

“kenapa kalian melakukan ini… kenapa… tunggu sebentar-” jeda, kalimat Donghae terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

Tentang status Kyuhyun ia sama sekali tak mempermasalahkannya jika Kyuhyun membohonginya, saat itu Kyuhyun masih sangat muda, ia belum mengerti apapun. Tapi untuk kali ini, Kyuhyun… “apakah dia juga sudah tahu?” Tanya Donghae ragu.

 

Matanya yang sudah memerah menahan tangis tampak makin berkaca, ia harap mereka mengatakan kata yang ingin ia dengar. Ia harap-

 

“maafkan kami, adeul…”

 

.

 

.

 

Aku diam ketika kalian berbohong 13 tahun yang lalu, aku diam ketika menyadari bahwa seumur hidupku telah kalian bohongi, dan aku diam setelah tahu diantara kita bertiga hanya aku yang tak tahu mengenai ini.

 

Akan tetapi, kenapa ia juga ikut membohongiku?? Kenapa?? Kenapa??!!

 

Dasar bodoh, Cho Donghae bodoh… tentu saja dia tahu, dia yang mengalaminya dan dia yang merasakannya.

 

Kau benar-benar bodoh Cho Donghae…

 

.

 

.

 

Waktu berlalu bagaikan hembusan angin, ia tak mungkin berhenti dan tak mungkin pula kembali.

 

Seperti musim gugur yang telah terlewati, kini pepohonan kering itu mulai ‘berbunga’ kembali. Tidak, bukan bunga berbagai warna yang tumbuh di musim semi, mereka adalah bunga salju putih yang menutupi ranting pohon dan juga semua tempat yang dapat dijangkaunya.

 

Hembusan nafas mengembun di jendela kediaman pemuda itu, sebuah apartemen dengan satu kamar. Apartemen yang ia tempati sejak empat bulan yang lalu, sejak semua rahasia itu terungkap.

 

Empat bulan, ya sudah selama itu ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri disini. Menjauh dari sekelompok pembohong yang sebelumnya ia sebut keluarga.

 

Berdecih, pemuda itu tersenyum sinis ketika mengingat apa yang terjadi empat bulan yang lalu. Ia tekuk kaki jenjangnya, melempar pandangannya ke bawah. Melihat pemandangan serba putih yang menjadi santapan matanya yang nampak lelah.

 

Sungguh, jika boleh jujur ia benar-benar lelah. Ia benar-benar lelah dengan semuanya.

 

Ia lelah menjadi orang bodoh, ia lelah melewati semuanya penuh kebencian, ia lelah menghindar…

 

ting tong!

 

Itu suara bel pintu, meski enggan pemuda itu akhirnya beranjak juga. Berjalan menuju pintu depan tanpa melihat dahulu siapa gerangan yang bertandang ke rumahnya di tengah cuaca sedingin ini memalui intercom. Bukankah ia sudah mengatakannya? Ia sungguh lelah, bahkan ia sudah tak peduli seandainya orang yang datang itu adalah pencuri atau apapun itu. Ia benar-benar tak peduli…

 

Ting tong!

 

Suara bel kembali terdengar, pria berusia hampir dua puluh tahun itu bergegas -meski malas- membuka pintu untuk sang tamu, “anyeo-” tercekat, suaranya tertahan di tenggorokan.

 

Maniknya membola ketika menemukan siapa yang mengunjunginya sore ini.

 

“Donghae hyung…”

 

Suara yang amat ia benci namun ia rindukan selalu, suara khasnya yang kerapkali mampu membuat harinya serasa begitu indah. “ada apa kau kesini?”

 

Namun ia tak dapat mengatakan kata manis seperti biasanya, seperti sebelumnya ketika kebohongan itu belum terungkap.

 

Pemuda pucat di depan pintu hanya terdiam, ia menelan salivanya susah payah. “Donghae hyung…” panggilnya pelan.

 

Bola matanya berbinar melihat wajah Donghae sedekat ini, selama ini Donghae selalu menghindar jika ia temui. Bahkan terakhir kali ia datang kesini, Donghae mengusirnya melalui intercom tanpa melihatnya terlebih dahulu.

 

“hyung… Bogoshi-”

 

“pergilah Kyuhyun-ah,” usir Donghae dingin tak memberi kesempatan Kyuhyun untuk menuntaskan kalimatnya, ia hendak berbalik dan menutup pintu. Akan tetapi secepat mungkin Kyuhyun menarik lengan Donghae, mencegahnya masuk.

 

“hyung…”

 

“bukankah sudah aku bilang pergi?”

 

Kyuhyun tak menyerah, ia menggelengkan kepalanya kukuh dengan air matanya yang sudah menggenang. Membuat jantung Donghae berdesir hebat melihatnya.

 

Namun dengan tangannya yang lain Donghae lepaskan genggaman tangan Kyuhyun paksa dari lengannya. “maafkan aku, tapi bisakah kau tak muncul dulu dihadapanku? Keberadaanmu membuatku sulit bernafas…”

 

Jatuh, tangan Kyuhyun terkulai disamping tubuhnya. Bersamaan dengan itu pintu apartemen Donghae tertutup, menelan tubuh sang hyung kedalam sana. Hyung yang sangat dirindukannya, hyung yang telah menorehkan luka dihatinya hari ini, hyung…

 

Sakit, Kyuhyun meremas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Mendengar pengakuan Donghae membuatnya benar-benar merasa jatuh ke dasar jurang.

 

“maafkan aku hyung… aku tak punya alasan atas apa yang aku lakukan, akan tetapi satu hal yang harus kau tahu. Aku… menyayangimu hyung…”

 

Setelahnya remaja berusia tujuh belas tahun itu pergi menjauh dari apartemen Donghae dengan air matanya yang sudah meleleh.

 

Sementara di balik pintu seseorang tengah terduduk sambil memeluk lututnya, tangisnya yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Ia menangis pilu mendengar pengakuan itu, pengakuan yang berbanding terbalik denga apa yang ia katakana pada Kyuhyun.

 

“maafkan hyung… maafkan hyung, Kyuhyun-ah…”

 

.

 

.

 

‘Donghae-ya, Kyuhyun-ie sakit… dia terus menanyakanmu, maukah kau menemuinya?’

 

Itu pesan dari appa yang Donghae terima siang tadi. Ia membacanya ulang seteelah beberapa jam lalu pesan itu sampai, entah apa maksudnya. Mungkin meyakinkan diri? Donghae tak tahu.

 

“aku tak bisa di bohongi lagi,” gumamnya teguh pada pendiriannya, ia menyimpan kembali ponselnya. Namun tak lama kemudian ponsel yang ia simpan tertelungkup itu kembali bergetar.

 

Lagi, kali ini pesan dari eomma. Donghae membacanya sekilas, kali ini dahinya berkerut sedemikian rupa. Ada sorot kekhawatiran di manik jernihnya ketika membaca setiap untaian kata itu.

 

‘Donghae-ya… keadaan Kyuhyun memburuk, eomma mohon temui Kyuhyun. Sekali saja Donghae-ya, jebal…’

 

Hati Donghae berdenyut sakit, ia tak tahu seberapa parah sakit Kyuhyun kali ini. Melihat betapa keras kedua orang tuanya mencoba menghubunginya sejak tadi pagi, mungkin sudah lebih dari seratus kali mereka mencoba menghubunginya namun Donghae tetap mengabaikan itu.

 

Entah benteng apa yang menutup hati seorang Cho Donghae hingga bersikap sekeras ini, ia hanya merasa lukanya benar-benar seperti ditaburi garam tiap kali ia bertemu dengan anggota keluarganya. Terutama Kyuhyun yang selama ini selalu ia percaya, tapi pada kenyataannya Kyuhyun tega membohonginya. Kyuhyun merahasiakan sesuatu yang bagi Donghae jauh lebih besar dibandingkan status Kyuhyun.

 

Status Kyuhyun sebagai anak angkat di keluarganya.

 

.

 

.

 

Manik hitam kelamnya menatap kosong kearah pintu sewarna tulang itu, bibirnya yang pucat dan tampak mengering terkatup rapat memendam sesak yang terus menderanya selama tiga hari terakhir.

 

Tiga hari. Ya, selama itu pula ia terus menghitung waktu setiap detiknya. Menanti seseorang dengan suara beerisik khasnya yang kerap kali mengganggu itu. ia menunggunya…

 

Menunggu pintu itu terbuka dan mengantar seseorang yang sangat ia nanti untuk datang padanya. Namun terbilang tiga hari sudah ia menunggu, dan orang itu belum juga menampakan batang hidungnya.

 

sebenci itu kah kau padaku hyung? Hyung… temui aku hyung, aku mohon… aku tak ingin kau menyesal…          

 

taka da gumaman, hanya suara hatinya yang terus berbunyi. Mengungkapkan segala yang ia pikirkan, bahkan sesekali ia mengumpat ketika nasal cannula di hidungnya terasa sangat tak nyaman.

 

Bocah itu, bagaimanapun kita melihatnya, dia tetaplah dirinya. Anak manja yang seenaknya, seorang anak berusia tujuh belas tahun yang selalu melakukan sesuatu menurut keinginannya.

 

Tapi kali ini, keinginannya sungguh tak muluk-muluk. Ia hanya ingin bertemu seseorang, sekali saja sebelum semuanya terlamabat, sebelum penyesalan mengakar di hati orang itu. sekali lagi saja… ia ingin menjadi matahari dan menunjukan padanya bahwa ia baik-baik saja, dan sungguh dirinya menyayangi orang itu.

 

“hyung…” gumamnya tanpa terasa.

 

Membuat perhatian kedua orang tuanya beralih dan menatapnya sedih, mereka saling melempar pandang. Eomma hampir menangis manatap appa, sedangkan appa membalas tatapan itu dengan gelengan kecil. Mengisyaratkan pada sang istri untuk tak mengatakan apapun.

 

“eomma…” kini nama sang eomma yang anak itu panggil. Eomma mencoba tersenyum dan mengerlingkan sedikit matanya.

 

“ne, uri magnae membutuhkan sesuatu?”

 

Eomma tersadar, pertanyaan yang ia lontarkan sungguh pertanyaan yang tak seharusnya ia tanyakan. Bukankah sebelumnya jawaban putra bungsunya itu selalu sama? Ketika dirinya bertanya apa yang Kyuhyun butuhkan, ia selalu menyebut satu nama.

 

Donghae… hanya sang pemilik nama yang ia butuhkan.

 

Begitupun appa, ia sedikit menegur eomma dengan tatapannya. Namun mau bagaimana lagi, eomma terlanjur mengatakannya. Kini mereka hanya harus menunggu dengan cemas, apa yang Kyuhyun butuhkan. Kyuhyun boleh meminta apa saja, mereka akan mencoba mewujudkannya. Tapi jika putra manisnya itu meminta Donghae… mereka tak tahu harus mengatakan apa.

 

“aku…” gumam Kyuhyun lemah. Tangannya ia naikkan menunjuk sebuah selang yang terhubung dengan hidungnya. “bolehkah aku melepas ini?” tanyanya polos.

 

Secara bersamaan sepasang suami istri itu menghembuskan nafasnya lega, mereka bersyukur Kyuhyun tak meminta Donghae hari ini. Meski pasti setelah ini mereka harus mendengar rengekan-rengekan putranya yang manja itu.                                             

 

.

 

.

 

Lembaran daun maple yang menguning mulai berjatuhan, menimbun tubuh yang kini terbujur lemas itu bersama seseorang yang ikut terbaring disampingnya.

 

Kedua paras rupawan mereka saling berhadapan, satu diantaranya menutup mata dengan senyum mengembang pada wajah piasnya, dan seorang lainnya juga tersenyum namun dengan air mata yang sudah mengering di kedua sudut matanya.

 

“aku tak terlambat, bukan? Maafkan aku karena harus membuatmu menunggu…”

 

Tak ada jawaban, namun setetes air mata jatuh disudut manik yang tersembunyi itu, seolah memberi jawaban atas pertanyaan yang ia dengar.

 

“Choa?” tanyanya seraya mengelus lembut lengan kurus milik seseorang dihadapannya. “kau kan suka sekali musim gugur, dan sekarang kita menikmati musim gugur bersama seperti keinginanmu…” tuturnya lagi dengan suara parau menahan tangis.

 

Lagi tak ada jawaban, hanya kerjapan kecil dari kelopak mata sang adik yang memberinya jawaban.

 

Mataharinya… kini terkulai lemas meski tak urung ia tetap tersenyum dalam ketidak berdayaannya. Mataharinya yang tetap bersinar meski paras itu sudah tak mampu lagi menampakan sebuah tawa. Mataharinya yang sempat ia persalahkan atas sesuatu yang jelas-jelas bukan kesalahannya. Mataharinya…

 

“maafkan hyung, Kyuhyun-ah…”

 

“maaf… maaf…”

 

“Donghae-ya!! Donghae-ya!!” teriakan-teriakan diiringi denga suara bel dan juga ketukan kasar dipintu masuk apartemennya. Membuat Donghae terbangun dari dunia mimpi dan perlahan beranjak menuju pintu.

 

Ia berjalan gontai, memutar kenop pintu itu perlahan. Hingga akhirnya setelah pintu terbuka, sebuah rangkulan membuat kesadarannya kembali dengan utuh.

 

“Donghae-ya…” isakan wanita yang kini merangkulnya, ia memeluk Donghae semakin erat. Tangisnya kian nyaring ketika lengan kekar Donghae membals pelukan itu.

 

“eomma… kenapa? Apa yang terjadi?”

 

Eomma tak lekas menjawab, beliau hanya terus menangis dalam dekapan putra sulungnya. Isakannya terdengar begitu menyayat di telinga Donghae, membuat air mata Donghae ikut merembes dan siap jatuh membasahi pipinya.

 

“eomma… kenapa?”

 

“Kyuhyun… Kyuhyun, Donghae-ya… Kyuhyun-ie…”

 

.

 

.

 

Semua datang bagaikan badai, menghancurkan dan memprorak-porandakan semua. Andaikan ketika itu aku tak egois, apa yang mungkin akan terjadinya? Pada dia?

 

Dia… dia adalah matahari, jika matahari tak ada apa yang akan terjadi?

 

Ketika itu… aku, tak sanggup membayangkannya.

 

.

 

.

 

Derap langkah menggema di lorong bercat putih itu, lorong-lorong panjang dengan aroma khasnya yang menyengat di indera penciuman kita.

 

Mereka berlari membelah udara, menuju satu ruangan bernomor 135, nomor kamar rawat milik seseorang.

 

Kini langkah mereka berdua terhenti tepat di depan pintu, tangan salah seorang dari mereka bergetar hebat namun dengan susah payah ia meraih knop pintu dan memutarnya. Langkahnya pelan memasuki ruangan itu.

 

Satu orang yang ia lihat pertama kali. Appa yang tengah terduduk di samping sebuah pembaringan, menghalangi pandangan langsung Donghae pada seseorang yang terbujur itu.

 

Dengan air mata yang sudah berjatuhan, susah payah Donghae Manahan tangisannya. Langkah lemahnya membawa tubuh itu mendekat pada tempat tidur yang berada di dekat appa.

 

Melihat kedatangan Donghae, perlahan appa berdiri. Membuka pandangan yang sebelumnya tertutup oleh punggung yang tampak turun itu. Punggung yang semakin melemah karena di makan usia.

 

Namun seketika itu juga, tubuh Donghae merosot jatuh melihat pemandangan dihadapannya.

 

Dia… mataharinya…

Dia… Kyuhyun-nya…

 

Dengan berbagai macam alat yang menempel pada tubuh ringkih itu, perban yang melilit dikepalanya, dan juga sebuah tube yang masuk melalui bibir adik kecilnya yang mengering, yang bahkan membuat wajah tampan sang matahari terhalang hampir setengahnya.

 

“Kyuhyun-ah… KYUHYUN-AH!!!”

 

Tidak, ia tak bisa menerimanya.

 

Ia tak pernah menyangka keadaannya akan menjadi sepeerti ini, ia tak pernah menyangka akan menyaksikan keadaan adik tersayangnya semenyedihkan ini.

 

Andaikan saja semalam ia tak mengabaikan panggilan dan juga pesan dari eomma dan appa, mungkinkah ia akan dapat melihat manik jernih itu untuk yang terakhir kalinya?

 

Andaikan saja ia percaya bahwa keadaan Kyuhyun kemarin memang menurun dan bukan akal-akalan orang tuanya untuk membuat mereka bertemu, andaikan saja ia mempercayai itu. Akankah semuanya akan menjadi seperti ini?

 

“apa… apa yang sebeenarnya- terjadi… appa…”

 

Appa menundukan kepalanya, mencoba mengumpulkan kekuatannya yang beberapa jam terakhir seolah menguap entah kemana. Pria itu menghela nafasnya sebelum akhirnya membuka mulutnya, “kemarin pembuluh darah di otak Kyuhyun pecah… akhirnya terpaksa operasi harus dilakukan, oleh karena itu-”

 

Appa menunduk semakin dalam, sang kepala keluarga sudah tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya. Eomma yang sejak tadi terdiam di dekat pintu kini kembali terisak, ia menutup mulutnya. Menahan agar tangisannya tak terdengar.

 

Begitupun Donghae yang hanya mampu terpekur di lantai, ia terus menangis, merutuki kebodohannya. Sekarang ia benar-benar percaya kalau dirinya adalah orang terbodoh di dunia.

 

Cho Donghae bodoh!!

 

Cho Donghae bodoh!!

 

.

 

.

 

Penyesalan tak akan pernah berguna meski kau ucapkan berkali-kali.

 

Penyesalan hanya akan menjadi beban hidup yang semakin lama akan semakin menumpuk dan menyiksa diri sendiri.

 

Hanya itu yang aku pikirkan. Kehilangan bukan segalanya, dan aku harus bangkit demi dia…

 

Itulah alasanku mengapa tetap berdiri, mengapa aku tetap kuat berada disini. Aku tak ingin menyesal lagi, aku tak ingin menyia-nyiakan apapun lagi, aku tak akan melakukannya.

 

Aku berjanji, matahariku…

 

.

 

.

  • 5 years later –

 

 

Musim gugur datang lagi, pemuda itu melangkahkan kakinya pasti dengan sebuket bunga mawar putih cantik ditangannya. Sesekali ia mendongak, melihat pepohonan dengan daunnya yang mulai menguning.

 

Senyumnya mengembang tatkala memory tentangnya dan si penyuka musim gugur yang akan ia kunjungi hari ini menguar bagaikan aroma bunga.

 

Terasa indah dan terus teringat. Sebuah kenangan yang selalu membuatnya mampu bangkit dalam setiap keterpurukan.

Sekarang kakinya telah menapak di tempat tujuan, seseorang yang amat ia sayangi yang sudah beberapa bulan terakhir tak pernah ia temui. Bukannya ia tak ingin bertemu, tapi karena tuntutan profesi ia harus pergi ke Jepang selama beberapa waktu dan meninggalkan negri kelahirannya, meninggalkan keluarganya, meninggalkan… mataharinya…

 

“sudah datang?!” teriakan nyaring menyadarkan pemuda itu dari lamunannya, senyumnya mengembang melihat langkah cepat seseorang yang mendekat padanya.

 

Seseorang dengan toga hitam dan beberapa buket bunga yang memenuhi tangan kurusnya.

 

“selamat atas kelulusanmu Little Cho!!!” seruan riang ia teriakan sembari melebarkan kedua tangannya, siap memberi pelukan pada Little Cho yang nyatanya sudah mendapatkan gelar sarjananya hari ini.

 

“aku sudah sarjana, Donghae Hyung!!! Jangan panggil aku Little Cho lagi!!” gerutunya dengan bibir mengerucut. Namun Donghae tak perduli, ia abaikan gerutuan manis itu dan memeluk tubuh tinggi adiknya erat.

 

“selamat Little Cho… selamat Kyuhyun-ah… selamat matahariku…”

 

Kyuhyun tersenyum mendengar tiga namanya disebut, ia menyimpan dagunya di bahu Donghae. Membalas pelukan itu dengan cara lain. Salahkan eomma yang membawa buket bunga begitu besar, dan salahkan juga popularitasnya yang membuatnya menerima banyak bunga di hari kelulusannya itu hingga ia bahkan kesulitan untuk membalas pelukan kakak tercintanya.

 

Tak jauh dari keduanya, eomma dan appa tengah sibuk memotret momen kebersamaan Donghae dan Kyuhyun. Mengabadikannya dalam kamera digital yang mereka bawa.

 

“eomma! Appa! Kenapa hanya memotret? Kalian tak merindukanku?” itu suara Donghae, pria yang sudah mencapai usia dewasa itu tampak merajuk pada kedua orang tuanya. Kyuhyun yang melihat itu mendecih seraya menggelengkan kepala tak percaya.

 

“aku rasa yang Little Cho itu kau! Bukan aku hyung!”

 

Donghae hanya tersenyum tak membalas. Kini keluarga kecil itu berkumpul di hari special sang adik tercinta.

 

Sang matahari yang mampu bertahan hingga detik ini, sang matahari yang mampu melewati masa kritisnya lima tahun yang lalu.

 

Meski dokter mengatakan pembuluh darah Kyuhyun bisa pecah kembali kepan saja, namun mereka bersyukur. Setidaknya Tuhan masih memberikan satu lagi hari bahagia untuk mereka lewati bersama-sama.

 

Mereka hanya akan melalui hari-hari dengan penuh rasa syukur dan saling percaya. Hanya itu… dan kini mereka bahagia.

 

.

 

.

 

Aku tak ingin menjadi orang bodoh lagi untuk bahagia, bukankah itu sikap yang egois?

 

Aku akan menjadi orang cerdas untuk bahagia. Menerima semua kenyataan dengan lapang dada, melaluinya dengan sepenuh hati, dan mempercayai bahwa selalu ada alasan dibalik segala yang terjadi.

 

Semua tak terjadi begitu saja, ada sebab akibat yang menjadi alasannya. Aku percaya itu…

 

Karena matahariku… aku juga bersyukur, karena hingga hari ini Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihat matahariku. Menikmati hari-hari kebersamaan kami yang entah akan bertahan sampai kapan…

 

Matahariku… Cho Kyuhyun… Little Cho… terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku, dan terimakasih karena kau bersedia untuk bertahan hingga hari ini…

 

Matahariku… aku menyayangimu…

 

END

 

Semoga tidak mengecewakan walopun kha kurang percaya diri buat publis ini, dan Sampai jumpa di ff Kyuhae selanjutnya dengan genre yang sebelumnya gak pernah kha coba. 😀

Umbrella (Chapt. 7 – All about me)

Apartemen mewah dengan lampu kristal yang bergantung tepat di tengah ruangan, cat merah menyala mewarnai beberapa sudut ruangan itu. Menimbulkan kesan berani dari sang pemilik yang mendesain hampir keseluruhan interior kediamannya.

 

Seperti warna kesukaannya yang menandakan keberanian. Beberapa orang menyebutnya pemberani dan egois, tak pernah mau mendengarkan orang lain dan semua yang ia lakukan hanya karena dirinya, karena keinginannya.

 

Seperti itulah tanggapan masyarakat padanya. Stigma yang membuatnya benar-benar hidup layaknya tuduhan mereka, namun mereka sama sekali tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, apa isi hatinya yang selama ini terpendam dan tak pernah dapat ia ungkapkan.

 

Bola matanya mengedar keseluruh ruangan, menatap satu persatu barang-barang yang tertata rapi di sekitarnya. Lalu, pandangan itu berhenti pada satu lemari kaca berbingkai kayu yang tampak mengkilap.

 

Didalam sana, beberapa piala dan piagam penghargaan yang mencantumkan namanya sebagai sang peraih, pemilik gelar terbaik dari yang terbaik. Dan puncaknya adalah gelar sebagai actor paling terbaik yang baru saja ia raih sekitar dua bulan lalu. Salah satu penghargaan tertinggi dari acara award tahunan di Korea selatan.

 

Pria dengan paras androgini itu menghela nafasnya tatkala sepasang maniknya bertemu pandang dengan sorot mata sarat akan kebahagiaan, milik seseorang yang berdiri disampingnya dalam potret yang juga terdapat dalam lemari itu.

 

Dia… “eomma…”

 

Karirnya sebagai actor dan juga sang eomma, dua hal yang tak dapat dipisahkan. Semuanya memang karena eomma, terlepas dari sikapnya yang egois. Pada kenyataannya ia tak pernah sekalipun melawan eommanya, ia tak pernah sekalipun mengeluh ketika jadwal padat menghampirinya padahal ketika ia memulai semua ini usianya bahkan baru genap tujuh tahun. Usia dimana bermain merupakan suatu kebutuhan.

 

Bukannya berpose di depan kamera, melambaikan tangannya ketika banyak orang yang mengelu elukan namanya. Mungkin karena ia mulai jenuh dengan semua itu, ketika seorang Kim Hee Chul beranjak remaja sikap egoisnya sedikit demi sedikit mendominasi dan si manis Kim Hee Chul perlahan-lahan mulai mati.

 

Apakah semuanya juga karena eomma?

 

Kim Hee Chul menggelengkan kepalanya, menolak pemikirannya sendiri yang kerap kali datang dan membuatnya selalu berpikiran buruk tentang wanita yang melahirkannya itu.

 

Mungkin ini memang takdirnya, menjadi seorang actor karena ibunya juga seorang aktris. Terdengar tak masuk akal, seolah hidupnya ini adalah hidup lain milik ibunya.

 

Lalu bagaimana dengan hidupnya sendiri? Sejujurnya Kim Hee Chul tak pernah tahu apa itu hidup untuk diri sendiri, karena semua yang ia lakukan hanya untuk satu orang saja, eomma… wanita yang sudah merawatnya selama ini.

 

“bukankah rasanya kesepian hanya melakukannya sendiri? Jika kau mau kau boleh bergabung dan hidup bersama dengan sebelas orang lainnya, kau bisa bernyanyi dan menari bersama, kau juga bisa berbagi banyak hal. Bukankah itu menyenangkan?”

 

Tiba-tiba saja suara itu kembali berdengung ditelinganya, seperti suara bisikan yang membuatnya terus memikirkannya tanpa henti. Mempengaruhinya dan membuatnya mulai membayangkan kehidupan yang orang itu janjikan. Kehidupan menyenangkan dimana ia bisa berbagi dengan orang lain, menyalurkan bakatnya yang selama ini ia sembunyikan dari sang eomma. Bernyanyi dan menari.

 

“anak itu, mantra apa yang sudah ia ucapkan sampai aku memikirkannya seperti ini?” gerutu Hee Chul sembari beranjak dari sofa di ruangan utama apartemen mewahnya yang… terasa begitu sunyi.

 

Ia berjalan menuju dapur, mengambil sebotol air mineral dari lemari es dan meneguknya hingga tandas. “tidak Kim Hee Chul… jangan dengarkan dia… jangan dengarkan ucapannya, kau tahu sendiri bahkan Park Jung Soo bisa terpengaruh. Jadi kau harus teguh pada pendirianmu, kau seorang actor! Bukan…”

 

Monolognya terhenti, angan Hee Chul melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Ketika ia berada di studio Je Ha Ent., ketika ia menatap bola mata penuh keyakinan milik seorang Cho Kyuhyun.

 

Anak itu…

 

.

 

.

 

Suasana sedikit tegang disana. Leeteuk, Eunhyuk dan Donghae duduk bersama di sofa panjang yang terletak ditengah, diapit oleh dua buah kursi yang saling berhadapan yang ditempati Kim Hee Chul dan juga Kyuhyun yang saling melempar glare masing-masing.

 

Bola mata Hee Chul menatap Kyuhyun dari atas hingga bawah, menganggukan kepalanya sambil sesekali berdecak. “ jadi kau Cho Kyuhyun?” tanyanya yang dibalas Kyuhyun dengan anggukan singkat.

 

“ya, dan aku tahu kau Kim Hee Chul,” komentar Kyuhyun dengan nada bicaranya yang terdengar dingin.

 

Keduanya kini terdiam, saling menilai satu sama lain dan berkomentar banyak hal dalam benak masing-masing.

 

“hyung, kenapa mereka diam?” Donghae bercicit tepat ditelinga Leeteuk. Ini memang kali pertama mereka bertemu, tapi sikap Donghae yang mudah dekat dengan orang lain membuatnya tak canggung untuk memanggil Jung Soo dengan sebutan hyung meskipun sebelumnya mereka belum pernah bertemu. Apalagi Kyuhyun bilang jika dirinya dan Eunhyuk berhasil melalui tiga bulan masa percobaan, maka bisa dipastikan mereka akan berada dalam satu group yang sama.

 

Leeteuk tak menjawab, ia hanya menggeleng memberi tanggapan. Sementara Eunhyuk yang sejak tadi diam, masih terus memandang Hee Chul takjub. Sungguh ini kali pertamanya berada dalam satu ruangan dengan seorang bintang. Kim Hee Chul!!

 

Kaki jenjang milik Kim Hee Chul ia naikan, bertumpang dengan kaki yang satunya. Tangannya terlipat di depan dada dengan posisi tubuh yang santai bersender pada sandaran kursi. “baiklah Cho Kyuhyun-ssi, aku tak suka berbasa-basi. Jadi aku akan langsung berbicara pada intinya,”

 

Kyuhyun mendengarkan dengan seksama, menatap Hee Chul intens dengan bola mata kecoklatannya.

 

“kau tahu? Park Jung Soo itu orang paling naïf yang pernah aku temui,”

 

Leeteuk-Park Jung Soo- membulatkan matanya, bibirnya mengerucut mendengar perkataan Heechul.

 

“ya, lalu?”

 

“karena kenaifannya itu dia mudah sekali dibodohi,”

 

“aku tahu, dan aku juga bertemu orang-orang bodoh semacam itu kemarin,” tutur Kyuhyun seraya mendelikan matanya kearah Donghae dan Eunhyuk. Hee Chul mengikuti arah pandang Kyuhyun, mengabaikan tatapan tak terima orang-orang yang menjadi objek pembicaraan.

 

“apa kau berniat mengoleksi orang-orang ‘bodoh’ kyuhyun-ssi?” komentar Hee Chul sarkastik. Kyuhyun hanya mengedikan bahunya dan lalu ikut bersandar pada sandaran kursi.

 

Tangan anak itu ikut terlipat didepan dada dengan kaki yang juga di tumpangkan membuat pose mereka menjadi serupa. “bukan berniat mengoleksi, tapi mau bagaimana lagi. Ternyata konsep yang aku buat memang cocok untuk orang-orang bodoh. Orang-orang bodoh dengan impian yang sama bodohnya dengan impianku,”

 

Hee Chul termangu, tanpa ia sadari Kyuhyun menggiringnya pada pembicaraan yang bocah itu inginkan. Meski tampak dirinya yang memimpin percakapan disini, tapi pada kenyataannya Kyuhyunlah yang justru mendominasi. Bahkan ia dapat mengungkapkan apa yang ia pikirkan tanpa harus mengkhususkan percakapan tersebut.

 

“ah, jadi sekarang aku sedang berkumpul dengan orang-orang bodoh?”ujar Hee Chul seraya terkekeh, ia masih mencoba bersantai walaupun ia sudah hampir kalah bahkan ketika pembicaraan mereka baru dimulai. “baiklah, jadi impian bodoh macam apa yang kau miliki? Bahkan kau sampai berani melibatkan beberapa orang bodoh didalamnya,”

 

Kyuhyun menarik nafas dalam, ia menegakkan posisi tubuhnya. “dua belas orang, mereka ada dua belas orang. Dan mengenai impianku, impianku adalah… kau tanyakan saja pada mereka,” tunjuk Kyuhyun dengan dagunya, pada ketiga orang yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.

 

Ketiganya terkesiap, sementara Hee Chul hanya mendecak sambil menyeringai. “bukankah itu terdengar terlalu abstrak, Kyuhyun-ssi? Seolah kau sendiri tak punya impian dan kau hanya melemparkan pertanyaanku pada mereka… dan satu lagi, dua belas orang kau bilang? Bahkan itu lebih banyak dari satu tim sepak bola,”

 

Senyuman kecil terpatri di bibir penuh Kyuhyun, “mungkin memang terdengar abstrak, tapi kalau kau tahu apa impian mereka tentu itu akan menjadi jelas, bukan? Impian mereka adalah impianku. Disini kita bersama-sama mewujudkan impian kita. Dan mengenai jumlah anggota… Kim Hee Chul-ssi, bagaimana rasanya melakukan semua itu sendiri? Maksudku, pekerjaanmu?”

 

Hee Chul terdiam, ia menelan salivanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu.

 

“bukankah rasanya kesepian hanya melakukannya sendiri? Jika kau mau kau boleh bergabung dan hidup bersama dengan sebelas orang lainnya, kau bisa bernyanyi dan menari bersama, kau juga bisa berbagi banyak hal. Bukankah itu menyenangkan?” lanjut Kyuhyun, sambil terus menatap pria cantik dihadapannya.

 

Leeteuk ikut menatap Hee Chul, tanpa seorangpun disana sadari ia tengah tersenyum. Cho Kyuhyun memang hebat. Ia selalu berhasil mengarahkan pembicaraan pada topic yang ia inginkan, membuat lawan bicaranya selalu terjebak dan tak dapat mengelak.

 

‘Hee Chul-ah… kau kalah…’

 

.

 

.

 

“darimana kau tahu dia suka bernyanyi dan menari, Kyu?”

 

“aku hanya mencoba peruntunganku hyung, dan sepertinya aku memang sedang beruntung akhir-akhir ini,” tukasnya sambil tersenyum.

 

“michosseo Cho Kyuhyun,” umpat seseorang di sebrang sambungan sana.

 

Kyuhyun tak mencoba membela diri, dia hanya tertawa kecil. Sepertinya dia memang gila, dia mencoba peruntungannya tadi sore, meski Hee Chul tak memberi jawaban tapi sepertinya ia berhasil.

 

“sebenarnya, aku ingat kau pernah mengatakan padaku kalau kau punya seorang teman yang sangat berbakat dalam bernyanyi ataupun menari. Jadi aku pikir mungkin itu Kim Hee Chul, teman pertama yang kau bawa padaku…” aku Kyuhyun pada akhirnya.

 

Hening. Tak ada tanggapan dari sebrang sana, sementara kaki kurus milik Kyuhyun terus melangkah menyusuri jalanan lebar di sebuah kompleks perumahan elite sekitar kediamannya.

 

“tidakkah ini terlalu random Kyu? Kau merekrut siapapun yang kau temui…” ujar lawan bicaranya, mengganti topic pembicaraan.

 

Langkah Kyuhyun terhenti, nafasnya tertahan di tenggorokan. “apakah kau meragukanku, hyung?” tanyanya pelan.

 

“tidak, bukan begitu Kyu. Bukan itu maksudku…”

 

“lalu apa?”

 

Hening kembali menyelimuti pembicaraan via telephone tersebut, Leeteuk terdiam. Begitupun Kyuhyun yang juga terdiam dengan raut kecewa di wajahnya.

 

“lalu apa, hyung? Maafkan aku jika membuatmu ragu-”

 

“tidak, Kyuhyun-ah! Sudah aku bilang bukan itu maksudku, aku tak meragukanmu sungguh! Hanya saja… hanya saja, aku minta kau tidak perlu terburu-buru. Lakukan saja perlahan, dan kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri…”

 

Kyuhyun tersenyum, “tak apa kalau kau meragukanku, hyung… aku tak keberatan. ” katanya sembari melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. “akan lebih baik jika seperti ini, katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan memendamnya…”

 

Terdengar kekehan dari sebrang sana, “ya! Kau berbicara seolah kau lebih tua dariku, Kyuhyun-ah!”

 

.

 

.

 

Pukul enam pagi tepat. Remaja berusia enam belas tahun itu sudah terduduk di depan pagar rumahnya, meninggalkan ruang makan dan memutuskan untuk menyantap sarapannya disana. Membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya dan hanya bisa diam ketika putra bungsunya menjawab kalau ia akan menunggu harta karunnya.

 

Tangan pucatnya memeluk botol minum berisi susu hangat yang dibuatkan eomma. Roti isi, menu sarapannya sudah habis ia lahap beberapa menit yang lalu. Kini ia masih menunggu, menunggu harta karun yang kemarin ia lewatkan.

 

“wae geureon yaegi moshaessnyago mureusindamyeon… gaseumi apa amu daedapdo moshajanayo… geujae amugeosdo geudaen moreunchae… jigeumcheoreomman gieokhamyeon dwaeyo…”

 

Bola mata anak itu membulat ketika suara lembut yang kemarin ia dengar kini menyapa pendengarannya, ia beranjak dengan penuh semangat. Melompat kearah jalanan dan mencegat seseorang dengan sepeda tuanya.

 

“OUUWWAAA!!”

 

Pekikan nyaring itu membuatnya reflex menutup telinga, ia meringis ketika menyadari mungkin kedatangannya membuat orang itu terkejut setengah mati.

 

“ups, maaf…” ujarnya sambil menyatukan kedua tangannya, tak lupa dengan botol minum yang juga masih ia genggam.

 

“NUGUSEYO?!!” pekik orang itu lagi.

 

“namaku Kyuhyun,”

 

“KENAPA KAU TIBA-TIBA MELOMPAT KEJALANAN?! KALAU AKU MENABRAKMU BAGAIMANA?! ”

 

Lagi-lagi Kyuhyun meringis, ia menepuk-nepuk telinganya yang sepertinya hampir tuli mendengar teriakan-teriakan nyaring orang dihadapannya ini.

 

“wahh… badanmu kecil tapi suaramu nyaring sekali,” komentar Kyuhyun sambil tersenyum.

 

Sedangkan si anak pembawa sepeda hanya menatapnya tak suka, ia mendengus sebal dan berlalu meninggalkan Kyuhyun begitu saja.

 

Kyuhyun tak mau menyerah, ia mengekori anak itu dan memberendelnya dengan bermacam-macam pertanyaan. “siapa namamu? Dimana kau tinggal? Kau sekolah dimana? Sejak kapan kau suka bernyanyi? Apa kau juga suka menari?”

 

Tak ada jawaban, Kyuhyun diabaikan. Namun bukan Kyuhyun namanya jika ia harus berhenti bahkan ketika ia baru memulainya. Baginya segala sesuatu yang ia inginkan harus ia dapatkan, seberapa beratpun perjuangannya tak jadi masalah, yang penting ia harus mendapatkannya.

 

“hei! Hei! Siapa namamu? Ayolah jawab…” pinta Kyuhyun masih terus mengekori pemuda dengan sepeda tua yang membawa beberapa gulung Koran dan juga beberapa kotak susu itu.

 

Tetap tak ada respon, Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk mengikutinya saja. Sepertinya anak itu memang belum mau bicara padanya, atau mungkin dia masih marah soal yang tadi?

 

“apa kau masih marah karena aku membuatmu terkejut? Maafkan aku…” mohon pemuda pucat itu. Ia mengerucutkan bibirnya dan menampakan wajah menyesal.

 

“Mianhaeyo…”

 

“DIAM!”

 

Kyuhyun tersentak, namun tak urung ia tetap tersenyum karena akhirnya mendapat tanggapan. Pemuda dihadapannya mulai berbalik setelah sebelumnya menyandarkan sepedanya pada pagar disamping jalanan terlebih dahulu.

 

Ia menatap Kyuhyun kesal, “tidak bisakah kau diam?”

 

“aku akan diam.” Jawab Kyuhyun cepat, ia melempar senyum manisnya. “tapi… bolehkah aku tahu siapa namamu?” tanyanya tak mau berhenti.

 

Pria bertubuh sedikit pendek dari Kyuhyun itu mendengus, ia membuang napasnya kasar. “aku rasa kau baru mengatakan kalau kau akan diam bukan, tuan cerewet?”

 

“aku akan diam, tapi beritahu aku siapa namamu!”

 

“aish, namaku Kim Ryeowook! Aku sudah memberitahumu, jadi sekarang pergi!” seru Ryeowook sambil berbalik menuju sepedanya. Ia lanjutkan kembali pekerjaannya, mengantar susu dan juga Koran yang hanya tersisa tak lebih dari lima buah lagi.

 

Ia harap orang aneh itu tak mengikutinya lagi, biarlah orang itu tahu namanya. Baginya itu tak begitu penting, akan tetapi…

 

“KENAPA KAU MASIH MENGIKUTIKU?!! KAU SUDAH TAHU NAMAKU, JADI KAU HARUS PERGI!!”

 

“aku tak berjanji untuk itu, aku hanya bilang kalau aku akan diam,” balas Kyuhyun. “jadi jangan hiraukan aku, lanjutkan saja perjalananmu,” katanya sambil tersenyum manis.

 

Ryeowook menyerah, ini pertama kalinya ia bertemu orang keras kepala seperti dia.

 

.

 

“ahjussi aku kembali!”

 

“eoh, Ryeowook-ah! Gantilah dulu pakaianmu, aku akan ambil uangnya,”

 

“Ye, ahjussi!”

 

Kyuhyun berdiri menunggu Ryeowook keluar dari bangunan itu, ia menatap setiap sudut bangunan dengan beberapa sepeda yang terparkir di halamannya. “jadi dia bekerja disini… ” gumamnya pelan.

 

Seorang pria tua yang tadi Ryeowook panggil ahjussi keluar dari dalam bangunan, ia melirik Kyuhyun yang berdiri di depan pintu sambil memeluk botol minumnya.

 

“hei haksaeng!” panggilnya.

 

Kyuhyun mengerjap, ia menunjuk dirinya sendiri. “ahjussi memanggilku?” tanyanya.

 

Ahjussi mengangguk, membuat Kyuhyun mendekat tanpa diminta.

 

“kau datang dengan Ryeowook, bukan?”

 

Kyuhyun mengangguk cepat membenarkan.

 

“kalian berteman?”

 

Lagi-lagi Kyuhyun mengangguk, walaupun hari ini mereka belum menjadi teman. Tapi Kyuhyun yakin suatu hari nanti mereka akan menjadi teman baik. Ia percaya itu.

 

Ahjussi tersenyum, ia menghembuskan napasnya lega. “ah… syukurlah, aku rasa Ryeowook tak memiliki teman di sekolahnya. Tapi ternyata ia memiliki teman dari sekolah lain, bagus sekali…”

 

Alis Kyuhyun bertaut, tak memiliki teman disekolahnya? Bukankah itu tak masuk akal? Bagaimana mungkin ia tak memiliki satu orang temanpun disekolahnya? Kecuali kalau ia tak mau berbaur dengan mereka, tapi tetap saja itu terdengar mustahil.

 

“oh, ya ahjussi… boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

 

“tentu, apa yang ingin kau tanyakan?”

 

“Ryeowook-ssi, apakah ia sudah lama bekerja disini?”

 

Ahjussi tak lekas menjawab, tampaknya ia tengah mengingat-ingat sejak kapan Ryeowook bekerja bersamanya. “mm… seingatku sejak dia masih di sekolah menengah pertama, jadi mungkin… sekitar tiga tahun,”

 

Kyuhyun mengangguk paham, ternyata sudah cukup lama Ryeowook bekerja disini. “lalu-”

 

“ahjussi!”

 

Kalimat Kyuhyun terpotong oleh teriakan nyaring milik seseorang yang sejak tadi ia ikuti, Kim Ryeowook.

 

“eoh Ryeowook-ah, kau sudah selesai?”

 

Ryeowook tersenyum menanggapi, ia menata seragamnya sekilas dan berjalan menghampiri ahjussi.

 

Kyuhyun masih berada disana, menatap seragam milik Ryeowook dengan logo sekolah seni Seoul. Salah satu sekolah seni yang cukup terkenal, sekolah yang juga mengingatkannya pada Choi Siwon. Apakah mungkin mereka juga saling mengenal?

 

“ambillah ini, dan juga ini…” ahjussi mengulurkan beberapa lembar won dan juga sekotak susu, Ryeowook menerimanya dengan senang hati seraya mengulum senyum manis diwajah mungilnya.

 

“terimakasih ahjussi,” katanya ramah, namun pandangannya teralihkan ketika melihat Kyuhyun yang ternyata masih berada disana. “kau belum pergi juga?”

 

Kyuhyun tersadar dari lamunannya, “ah, ya… aku menunggumu,”

 

Ryeowook meraih ponsel di saku seragamnya, alisnya bertaut ketika melihat pukul berapa sekarang. “kau tahu jam berapa sekarang, tuan cerewet?” Tanya Ryeowook sinis.

 

Kyuhyun mengedikan bahunya lalu menyingkap lengan seragam yang menutupi jam tangannya, “MWO? Jam tujuh tiga puluh?! Kim Ryeowook!! Kenapa tidak memberi tahuku sejak tadi!! Aish!! Aku terlambat!!”

 

Tanpa permisi Kyuhyun berlalu meninggalkan Ryeowook yang melongo di buatnya, begitupun ahjussi yang juga terkejut dengan perubahan sikap Kyuhyun yang begitu cepat dan drastis.

 

Baru beberapa meter Kyuhyun menjauh, langkahnya terhenti seketika. Ia berbalik menghadap kearah Kim Ryeowook dan juga ahjussi berada. “Ryeowook-ssi!! Aku akan menemuimu lagi nanti!! Sampai jumpa!!” teriaknya seraya melambaikan tangan dan berlari menjauh.

 

Sementara sepeninggal Kyuhyun, ahjussi terkekeh geli. Ia menggelengkan kepalanya dan menepuk bahu Ryeowook pelan. “temanmu sungguh unik Ryeowook-ah,” komentarnya sambil lalu meninggalkan Ryeowook.

 

Ryeowook melihat kearah Kyuhyun pergi, tanpa terasa ia juga tersenyum kecil mengingat sikap anak itu. seorang anak aneh yang terus mengikutinya pagi ini. “ada-ada saja…”

 

.

 

.

 

“sekarang kau punya waktu untuk mentraktirku cake, Kyuhyun-ah?”

 

“jangan bicara Changmin-ah atau aku akan memintamu membayar semuanya,”

 

Changmin mengatupkan bibirnya, ia membuat isyarat menarik resleting di depan bibirnya. Isyarat tutup mulut? Sepertinya begitu.

 

Pemuda jangkung itu terus menyantap tiga macam cake di depannya, cake yang sahabatnya belikan hari ini. Membiarkan sang pembeli melamun sejak tadi.

 

Biarlah pikirnya, yang penting sore ini ia kenyang dan bisa makan cake sebanyak apapun yang ia suka, walaupun sebenarnya ini sedikit janggal. Karena setahunya Ketika Kyuhyun mentraktirnya makanan, setelahnya ia pasti menginginkan sesuatu dari dirinya, ia berharap itu tak terjadi.

 

“Changmin-ah,” panggil Kyuhyun.

 

Changmin hanya menggumam tak jelas ditengah kunyahannya, tak memperdulikan Kyuhyun yang kini mengalihkan seluruh atensinya pada seorang Shim Changmin.

 

“Changmin-ah… Jaejoong hyung… bukankah dia mengajar di sekolah seni Seoul?”

 

Changmin mengangguk membenarkan sambil terus melahap cake nya, sementara Kyuhyun mengangguk kecil dengan senyuman mengembang di bibirnya. Seolah ia mendapatkan apa yang ia inginkan, remaja itu tersenyum semakin cerah dengan kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Memperhatikan Changmin yang masih berjibaku dengan semua cake nya itu.

 

“kalau begitu… dia pasti punya daftar siswa sekolah itu bukan?”

 

Tak menjawab, lagi-lagi Changmin hanya mengangguk tak peduli. Begitulah Shim Changmin, baginya makanan adalah segalanya. Jika ada makanan di depannya maka ia akan lupa dengan segala hal, ia juga tak akan peka dengan sekitarnya.

 

“Changmin-ah… bolehkah aku minta tolong padamu?” ujar Kyuhyun dengan senyuman sarat akan permohonan dan tentunya sedikit seringaian penuh ancaman.

 

Kali ini Changmin menghentikan aktifitasnya, benar saja apa yang ia duga. Pasti ada maksud lain dibalik sikap Kyuhyun yang tiba-tiba saja memberinya banyak makanan, dan ternyata sekarang itu terbukti.

 

Shim Changmin, kau terjebak!

 

.

 

.

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sun (Chapt.2)

sun2

 

Note : Italic = Donghae POV

 

Semua berlalu bagaikan hembusan angin, tak ada jejak namun dingin itu tetap terasa menusuk setiap inci kulitku yang ia sentuh.

 

Akan tetapi, ketika aku mendongak dan menatap langit. Disana, nun jauh disana. Ada matahari yang selalu bersinar terang dan menyebarkan kehangatannya.

 

Matahari yang seolah selalu tersenyum tiap kali mataku memandangnya. Matahari yang selalu memperlihatkan satu bagian dirinya saja dan bagian tergelap dirinya yang ia sembunyikan dibalik sang malam.

 

Matahari yang seakan selalu berkata…

 

“tidurlah ketika kau tak melihatku, dan ketika pagi menjelang aku akan datang membawa kehangatanku untukmu,”

 

Sesungguhnya itu harapanku…

 

.

.

 

“Donghae hyung!!”

 

Donghae berbalik, mendapati seseorang dengan kulit pucat itu tengah berdiri sembari melambaikan tangannya. Tersenyum, senyuman kecil muncul di bibir manis seorang Cho Donghae.

 

Bagaimana tidak? Anak itu, Cho Kyuhyun adiknya. Mataharinya tengah tersenyum amat cerah sembari sesekali melompat-lompat. Menyuruhnya untuk datang mendekat. Tidakkah dia tampak sangat lucu?

 

Dengan sepasang kaki kekarnya itu, Donghae berlari mendekat pada Kyuhyun, keduanya saling melempar senyum. Tampak jemari milik Donghae mengusak surai adiknya gemas, membuat Kyuhyun mendengus kesal pada akhirnya.

 

“Donghae hyung berhenti!! Kau membuatku tampak seperti anak kecil, tahu?!” gerutu Kyuhyun kesal seraya menghempaskan tangan Donghae.

 

Namun tak urung Donghae tetap mengumbar senyumnya dan bahkan ia mulai menjahili Kyuhyun dan sesekali menggelitiknya. “Ya!! Hyung berhenti!! Ini tempat umum!!”

 

Tawa Donghae pecah. Gemas, Donghae cubit pipi adiknya yang terlihat sedikit tirus dibanding beberapa bulan lalu. “arrasseo Cho Kyuhyun-ku~ baiklah, jadi sekarang kita mau kemana hn?”

 

Jari telunjuk Kyuhyun mengetuk di sekitar dagunya, memikirkan kira-kira tempat apa yang sebaiknya mereka kunjungi hari ini. Setelah seharian mengerjakan tugas bersama teman satu kelompoknya di perpustakaan kota.

 

Kyuhyun singkap sedikit lengan bajunya, melihat jam berapa sekarang. “jam 2 siang,” gumamnya mambaca waktu yang ditunujukan arloji di lengannya.

 

“jadi kita kemana?” Tanya Donghae minta kepastian.

 

Remaja berusia empat belas tahun itu menarik dua tali ransel dibahunya, ia tampak menimbang. Sebaiknya pergi kemana sekarang? Dengan Donghae hyung…

 

“hei, Little Cho. Jadi kita kemana?”

 

Kyuhyun tersenyum menatap Donghae, sepertinya ia menemukan destinasi yang tepat untuknya dan Donghae kunjungi hari ini untuk menghabiskan akhir pekan.

 

“aku rasa… game center?”

 

.

.

 

Seorang wanita cantik berusia sekitar akhir tiga puluhan, ia tengah berjalan mondar mandir didepan gerbang rumahnya. Sesekali terlihat ia memeriksa jam tangan sewarna silver di lengannya. Menghitung sudah berapa jam kiranya mereka berdua pergi. Kedua putranya yang kini tengah ia nanti.

 

Derit pintu pagar besi tak cukup membuat perhatian wanita itu beralih, ia tetap menatap kearah jalanan, arah kedua putranya pergi tadi pagi.

 

“yeoboo…”

 

Wanita tersebut menoleh sekilas, ia tersenyum kecil namun tak dapat dipungkiri raut kecemasan terpatri jelas diwajah cantiknya.

 

“udaranya dingin sekali, sebaiknya kita tunggu didalam…” ujar lelaki yang tadi membuka pintu gerbang. Ia raih jemari lentik milik wanita dihadapannya, pendamping hidupnya selama ini.

 

Tak menjawab, sang istri hanya menggelengkan kepalanya. Menolak keinginan suaminya.

 

Belum menyerah pria itu menggenggam jemari istrinya semakin erat, “tanganmu sudah hampir membeku, sebaiknya kita masuk. Aku yakin Donghae dan Kyuhyun akan segera pulang…”

 

“aku menunggu disini saja yeoboo, lagipula ini sudah sangat malam dan mereka masih belum pulang juga. Haruskah kita pergi mencari mereka?”

 

“jangan cemas, Donghae pasti akan menjaga Kyuhyun dengan baik, jika seperti ini bisa-bisa kau yang sakit. Tentu kau tidak mau membuat mereka cemas, hn?”

 

Wanita itu tampak berpikir, apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga. Putra sulungnya pasti akan menjaga si bungsu dengan sangat baik, dan ia juga tak mau membuat kedua jagoannya cemas karena dirinya.

 

Menyerah, akhirnya keduanya memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Menghangatkan tubuh mereka yang selama beberapa waktu terus diterpa udara dingin di musim favorit putra bungsu mereka Kyuhyun. Musim gugur.

 

Namun belum sampai kaki mereka melangkah menuju pintu gerbang, suara panggilan membuat keduanya membalikkan tubuh dan menyambut dua orang yang berjalan mendekat kearah yang sama.

 

“eomma, appa… sedang apa kalian disini?” Tanya salah satu dari mereka.

 

“Donghae-ya, kau tahu ini jam berapa?” Tanya wanita tadi pada Donghae putra bungsunya, mengabaikan pertanyaan Donghae padanya. Roman wanita itu tampak sedikit marah.

 

Donghae menunduk menyadari kesalahannya, ia tahu benar eommanya pasti akan marah karena mereka pulang terlambat. “maaf eomma, kami pergi ke game center dan lupa waktu…”

 

Sang ibu mendesah mendengar pengakuan putra sulungnya, “Donghae-ya, bukankah eomma sudah mengatakannya padamu? Jangan pulang terlambat apalagi udara mulai dingin sekarang. Itu tidak baik untuk-”

 

“jangan salahkan Donghae hyung eomma, ini salahku.” Potong seseorang diantara mereka, seorang paling muda yang sejak tadi hanya diam.

 

“aku yang mengajak Donghae hyung ke game center, dan sejak tadi aku yang menolak untuk pulang. Donghae hyung sama sekali tak mengabaikan perintah eomma,” lanjut si bungsu yang turut menunduk dan menggenggam jemari kakaknya.

 

“tapi tetap saja, Donghae-ya kau adalah hyung, jadi seharusnya kau terus mengingatkan Kyuhyun… kau mengerti maksud eomma?”

 

Donghae mengangguk pelan. Adik kecilnya hendak kembali membela sang kakak namun secepat mungkin Donghae remas jemari adiknya, mengisyaratkan padanya untuk diam dan tak lagi membantah perkataan eomma.

 

Toh Donghae juga merasa kalau itu salahnya, karena Kyuhyun adalah adiknya. Kyuhyun tanggung jawabnya.

 

Namun Kyuhyun tetap tak terima begitu saja. Ia merasa kalau kakaknya sama sekali tak bersalah, semua ini sepenuhnya kesalahan yang ia buat. Jadi kenapa Donghae yang harus dipersalahkan atas semuanya?

 

“ingat Donghae-ya, jangan pernah sekali lagi kau pulang tengah malam seperti ini apalagi bersama Kyuhyun. Eomma tak suka.”

 

Setelah menuntaskan kalimatnya eomma masuk kedalam rumah sembari menarik tangan putra bungsunya yang trebebas, memisahkannya dari Donghae hyungnya yang terdiam didepan pagar bersama sang ayah.

 

“Donghae-ya,” panggil pria dewasa itu. beliau tepuk bahu Donghae dan menariknya mendekat, memberi kekutan secara tersirat pada putra sulungnya itu.

 

“jangan marah pada eomma, eoh? Kau tahu eomma seperti itu karena eommma sangat menyayangi kalian, kau mengerti kan?”

 

“aku mengerti appa…” jawab Donghae seraya tersenyunm.

 

Namun di lubuk hatinya yang terdalam, ada sesuatu yang membuatnya merasa jika eommanya tidak seperti biasanya. Eommanya tampak berbeda.

 

Entah sejak kapan ia tak yakin. Ia merasa eomma berubah, eomma tampak terlalu… protektif?

 

Benar, eomma sangat protektif beberapa waktu terakhir. Terutama jika itu menyangkut Kyuhyun. Tapi kenapa?

 

.

.

Bodoh bukan? Hanya karena ingin semuanya tetap sama, tak kuperdulikan itu dan aku abaikan semua. Aku hanya ingin bahagia, itu saja…

 

Tak lebih dan tak kurang…

 

Namun aku tak pernah berpikir jika keinginan itu adalah suatu kebodohan yang aku sesali seumur hidupku.

 

Kenapa? Kenapa dulu aku tak mencoba mencari tahu? Karena takut terluka? Karena takut kebahagiaanku terenggut karena sebuah kenyataan yang mungkin tak dapat aku terima?

 

Bodoh…

 

.

.

 

-3 years later-

 

“bisakah eomma memperlakukanku seperti biasa? eomma sudah berjanji untuk itu!!”

 

Pekikan keras membuat sebuah langkah terhenti tepat didepan pintu masuk rumah, tangannya yang tadi hendak membuka pintu ia urungkan. Perlahan ia dekatkan telinganya pada daun pintu, mencoba mencuri dengar perbincangan didalam sana.

 

“seharusnya kau mengerti Kyuhyun-ah, eomma seperti ini karena eomma menyayangimu. Kau tahu itu…”

 

“aku tahu!! Aku sangat tahu!! Tapi eomma berlebihan!! Aku baik-baik saja! semua baik-baik saja!!”

 

“Kyuhyun-ie… kau tahu semuanya tidak baik-baik saja, kau tahu eomma sangat menyayangimu. Karena itu eomma melakukan ini. Jadi bisakah kau mengerti? Sekali ini saja eomma mohon…”

 

“tidak bisa!”

 

Itu teriakan terakhir yang pria tersebut dengar sebelum suara langkah berderap yang sepertinya menapaki lantai kayu, anak tangga menuju lantai dua rumahnya.

 

Suasana kini hening, tak ada lagi teriakan dan perdebatan terdengar didalam sana. Menyisakan dirinya yang masih berdiam di depan pintu, tepat di teras depan rumahnya.

 

Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari tahu kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa dua orang didalam sana saling berteriak, mempertahankan ego masing-masing. Keadaan yang sebelumnya tak pernah ia temui selama Sembilan belas tahun ia hidup bersama mereka. Mereka…

 

Tepukan di bahunya membuat lamunan pria tersebut buyar, spontan ia berbalik menghadap seseorang yang baru saja membuat jantungnya hampir melompat.

 

“Donghae-ya? Kenapa berdiri di depan pintu?”

 

“eoh… appa…” gugup, Donghae tampak gugup ketika mengetahui appa memergokinya berdiri didepan pintu.

 

“apa yang sedang kau lakukan? Udara dingin sekali… ayo masuk!”

 

Appa menarik lengan pria berusia Sembilan belas tahun itu, Donghae menurut ikut masuk kedalam rumah dalam diam, tak menjawab pertanyaan yang appa berikan padanya.

 

Ia hanya merasa ada sesuatu yang tak beres dirumahnya, sesuatu yang tak ia ketahui. Entah apa, namun ia tahu ini sesuatu yang besar.

 

“eoh, yeoboo!” seru appa pada seorang wanita yang mematung tepat dibawah anak tangga. Itu… eomma.

 

Eomma mendongak, menatap kedua lelaki yang baru saja menapakan kaki mereka di bagian dalam rumah.

 

Awalnya semua baik-baik saja, namun ketika eomma melihat kedatangan Donghae. Roman wajahnya berubah, beliau nampak terperangah. Maniknya yang sedikit berkaca kini melebar menatap Donghae putra sulungnya.

 

“Donghae-ya… sejak kapan kau pulang?”

 

Hanya pertanyaan biasa, namun Donghae tampak tergagap. “baru- baru saja- ya, baru saja eomma…” bohongnya pada sang eomma.

 

Appa terdiam, menatap Donghae menyangsikan jawabannya.

 

Ketika ia datang Donghae sudah berdiri didepan pintu, sepertinya cukup lama apalagi ketika ia menarik jemari putranya itu. Telapak tangannya terasa dingin.

 

Dan tak mungkin jika Donghae baru datang tangannya sedingin itu, atau mungkin penghangat di mobilnya mati? Entahlah…

 

“appa, eomma… kalau begitu aku ke kamar dahulu,” ujar DOnghae dan berlari kecil menuju lantai dua, tempat kamarnya dan kamar Kyuhyun adiknya berada.

 

Sepeninggal Donghae, eomma menatap appa minta penjelasan. “kalian datang bersama?”

 

Appa yang sebelumnya menatap kepergian Donghae mengalihkan atensinya pada sang istri, “tidak, ketika aku datang aku lihat Donghae sudah berdiri di depan pintu. Aku tak mengerti kenapa ia harus berbohong kalau ia baru datang,” ujar appa seraya mengangkat bahunya.

 

Eomma tertegun, maniknya yang tadi berkaca kini mulai menjatuhkan air matanya. Tangannya yang saling menggenggam satu sama lain kian bergetar, dalam hati ia hanya mengucapkan seuntai harapan.

 

Semoga Donghae tak mendengar semuanya…

 

.

.

 

Kelam bergelayut di langit kota Seoul malam itu, diikuti dengan gemericik hujan yang membasahi tanah. Membuat udara dimusim gugur tahun ini terasa semakin dingin.

 

Seseorang tampak tengah berguling-guling diatas tempat tidurnya, ia masih terjaga namun sebisa mungkin ia menutup matanya. Mencoba untuk tidur dan melupakan semua yang ia dengar beberapa jam lalu, akan tetapi itu sama sekali tak membuahkan hasil. Kepalanya justru malah terasa sakit.

 

Akhirnya dengan gerakan lambat, ia singkap selimut yang membungkus tubuhnya, beranjak dari sana menuju pintu kamarnya. Berharap, mungkin dengan menghirup udara segar di balkon bisa membuatnya merasa lebih baik.

 

Sesekali terdengar helaan nafasnya, tubuhnya sungguh terasa lelah sekarang, tapi rasa keingin tahuannya memaksanya untuk terus berpikir dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi namun tak ia ketahui. Sesuatu yang berhubungan dengan keluarganya, dengan…

 

“Kyu…” mulutnya berucap ketika menemukan siluet seseorang di balkon lantai dua rumahnya. Dia, Kyuhyun.

 

Yang dipanggil menoleh, mengukir senyuman kecil dibalik wajah sayunya yang tampak semakin tirus.

 

Donghae berjalan mendekat pada balkon, menyunggingkan senyumnya dalam temaram dan lalu mengusak surai milik Kyuhyun lembut. “kenapa disini malam-malam?”

 

“mencari udara segar,” jawab Kyuhyun singkat.

 

Pandangan anak itu menerawang, memandang lepas langit kelam dan juga hujan malam itu, mengabaikan keberadaan Donghae disampingnya.

 

Sementara Donghae betah menatap wajah Kyuhyun, wajah pucat yang kini tampak jauh lebih tirus dari terakhir kali ia memperhatikannya seperti ini.

 

Sudah berapa lama ia tak menatap sang adik se intens sekarang? Mengapa banyak sekali yang berubah dari adiknya ini? Bahkan kini ia sudah jauh lebih tinggi dari dirinya.

 

“Little Cho masuklah, udara dingin sekali disini. Kau tahu? Eomma bisa-”

 

“marah?” sambung Kyuhyun dengan nada jengah.

 

Donghae terperangah mendengar nada bicara Kyuhyun. Tidak biasanya Kyuhyun bicara seperti ini, apa lagi mereka tengah berbicara mengenai eomma. Ia tahu benar betapa Kyuhyun menghormati dan menyayangi eomma.

 

Lalu kenapa sikapnya seperti itu?

 

“apa sekarang hyung juga akan bersikap seperti eomma dan appa?” Tanya Kyuhyun sinis. Ia tersenyum miring lalu kembali menatap langit.

 

Dahi Donghae berkerut tak mengerti, “apa maksudmu, Kyu?”

 

“aku hanya… ” kalimat Kyuhyun tak tuntas, entah mengapa tenggorokannya serasa tercekat. Kini ia menunduk menyembunyikan wajahnya, menyembunyikan kedua maniknya yang mulai basah.

 

Melihat bahu Kyuhyun yang tampak bergetar, Donghae tarik bahu kurus itu. Meraih dagu Kyuhyun dan mengangkatnya hingga kedua pasang mata mereka bertemu pandang.

 

“kenapa? Katakan padaku…” pinta Donghae tulus.

 

Tak lekas menjawab, sesaat Kyuhyun hanya terdiam tenggelam bersama isakan kecil yang terdengar membaur bersama bunyi rintikan hujan.

 

“aku benci mereka!! mereka selalu melarangku ini dan itu, hyung…” adu si bungsu diiringi tangisannya.

 

Mereka… Donghae tahu siapa yang Kyuhyun maksud, mereka adalah eomma dan appa.

 

Sebenarnya jika boleh jujur. Donghae juga merasakan hal yang sama, ia merasa eomma dan appa terlalu berlebihan menjaga Kyuhyun. Jangankah adiknya ini, bahkan dirinyapun mulai merasa jengah melihat sikap mereka, terutama eomma yang bahkan tak mengijinkan Kyuhyun untuk pergi dengan teman-temannya barang sekalipun tanpa pengawasan Donghae dan kedua orang tuanya.

 

Mereka memang mulai keterlaluan.

 

“Aku mengerti, akan aku bicarakan ini pada mereka…”

 

Kyuhyun terkesiap, bola matanya berputar menandakan kegugupan. “ah, tidak perlu hyung… aku baik-baik saja. Aku kekamar sekarang hyung hyung, juga cepatlah tidur udara semakin dingin,”

 

Setelah itu Kyuhyun berlalu begitu saja, meninggalkan Donghae dengan kebingungannya yang kian menjadi.

 

Semua hal yang terjadi akhir-akhir ini serasa bertumpuk saling tumpang tindih dibenaknya, terlalu banyak hal yang tak sesuai dengan pemahamannya. Ia merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari dirinya.

 

Sesuatu yang tak ingin Doghae ketahui.

 

.

.

 

Ketika kebohongan itu mulai tersingkap, aku ingin tahu…

 

Namun, aku terlalu pengecut untuk mencari tahu…

 

Andai saja… andai saja… namun semuanya terlanjur terlambat…

 

Tak ada yang bisa aku lakukan.

 

.

.

 

TBC

 

Sun tinggal 1 chapter lagi~~~ hihihiii

 

 

Umbrella (Chapt. 6 – The First Meeting)

umbrella 6

 

Ketika kau merasa dunia berpaling darimu, ingatlah mereka yang setia menatapmu dan mengucapkan kata semangat disetiap awal langkah yang kau ambil dikala fajar menyapa…

 

Dunia… bukan sekedar pijakan tempatmu berdiri. Tempatmu menumpahkan peluh demi sebutir nasi.

 

Dunia… adalah mereka yang setia berdiri bersamamu. Mereka yang tak pernah sekalipun putus memanjatkan sebuah doa pada tuhan, doa yang hanya diperuntukan bagimu.

 

Dunia… adalah mereka yang selalu menyambut langkah letihmu dengan senyuman merekah sarat akan bahagia dikala penguasa malam seolah mengukir kata pedih dalam setiap jengkal keberadaannya.

 

Dunia… adalah mimpimu… kebanggaan mereka… dirimu dan segala yang kau punya…

 

Itulah dunia.

 

.

.

 

Cicitan burung mengantar kayuhan sepeda tua membelah udara dingin sang fajar. Meski tulang sang pengemudi serasa rontok digerogoti suhu pagi itu namun, tak pelak ia tetap mengayuh sepedanya penuh semangat. Mengantar tubuh mungilnya menyusuri jalanan kota Seoul yang beranjak menuju satu kata memuakan. Sibuk.

 

Satu jam berlalu sejak ia keluar membawa setumpuk susu dan koran di keranjang sepeda bututnya, sedikit demi sedikit semua beban bawaannya mulai berkurang seiring dengan semakin jauhnya jarak yang ia tempuh. Mengantar mereka satu persatu menuju rumah-rumah pelanggan.

 

Kini, ia sampai di sebuah perumahan dengan deretan pagar tinggi menjulang di setiap sisinya. Nafasnya berhembus kasar, sesekali melirik deretan pagar dengan rumah mewah itu dan lalu menunduk merenung sesaat. Mengingat kesenjangan yang terjadi antara ‘dunia’ nya dan juga ‘dunia’ yang kini terbentang dihadapannya.

 

Ia merasa… seperti dunia berpaling darinya.

 

Mencoba melupakan ketidak adilan yang ia rasa, seraya mendorong sepedanya dan mengantarkan beberapa kotak susu juga Koran. Pria mungil itu bersenandung dengan suaranya yang khas. Suaranya yang amat lembut dan manis bagaikan lelehan es krim yang kau nikmati dimusim panas.

 

“asinayo… eolmana gidaryeossneunji geudae oganeun geu gilmoge sumeo… jeomanchiganeun dwismoseubirado maeumkkeot boryeogo… hanchameul seoseongin… nayeosseumeul…”

 

Nyanyiannya mengalun indah, membaur bersama udara.

 

“wae geureon yaegi moshaessnyago mureusindamyeon… gaseumi apa amu daedapdo moshajanayo… geujae amugeosdo geudaen moreunchae… jigeumcheoreomman gieokhamyeon dwaeyo…”

 

Tak memperdulikan sekitar, ia hanya terus bernyanyi melepaskan segala sesak yang ia rasa. Tenggelam dalam imajiner nya.

 

Dan tanpa sepengetahuannya, seseorang berdiri dibalik pagar rumah yang ia lalui. Seseorang itu tengah mematung seraya mencuri pandang dari sela pintu besi yang membatasi area rumahnya dan dunia luar.

 

Orang itu masih tetap berdiri, menikmati suara si pengantar susu dan meresapinya. Hingga tanpa ia sadari, perlahan suara itu mulai menghilang menjauh bersama suara angin diakhir musim dingin tahun ini.

 

.

.

 

Ia terhenyak, secepat mungkin ia buka pintu pagar rumah, berlari kearah suara tadi pergi. Namun dewi fortuna sepertinya belum berpihak padanya. Tertangkap dalam pandangannya, seseorang yang ia yakini sebagai pemilik suara sudah berlalu mengayuh sepeda tuanya. Menjauh dari dirinya dan hilang dari pandangan.

 

“Sial!” umpatnya pelan. Ia berdecak dan lalu menghentakan kakinya ditanah beberapa kali.

 

Tangannya menggaruk kepalanya kasar, melepaskan kekesalannya pada dirinya sendiri. Dirinya yang terlalu mudah tenggelam ketika menikmati music dan dalam sekejap akan kehilangan kendali atas pikirannya. Dasar Bodoh!

 

Sebuah tangan menghentikan aktivitas ‘menggaruk’ itu, ia menarik jemari pucat seseorang dengan seragam sekolahnya yang kini tengah berdiri beberapa meter di depan pagar rumah.

 

“appa pikir kau tak punya kutu dikepalamu?” tanyanya seraya tersenyum jahil.

 

Ia menghempaskan tangan appa pelan, berkacak pinggang sambil mendecak. “appa jangan bercanda! Appa tahu? Aku baru kehilangan harta karun!”

 

Alis pria paruh baya itu bertaut tak mengerti. Sebenarnya apa yang putra bungsunya ini bicarakan? Harta karun? Apakah putranya ini mengigau karena berangkat sekolah sepagi ini? Sepertinya begitu.

 

“harta karun? Apa kau sedang bermain mencari harta karun dengan Changmin?” kikikan terdengar mengiringi kalimat yang sarat akan sindiran itu.

 

Ia –Kyuhyun- kembali mendecak, membuang mukanya dari appa dan berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir tepat didepan pagar rumahnya.

 

“appa, buka kunci pintunya!” teriaknya nyaring, mengabaikan ledekan sang ayah soal harta karunnya yang tadi pergi.

 

Appa masih tertawa, namun tak urung ia langkahkan sepasang kakinya mendekat pada Kyuhyun.

 

“arraseo, jangan marah Little Cho~” serunya masih tetap tertawa.

 

.

.

 

From : Chokyu

“Teukie hyung, datang ke studioku jam 4 sore. Jangan terlambat!”

 

Setelah membaca pesan singkat dari seseorang bernama ‘ChoKyu’, pria berusia dua puluh tahun itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia lanjutkan kembali kegiatannya –memasukan buku kedalam tas- yang tadi sempat terhenti.

 

Kyuhyun… anak itu memang seenaknya. Tapi entah mengapa ia tak pernah bisa marah. Melihatnya saja sudah membuatnya senang, jadi bagaimana mungkin ia bisa marah pada anak ‘manis’ itu?

 

“Bukankah itu Kim Heechul?”

 

“dia benar-benar Kim Heechul?”

 

“Kim Heechul!!”

 

Dan beberapa bisikan serta seruan mulai terdengar mengiringi sebuah langkah yang kini menjadi pusat perhatian. Namun sang pemilik langkah sama sekali tak terganggu, tetap berjalan lurus menyusuri lorong kampusnya. Sesekali menata kaca mata hitamnya dan terkadang tersenyum ketika ada yang memanggil namanya.

 

Leeteuk melirik kearah jendela yang menghadap lorong, melihat keramaian yang terjadi diluar sana. Ia abaikan itu dan mencoba tak peduli, akan tetapi…

 

Kriet…

 

Pintu kelasnya yang sudah sepi tiba-tiba saja terbuka, menarik perhatian Leeteuk untuk melihat kearah suara berasal. Melihat siapa yang berdiri diambang pintu, Leeteuk menghela nafasnya dan lalu tersenyum kecil menyambut seseorang yang baru saja masuk kedalam kelasnya. Seseorang yang membuat gedung kampusnya ramai seketika.

 

“Ya!! Park Jungsoo!!! Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?! Kenapa tidak membalas pesanku?!”

 

Leeteuk –Park Jungsoo- hanya tersenyum kecil mendengar hardikan itu, ia lipat tangannya di depan dada dan lalu duduk diatas meja tempat ransel dan juga dua buah bukunya berada.

 

“kelasku baru saja selesai Heechul-ah, lagi pula akhir-akhir ini aku sedikit sibuk.”

 

“Ya! Kau pikir aku tidak sibuk? Kau tahu, aku baru saja selesai syuting dan langsung kemari karena khawatir padamu Park Jungsoo!”

 

Lagi Leeteuk hanya tersenyum kecil menanggapi. Seseorang dihadapannya ini, dia Kim Heechul sahabatnya sejak sekolah menengah pertama. Dia… adalah seorang bintang. Karena itu ia sangat di eluh-eluhkan oleh mahasiswa dikampusnya.

 

Sebenarnya Heechul juga kuliah disini, tapi karena kesibukannya ia jarang mengikuti kelas. Karena hal itu pula mereka jarang bertemu walaupun masih tetap berhubungan dengan baik meski tanpa bertatap muka.

 

“calm down Kim Heechul, lagipula kenapa harus khawatir? kau khawatirkan saja dirimu sendiri, ku dengar jadwalmu padat sekali akhir-akhir ini,”

 

Heechul mendengus sebal, ia lepas kaca mata hitamnya kasar dan menghempaskan diri dikursi tepat di samping Leeteuk.

 

“jangan bicarakan soal pekerjaanku, kau tahu aku mulai muak mendengarnya.”

 

Leeteuk tak berkata apapun, ia hanya mengangguk faham. Memperhatikan sahabatnya yang kini tengah menggerutu panjang pendek sambil salah satu lengannya memangku dagu. Mengabaikan orang-orang yang saling berebut pandang untuk melihatnya melalui jendela. Namun beruntung tak ada satupun dari mereka yang bisa masuk karena manager dan beberapa pengawal Heechul dengan setia berdiri menjaga pintu kelas tersebut.

 

“oh ya, Park Jungssoo!” panggil Heechul tiba-tiba. Ia baru ingat tujuan utamanya kesini, bukan untuk mneggerutu dan berkeluh kesah mengenai jadwalnya yang menumpuk setinggi gunung. Tapi ia ingin menanyakan perihal kesibukan Jungsoo yang membuatnya bahkan sulit sekali untuk menghubungi sahabatnya itu.

 

“sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan sekarang? Kenapa sulit sekali aku hubungi?” tanyanya langsung pada poin utama yang mengganggu pikirannya.

 

Jungsoo tak lekas menjawab, ia berpikir sesaat. “mungkin jika kau mendengar ceritaku sekarang kau pasti akan tertawa.”

 

Alis Heechul saling bertaut, pernyataan Jungsoo membuatnya justru semakin penasaran.

 

“kau tahu Cho Kyuhyun?”

 

Heechul mengangguk sebagai jawaban, “anak yang sering kau ceritakan itu? si composer muda jenius?”

 

“yup, anak itu.”

 

“kenapa dengan anak itu? apa ia membuat masalah denganmu?”

 

Jungsoo tertawa kecil, ia menggeleng menyangkal pertanyaan yang lebih terdengar seperti pernyataan yang Heechul lontarkan. “tidak, bukan begitu…”

 

“lalu apa?” Tanya Heechul tak sabaran.

 

“dia… dia memberiku sebuah nama panggung, Leeteuk. dia bilang nama panggungku Leeteuk…” ujar Leeteuk dengan pandangannya yang menerawang.

 

“Leeteuk? nama yang bagus… biasanya jika seorang trainee sudah diberi nama panggung ia pasti akan segera didebutkan. Apakah kau akan segera debut?”senyum Heechul berkembang, ia tampak sumringah mendengar kabar dari Jungsoo. Ia berharap sahabatnya ini memang akan segera debut.

 

“aku tak tahu pasti, hanya saja dia bilang. Dia ingin mendebutkanku,”

 

Alis seorang Kim Heechul bertaut, ada sesuatu yang mengganjal dari kalimat sahabatnya itu. Dia ingin mendebutkanku, kalimatnya terasa sedikit rancu ditelinganya. Dia? Kata ganti orang ketiga yang Jungsoo gunakan bukankah mengarah pada satu nama yang sejak tadi mereka bicarakan? Kalau memang benar, itu berarti, dia yang Jungsoo maksud… Cho Kyuhyun?

 

“dia? Cho Kyuhyun maksudmu?” Heechul mempertanyakan kebenarannya.

 

Jungsoo menatap Heechul, ia tersenyum kecil dan lalu mengangguk membenarkan. “iya, Cho Kyuhyun. Dia bilang dia akan mendebutkanku,”

 

Tawa Heechul pecah, ia melihat kearah Jungsoo tak percaya, “lelucon macam apa ini Park Jungsoo?” jeda, Hechul berjalan kesana-kemari dan lalu kembali mendekat pada Jungsoo, “tapi kau tak menerima tawarannya, bukan? Kau tak mungkin mempertaruhkan 5 tahun masa pelatihanmu untuk debut dengannya, iya kan?”

 

Tak menjawab, namja bermarga Park itu hanya mengukir senyum kecilnya. Menampakan dimple manis di ujung bibirnya yang justru membuat seorang Kim Heechul memekik frustasi.

 

“Park Jungsoo!! Kau pikir apa yang kau lakukan?! Walaupun kau debut dibawah agensi besar semacam JeHa, tapi jika yang mendebutkanmu- produsermu- seseorang yang tak berpengalaman, tetap saja resikonya besar! Kemungkinan debutmu akan gagal sangat tinggi, kau tahu itu?!”

 

Jungsoo menanggapi dengan santai, “jika memang gagal, itu berarti kesempatanku belum datang…”

 

Dengusan kasar terdengar dari Kim Heechul, ia menatap Jungsoo heran. “Ya!! Park Jungsoo, kau sadar apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa sepasrah itu, eoh? Kau bisa menolaknya jika tak mau, aku yakin mereka bisa mengerti!!”

 

“aku bukan pasrah Heechul-ah, tapi aku percaya padanya…”

 

“percaya? Pada anak SMU itu? aku yakin anak itu sudah mencuci otakmu Jungsoo-ya!”

 

Hening keduanya kini tenggelam dalam pikiran masing-masing. Heechul dengan kekesalannya yang sudah mencapai ubun-ubun, dan Jungsoo dengan keyakinannya pada Kyuhyun yang sudah tak dapat diragukan lagi.

 

Mengenal anak itu selama 5 tahun, membuat Jungsoo tak menyimpan sedikitpun keraguan. Seperti apa yang Heechul katakan, Kyuhyun memang belum berpengalaman dalam memproduseri artis apalagi sebuah group, tapi ia yakin sekali Kyuhyun tak akan pernah main-main dengan apa yang ia lakukan.

 

Kyuhyun pasti akan mencurahkan segalanya demi keberhasilan projek yang tengah ia kerjakan, seorang Cho Kyuhyun tak pernah setengah-setengah dalam melakukan apapun. 5 tahun cukup baginya untuk memahami Kyuhyun dan tentunya mempercayai anak itu sepenuhnya.

 

Helaan nafas terdengar di tengah keheningan yang sebenarnya cukup ramai, baiklah jangan abaikan beberapa orang yang masih berada di balik jendela yang berebut mengambil gambar terbaik dari seorang Kim Heechul. Seorang actor yang selalu tampil apa adanya dihadapan publik dan itu justru merupakan daya tariknya.

 

Heechul buka suara, ia tatap Jungsoo tajam. “hei Park Jungsoo, kau tahu aku pandai menilai orang bukan?”

 

Alis Jungsoo mengerling, ia mengangguk mengakui kemampuan sahabatnya yang satu itu.

 

“kalau begitu bawa aku bertemu dengannya. Sekarang!”

 

.

.

 

Dua orang remaja itu berdiri didepan sebuah gedung agensi hiburan, keduanya tampak kebingungan. Sambil sesekali berdiskusi dan sibuk dengan ponsel masing-masing.

 

“bagaimana, Donghae-ya? Dia masih belum mengangkat panggilannya? Kirim pesan singkat saja,”

 

Jemari seorang Lee Donghae masih terus menari diatas screen ponselnya, mengetik pesan singkat untuk seseorang yang ia temui semalam. Seseorang yang memberinya sebuah kepercayaan dan mimpi yang sudah lama tak pernah ia miliki.

 

“belum ada balasan?”

 

Donghae mnggeleng memberi jawaban. “mungkin dia sedang sibuk Eunhyuk-ah…”

 

“aish! Orang itu, bagaimana bisa ia melakukan ini pada kita? Membuat kita berdiri disini seperti orang gila!”

 

Donghae hanya menghela nafas, ia tak ingin menyalahkan Kyuhyun karena tak memberi informasi kalau orang asing dan tak berkepentingan dilarang masuk ke gedung itu tanpa izin. Ini juga salahnya karena sama sekali tak bertanya pada Kyuhyun tentang kemungkinan itu.

 

“kita tunggu saja Eunhyuk-ah,” ujar Donghae memberi keputusan.

 

Meski tampak marah namun Eunhyuk tetap menurut, walaupun umpatan terdengar beberapa kali meluncur dari mulut lelaki berambut pirang itu.

 

Beberapa menit berlalu, sudah hampir pukul 4 sore, padahal keputusan akhir semalam mereka akan bertemu tiga puluh menit lebih awal. Eunhyuk masih terus menggerutu bersama Donghae yang tetap tenang dan mengumbar senyum andalannya ketika ada beberapa orang yang menatap mereka berdua.

 

Hingga akhirnya suara derap langkah terburu-buru terdengar mendekat, Eunhyuk berdiri melihat siapa pemilik langkah, tangannya terlipat di depan dada dengan ekspresi masam yang ia tunjukan.

 

“Huaaaa!! kalian datang!!”

 

Seruan itu membuat kepala Donghae yang tadi menunduk terfokus pada ponselnya mendongak, senyuman merekah menyambut seseorang yang datang mendekat kearahnya dan juga Eunhyuk.

 

“Kyuhyun-ssi!!” teriak Donghae memanggil seraya melompat-lompat dan melambaikan tangannya riang.

 

Yang dipanggil –Cho Kyuhyun- ikut melambaikan tangan, “Donghae hyung!! Eunhyuk hyung!!”

 

“……”

 

Hyung? Mendengar panggilan tak wajar dari Kyuhyun membuat sepasang alis Donghae dan Eunhyuk saling bertaut. Mereka melempar pandang satu sama lain setelah sadar bahwa kesalahan bukan terletak pada telinga mereka, tapi pada orang yang baru saja memanggil nama mereka.

 

Langkah Kyuhyun terhenti seketika setelah mencapai kedua remaja dengan seragam serupa itu, “maaf, aku terlambat…” ujar Kyuhyun sambil mengatur nafasnya yang memburu.

 

Remaja berusia enam belas tahun itu tersenyum dengan gigi-giginya yang nampak, membuatnya terlihat lucu dan tentunya memiliki aura yang jauh berbeda dengan Cho Kyuhyun yang mereka temui semalam.

 

Cho Kyuhyun yang memiliki pandangan mengintimidasi dan ekspresi yang menyiratkan suatu ambisi besar yang tak dapat dihentikan oleh apapun.

 

Sedangkan Cho Kyuhyun dihadapan mereka sekarang, hanyalah seorang siswa-

 

Siswa?

 

Mata Eunhyuk terbelalak ketika menemukan sesuatu yang lagi-lagi membuatnya mempertanyakan kemampuan alat inderanya. Apakah ia tak salah melihat? Cho Kyuhyun… dia memakai seragam SMU?!

 

“baiklah, sekarang ayo kita masuk!”

 

“tunggu sebentar!” cegah Eunhyuk.

 

Langkah Kyuhyun terhenti, ia berbalik menatap kedua orang dibelakangnya. Donghae yang masih mematung dan Eunhyuk yang menatapnya balik dengan pandangan yang entah apa artinya. Mungkin bingung?

 

“kenapa hyungdeul?” Tanya Kyuhyun menaikkan alisnya. Masih tak mengerti mengapa kedua orang ini menunjukan ekspresi dan respon aneh seperti ini.

 

“Kyuhyun-ssi… kau masih SMU?” cicit Donghae ragu. Sepasang maniknya memperhatikan Kyuhyun dari atas kebawah, ia baru sadar Kyuhyun masih menggunakan seragam sekolah.

 

Penuh semangat Kyuhyun menganggukan kepalanya, “eoh, aku masih SMU! Lalu kenapa?”

 

“tapi- semalam kau tak mengatakannya…” kini Eunhyuk yang mengambil alih percakapan.

 

Tak lekas menjawab, Kyuhyun hanya menaikan bahunya acuh sebagai tanggapan. “kalian tidak bertanya,”

 

Benar. Semalam mereka tak bertanya, dan mereka hanya terus menjawab beberapa pertanyaan yang Kyuhyun lontarkan.

 

Rasa pensaran Eunhyuk dan Donghae masih belum terbayarkan, kini Donghae kembali buka suara. “tadi kau memanggil kami hyung, kalau begitu umurmu…”

 

“enam belas!” jawab Kyuhyun cepat, “semalam kalian bilang umur kalian tujuh belas tahun, bukan? Dan umurku satu tahu dibawah kalian, jadi kalian adalah hyung,” jawabnya enteng.

 

Mendapati satu kenyataan yang sungguh mengejutkan. Tentang –calon- produser mereka yang ternyata masih SMU dan baru berusia enam belas tahun. Eunhyuk dan Donghae hanya melongo dan berusaha mencerna apa yang baru saja mereka dengar dan lihat.

 

Ini sulit dipercaya.

 

.

 

Diskusi ringan mengalir begitu saja antara mereka bertiga, jalinan nyata namun tak kasat mata itu mulai terjalin dan terikat. Siapa sangka jika semalam sempat terjadi ketegangan diantara mereka bertiga?

 

Berterimakasihlah pada si happy virus yang terus tertawa membawa kebahagiaan, membuat suasana kian terasa nyaman meski terkadang diwarnai perdebatan-perdebatan kecil antara ketiganya.

 

Tiga puluh menit berlalu sejak mereka memasuki studio pribadi milik sang putra mahkota JeHa ent., Eunhyuk dan Donghae tengah mengisi biodata pribadi mereka, dan Kyuhyun masih sibuk dengan jam tangan dan juga ponsel miliknya.

 

Melakukan panggilan dan mengirim pesan, namun tak ada satupun yang mendapat balasan. Kyuhyun hanya menghela nafas, wajahnya tampak mulai gelisah.

 

Menyadari perubahan ekspresi Kyuhyun, Donghae menghentikan pekerjaannya, mengalihkan perhatiannya pada sang produser. “ada apa Kyuhyun-ah?”

 

Baiklah, bahkan mereka sudah tak berbicara dengan formal lagi sekarang. Bukankah itu bagus?

 

Kyuhyun menggeleng dan tersenyum kecil, “tidak ada, lanjutkan saja pekerjaanmu hyung aku ke-”

 

Suara pintu terbuka memenggal kalimat Kyuhyun, diikuti dengan kepala seseorang yang menyembul dari balik pintu seraya menampilkan senyuman bersalahnya. “maaf, aku terlambat Kyuhyun-ah,”

 

Kyuhyun beranjak dari kursinya, wajahnya yang tadi gelisah kini berangsur menghilang dan tampak lega. Akan tetapi jelas tercetak disana rasa kesal yang tiba-tiba saja muncul kala mengingat bagaimana orang itu sama sekali tak memblas pesannya.

 

“hyung!! Kau ini kemana saja?! kau terlambat 28 menit, kau tahu itu hyung?!”

 

Leeteuk menggaruk tengkuknya, ia tersenyum kecil merasa bersalah. “maaf Kyuhyun-ah, ada sedikit halangan diperjalanan karena itu aku sedikit terlambat…”

 

“halangan apa? Hyung mau bilang mobil hyung dicegat oleh segerombolan orang dan hyung tidak bisa melaluinya?”

 

“bagaimana kau bisa tahu?”

 

“apa?” Tanya Kyuhyun heran.

 

“yang kau katakan tadi, mobil yang ku tumpangi memang dicegat banyak orang,”

 

“hyung jangan bercanda! Orang gila mana yang akan mencegat bus penumpang, eoh?”

 

“Kyuhyun-ah… sebenarnya aku tidak datang sendiri, aku ikut mobil temanku. Dan sekarang aku datang bersama…”

 

Leeteuk membuka pintu perlahan, menyuruh seseorang yang berdiri dibalik pintu untuk masuk keruangan tersebut. “aku datang bersama temanku, Kim Heechul…”

 

Mata Kyuhyun terbelalak. Mendapati seorang bintang berada dihadapannya,tidak bukannya ini kali pertama ia melihat seorang artis tepat didepan matanya. Tapi Leeteuk hyung bilang orang ini adalah temannya? Kim Heechul?

 

Sementara dibelakang Kyuhyun, Eunhyuk dan Donghae lagi-lagi mematung ditempatnya. Pandangannya lurus menatap seorang Kim Heechul yang berdiri dengan penuh percaya diri. Seorang Kim Heechul ada dalam ruangan yang sama dengan mereka? kejutan macam apa lagi sekarang?

 

Ya, Tuhan…

 

.

 

.

 

TBC

Umbrella (Chapt. 5 – A Pair of Socks)

umbrella a pair of socks 5

Remaja bermarga Choi itu terkekeh setelah beberapa saat terpaku mendengar perkataan pria dihadapannya. Tangannya terlipat angkuh di depan dada, menatap Cho Kyuhyun yang masih terus tersenyum penuh percaya diri.

 

“kau… ingin mendebutkanku?” Tanya Siwon dengan nada suara yang meremehkan.

 

Ia sangsi apakah anak di hadapannya ini bisa mendebutkannya, bukankah itu sangat tak masuk akal?

 

Tanpa keraguan, Kyuhyun mengangguk pasti. “Ya! Aku ingin kau debut bersama group yang aku buat,”

 

“wah, itu pasti menarik sekali!” tangan Siwon bertepuk sekali dan lalu sedikit membungkukan tubuhnya. Mengarahkan wajahnya tepat ke depan wajah Kyuhyun yang masih terus tersenyum.

 

Alis mata Choi Siwon naik, menatap Kyuhyun lekat dan berbisik kecil. “namun sayangnya aku tak tertarik,” ujarnya dingin dan berlalu meninggalkan ruangan itu.

 

Tapi bukan Cho Kyuhyun namanya jika ia menyerah hanya karena sekali penolakan, tak terburu-buru Kyuhyun mengikuti langkah Siwon. Menatap tubuh tinggi itu dari belakang, tinggi sekali. Gumam Kyuhyun dalam hatinya.

 

Ia menatap punggung tegap Siwon, melihat panjang kakinya dari belakang dan tersenyum penuh arti setelahnya. Entahlah, tapi senyuman anak itu benar-benar tampak seperti psikopat. Astaga Cho Kyuhyun.

 

Sementara sesekali, Siwon mencuri pandang kearah belakang. Melihat Kyuhyun yang terus mengikutinya. Ia tak mengerti sebenarnya apalagi yang anak itu inginkan? Bukankah sudah jelas tadi ia menolaknya? Lalu apa lagi sekarang?

 

Mencoba tak terganggu Siwon masih terus berjalan menuju ruangan tempat ayahnya berada, ia pikir ia hanya harus segera menemui ayahnya agar terbebas dari pria aneh yang terus mengikutinya itu.

 

Siwon sampai di depan rungan, ia membuka pintu dan membungkuk hormat setelah melihat sang ayah bersama seorang pria yang ia yakini sebagai pemilik dari perusahaan ini.

 

“oh, Siwon… tuan Cho perkenalkan ini putraku Choi Siwon,” ujar tuan Choi setelah melihat kehadiran putranya, ia memperkenalkan Siwon pada rekan bisnisnya yang baru tersebut, yang tak lain adalah tuan Cho.

 

Siwon melangkahkan kakinya mendekat pada sang ayah, tak lupa ia umbar senyuman penuh kharisma di wajah tampannya. Senyuman yang bisa membuat wanita yang melihatnya akan merasa meleleh karena senyuman itu.

 

Namun tak lama kemudian, bahkan sebelum Siwon berhasil mencapai kursi disamping ayahnya. Pintu ruangan itu kembali terbuka, seorang pria masuk dengan senyuman manisnya. Alisnya mengerling ketika tatapannya bertemu pandang dengan mata milik Choi Siwon yang menatapnya dengan dahi berkerut.

 

“oh, Kyuhyun,” sapa tuan Choi. Siwon terperanjat mendapati ayahnya yang ternyata mengenal orang aneh itu.

 

Ia memandang ayahnya dan juga Kyuhyun bergantian.

 

“Siwon-ah, apakah kau sudah bertemu Kyuhyun? Dia adalah putra tuan Cho,”

 

Siwon menelan salivanya, apa? Ia tak habis pikir, bagaimana bisa anak aneh itu adalah putra rekan bisnis ayahnya? Orang aneh mcam itu?

 

.

.

 

Setelah mengobrol beberapa saat tuan Choi dan juga Siwon berpamitan meninggalkan ruangan, Kyuhyun dan tuan Cho mengantar keduanya, di perjalanan terjadi obrolan kecil diantara mereka berempat. Dan disinilah sebuah kenyataan membuat Kyuhyun merasa bahwa keputusannya untuk mendebutkan Siwon memang tidak salah, namun sebuah rintangan besar yang sebelumnya telah ia prediksi jelas membentang kokoh dihadapannya.

 

“jadi tadi kalian bertemu dimana?” Tanya tuan Choi ramah sembari menatap putranya dan juga Kyuhyun bergantian.

 

Siwon terdiam tak lekas menjawab, ia tampak ragu untuk berbicara. Sementara Kyuhyun, ia menlisik wajah Siwon. Mencari tahu apa arti raut itu, raut wajah takut dan ragu.

 

“kami bertemu di ruang latihan, tuan anda tahu? Putra anda sangat mahir menari, dan bahkan suaranya bagus sekali!” Puji Kyuhyun dengan topeng polosnya, namun tak henti matanya melirik gerak-gerik Siwon yang terlihat kebingungan.

 

Selain itu, ia juga bisa menangkap ekspresi tak suka yang sekilas tuan Choi berikan pada Siwon. Sepertinya dugaannya benar.

 

Tuan Choi tak suka jika Siwon menari ataupun menyanyi, ia yakin itu.

 

“ah, benarkah? Tapi sepertinya Siwon lebih tertarik pada bidang bisnis, bukankah begitu, Siwon-ah?” Tanya tuan Choi dengan tatapan menuntut jawaban yang sesuai keinginannya.

 

Meski tak terlihat jelas, namun Kyuhyun dapat menangkap itu. Ditambah dengan penekanan diakhir kalimat yang tuan Choi ucapkan, seolah memaksa Siwon untuk setuju dengan pilihannya. Pilihan yang Kyuhyun yakin sama sekali tak diinginkan oleh tuan muda Choi itu.

 

Tampak enggan, namun pada akhirnya SIwon mengangguk membenarkan. Tuan Choi tersenyum puas.

 

.

.

 

Malam semakin larut, akan tetapi sepasang bola mata caramel itu masih tetap terjaga dan focus membaca beberapa data di laptopnya. Data yang ia minta –tanpa ijin- dari sang appa beberapa saat lalu, ketika beliau pergi ke toilet dan meninggalkannya sendiri di kantornya.

 

Ia membacanya dengan seksama, jari telunjuk sebelah kanannya terus mengetuk meja secara teratur. Mencipatakan bunyi sayup di ruangan dengan penerangan temaram itu.

 

“sekolah internasional… mencari relasi ya, ” gumamnya seraya terus membaca. Tampak kepalanya mengangguk-angguk ketika menemukan beberapa informasi yang menurutnya menarik.

 

Dan… “satu semester sekolah di sekolah music?” alisnya kini bertaut ketika menemukan satu informasi yang menurutnya janggal.

 

Ia sandarkan punggungnya pada sandaran kursi, setelah bermonolog ria dengan segala hal yang ia temukan pada profil seorang Choi Siwon yang ia minta-tanpa ijin- dari computer ayahnya, sepertinya ia menemukan sebuah titik terang. Sekaligus sumber kendala untuknya mendapatkan Choi Siwon.

 

“jika dia pernah satu semester sekolah di sekolah musik, itu berarti ia pernah mendapat ijin untuk mendalami bakatnya. Tapi kenapa hanya satu semester? Kenapa Choi Siwon tidak melanjutkannya jika suka? Kenapa… ”

 

Hanya kata kenapa yang terus berputar dalam otaknya. Setelah tadi siang kata sempurna yang menggambarkan seorang Choi Siwon, sekarang sebuah kata tanya kenapa yang seolah mengelilingi namja hampir sempurna itu.

 

Rasa-rasanya masih terlalu banyak yang harus anak itu temukan, khususnya alasan kenapa seeorang Choi Siwon berhenti dari sekolah musik. Hanya itu yang ia butuhkan. Ia yakin, jika menemukan jawabannya ia akan bisa menemukan jalan keluarnya juga.

 

Drtttt… drttt…

 

Atensi pria itu beralih menuju smartphone nya yang tergeletak tepat disamping laptopnya, matanya memicing. Membaca siapa gerangan yang melakukan panggilan pada ponselnya ditengah malam seperti ini.

 

“… Changmin?” tanyanya entah pada siapa. Namun tak urung ia angkat panggilan itu dan menyapa dengan nada bicaranya yang malas. “yoboseo… ada apa menghubungiku malam-malam begini, Shim?”

 

Terdengar suara decakan dari seberang sana, diikuti dengan suara lembut yang mengucapkan kata ‘palli’ berulang kali. Changmin mendengus, Kyuhyun dengar itu dengan sangat jelas. “Shim, aku mendengar suara Sungmin hyung disana. Kalian sedang bersama?” Tanya Kyuhyun mengabaikan dengusan Changmin.

 

“iya, tapi bukan itu yang terpenting sekarang. Tapi sebelumnya, bisakah kau tak menggunakan nada malasmu itu? kau tahu aku akan memberimu hadiah besar hari ini,”

 

“Changmin palliwa!”

 

“baiklah, sekarang apa hadiahnya? Dan bagaimana kalian bisa bersama?” ujar Kyuhyun menuntut. Meskipun kini nada suaranya justru terdengar ketus dan lebih tidak menyenangkan dari sebelumnya.

 

“sabar Lee Sungmin! Begini Kyu, sekarang juga kau datang ke stasiun Seoul pintu utara, kau tahu kan letaknya?”

 

“iya, lalu kenapa aku harus kesana?”

 

“aku bilang aku punya hadiah Cho! Soal Sungmin hyung nanti saja aku ceritakan, jadi cepatla kemari, kami berdua menunggumu!”

 

“ta-”

 

Bip.

 

Panggilan terputus begitu saja. Ya, Changmin memutuskan sambungan sepihak dan tak memberikan kesempatan untuk Kyuhyun bertanya lebih lanjut. Kyuhyun kesal, tentu saja!

 

Ia lemparkan ponselnya keatas tempat tidur dan lalu memejamkan matanya sembari duduk bersandar. “seenaknya saja dia memintaku datang seperti itu. aku tak akan datang Shim Changmin!” teriaknya tertahan.

 

.

 

“Ya! Kau dimana Shim Changmin?!”

 

“bicaralah yang benar Kyu! Jangan berteriak seperti itu, kau mau membuatku tuli?!”

 

“jawab saja sekarang kau dimana? Apa masih di pintu utara? ”

 

“aku masih disini! Jadi cepatlah atau kau akan kehilangan hadiahmu!!”

 

“ya ya ya! Aku segera kesana!! ”

 

Kyuhyun berlari menuju tempat Changmin dan Sungmin berada. Sebelumnya ia memang sempat menolak, tapi Cho Kyuhyun tetaplah Cho Kyuhyun, anak polos yang akan menurut jika di iming-imingi dengan hadiah yang menarik baginya.

 

Secepat mungkin ia melangkahkan kakinya, hingga akhirnya sepasang kaki itu berhenti ketika manik caramelnya melihat pemandangan yang selama ini selalu berhasil menarik perhatiannya.

 

Mereka…

 

Anak-anak yang menari di jalanan dengan kemampuan yang tak perlu diragukan lagi.

 

Kyuhyun tetap berdiri ditempatnya, memperhatikan beberapa anak yang tampaknya memilki usia yang tak jauh berbeda darinya. Ada sebelas orang disana, akan tetapi…

 

Disana… seorang laki-laki dengan senyuman childish nya, tariannya salah satu yang terbaik diantara sebelas orang itu. Lalu visualisasinya juga punya nilai plus yang membuatnya tampak menonjol dibandingkan yang lain.

 

Dia… tidak setampan Choi Siwon. Tapi dia memilki aura yang menyenangkan, senyumannya dan suaranya juga terdengar membawa happy virus pada setiap orang yang melihat dan mendengarnya.

 

“aku harus mendapatkannya!”

 

Kyuhyun membuat keputusan. Ia hendak berjalan mendekat ketika tiba-tiba saja ada satu orang lagi yang berjalan mendekat ke gerombolan anak-anak itu. Seseorang dengan tubuh kurus dan juga rambut pirangnya.

 

“terlihat seperti ikan teri,” komentar Kyuhyun melihat si anak pirang dengan tubuhnya yang kurus itu.

 

Tampak dari penglihatannya, anak pirang yang baru saja datang merangkul orang yang sejak tadi menarik perhatian Kyuhyun. Mereka bercengkrama sangat akrab, saling menggelitiki, memukul dan lalu tertawa. Membuat senyuman Kyuhyun merekah tanpa sang pemilki sadari.

 

“mereka bersahabat?” tanyanya entah pada siapa.

 

Ada relasi antara keduanya yang lagi-lagi menarik perhatian Kyuhyun, meski ia belum melihat kemampuan si anak berambut pirang itu. Ia merasa akan jadi sesuatu yang istimewa jika mereka berdua disatukan dalam satu kelompok.

 

Ia mulai tertarik, akan tetapi… tetap saja ia tak ingin sembarangan merekrut orang. Minimal ia harus mahir disalah satu bidang, baik itu bernyanyi, menari atau mengkomposeri lagu. Setidaknya salah satu dari ketiga itu ada yang ia kuasai dengan baik.

 

Untuk si happy virus Kyuhyun yakin dengan kemampuan menarinya, ia sudah melihatnya langsung. Tapi kalau si ikan teri… sepertinya ia masih diragukan.

 

Kyuhyun meraih ponselnya, memanggil nomor di daftar panggilan terakhir yang ia lakukan.

 

Belum selesai nada sambung pertama, suara seseorang langsung menyambutnya. “kau dimana? Cepatla-”

 

“aku sudah melihat hadiahku Changmin-ah.”

 

“kalau begitu cepat dekati mereka!”

 

“tidak. Tunggu mereka membubarkan diri dan kau ikuti si happy virus yang seperti anak-anak itu.”

 

“kau ini bicara apa?”

 

“aku bilang ikuti si happy virus! Dia yang senyumannya seperti bocah itu! dan Sungmin hyung ikuti si ikan teri- maksudku si pirang!”

 

“aish! Arrasseo!”

 

Senyuman misterius muncul di bibir Kyuhyun setelah panggilan antara dirinya dan Changmin terputus, ia menyeringai sambil terus memperhatikan anak-anak yang berkumpul beberapa meter di depannya.

 

“happy virus… aku harus mendapatkanmu dan ikan teri aku rasa kau juga memilki sesuatu…”

 

.

 

.

 

Pagi menjelang di kediaman keluarga Cho, meski rumah itu hanya berpenghuni tiga orang saja namun suasana ramai amat terasa terutama di ruang makan dimana ketiganya kini berkumpul bersama.

 

“eomma tahu kau keluar semalam Kyu,”

 

Kyuhyun menghentikan tangannya yang tengah menyumpit lauk yang ada ditengah meja makan itu, ia menelan saliva nya berat. Matanya melirik sang ayah, berkedip-kedip seraya bergumam minta bantuan.

 

Namun tuan Cho tampaknya acuh saja, beliau tetap melanjutkan makannya sambil sesekali tersenyum melihat putranya yang berusaha keras untuk menarik perhatiannya.

 

“minta bantuan pada appa-mu little Cho?”

 

Kyuhyun mendongak, menampilkan senyum lebarnya. “tidak,” sangkalnya.

 

Wanita cantik itu masih belum menyerah, sembari menyantap sarapannya ia terus menatap putranya tajam. Mencercanya dengan banyak pertanyaan perihal kepergian Kyuhyun semalam. Ia bertanya kemana Kyuhyun pergi? Dengan siapa? Mau apa? Kenapa menjelang tengah malam? Dan kenapa pulang menjelang pagi?

 

Benar sekali. Semalam Kyuhyun baru kembali sekitar pukul tiga setelah mengikuti kedua anak yang menarik perhatiannya, dan ia berhasil menarik Changmin dan juga Sungmin hyung untuk ikut terlibat dengannya.

 

Entah bagaimana nasib Changmin dan juga Sungmin hari ini. Mungkinkah mereka juga bernasib sama dengannya? Diomeli ibu mereka habis-habisan?

 

Tapi terlepas dari apa yang ia dapat –omelan sang eomma- hari ini. Ia merasa puas dengan hasil semalam.

 

Ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

 

.

.

 

“siapa kalian? Kenapa kalian mengikuti kami?”

 

Sungmin dan Changmin tersenyum kaku, sementara Kyuhyun dengan percaya dirinya berjalan mendekat dengan seringaian khas yang selalu ia tampakan disaat-saat tertentu. Seperti saat ini ketika ia menemukan mangsanya.

 

Ditempat yang sunyi itu, diantara gang sempit perumahan kumuh di Seoul. Mereka berlima tampak seperti sekumpulan remaja yang tengah berseteru.

 

Tiga lawan dua memang tidak seimbang.

 

Kyuhyun mengulurkan tangannya, “namaku Cho Kyuhyun,” katanya memperkenalkan diri.

 

Dua orang pemuda di depannya, si ikan teri dan si happy virus. Mereka saling melempar pandang sebelum akhirnya si happy virus membalas uluran tangan Kyuhyun lebih dulu, menjabatnya dan menyebutkan namanya. “aku Lee Donghae,”

 

Remaja dengan senyum childish nya itu melirik temannya –si ikan teri- mengisyaratkan agar temannya melakukan hal yang sama. Menjabat tangan Kyuhyun yang kini terulur kearahnya, namun ia enggan. Justru anak berambut pirang itu malah memalingkan wajahnya dari Kyuhyun. Menghindari tatapan mengintimidasi yang Kyuhyun perlihatkan.

 

Melihat interaksi tidak menyenangkan antara kedua orang itu, Donghae segera menengahi pandangan keduanya.“Kyuhyun-ssi, ini temanku. Namanya Lee Hyukjae.” Ujarnya cepat.

 

Kyuhyun menarik tangannya dan mengangguk mengerti, “baiklah, Donghae-ssi dan… Lee Hyuk jae-ssi, aku tak suka basa-basi. Aku akan langsung saja keintinya.”

 

“kau baru saja berbasa-basi bung!” itu Hyukjae. Ia menatap Kyuhyun tajam dan tersenyum miring.

 

Sungmin yang sejak tadi diam akhirnya mendekat kearah mereka bertiga –Kyuhyun, Donghae dan Hyukjae- meninggalkan Changmin yang berdiri dibelakang punggung Kyuhyun. Sebenarnya sejak tadi ia terus menarik-narik lengan baju Sungmin dan minta pulang. Namun Sungmin sama sekali tak menghiraukannya.

 

“ada apa kau maju? Kau mau mengeroyok kami?” lagi-lagi Hyukjae terpancing amarahnya. Padahal tak ada satupun yang bicara.

 

Melihat bagaimana sikap Hyukjae, Kyuhyun merasa kalau anak ini mungkin sedikit emosional. Atau bisa juga, Hyukjae seperti ini hanya jika dalam keadaan terjepit?

 

“tolong tenang Lee Hyukjae-ssi, temanku Kyuhyun ingin membicarakan sesuatu dengan kalian berdua. Jadi bisakah kau tenang dulu barang sebentar saja?”

 

Donghae mengangguk, begitupun Hyukjae. Pembawaan Sungmin yang tenang membuatnya percaya kalau pemuda itu mungkin saja tak berbohong. Ya, mungkin saja mereka datang bukan untuk mencari perkara dengannya ataupun Donghae.

 

Sungmin melirik Kyuhyun, ia sekali berkedip. Memberi isyarat agar Kyuhyun merubah strateginya untuk mendekati mereka berdua.

 

Kyuhyun mengerti, sekarang ia tak menampakan tatapan mengintimidasi lagi teruma pada Hyukjae. Kini ia tersenyum kecil namun terlihat manis dan setelahnya segera membuka pembicaraan. Inti masalah yang ingin ia sampaikan.

 

Tangan anak berusia enam belas tahun itu meraih dompet yang ada disakunya, menarik selembar kartu nama yang bertuliskan Cho Kyuhyun disana. Tak ada keterangan lain dalam kartu nama itu, hanya namanya dan nomor ponsel, juga… logo agensi milik sang ayah. Oh, itulah yang menjadi nilai plus dari kartu nama itu.

 

JeHa ent.

 

Kyuhyun memberikannya pada Donghae, membuat Donghae menatapnya bingung. “kau dari JeHa?” tanyanya tak percaya.

 

Kyuhyun mengangguk antusias dan tersenyum. “aku melihatmu menari tadi, dan tarianmu sungguh sangat bagus. Jadi aku ingin merekrutmu.”

 

Diam. Donghae terdiam dalam keterkejutannya. Ia tak salah dengar bukan? Agensi sebesar JeHa ingin merekrutnya?

 

“kau hanya penipu! Jangan percaya dia Donghae-ya!” Hyukjae menarik bahu Donghae yang sempat kaku beberapa saat, membuat pemuda itu kembali kedalam dunia nyata.

 

Kyuhyun tak terpengaruh dengan bentakan Hyukjae, ia masih tetap tersenyum. “kalau kalian tak percaya, datanglah besok ke JeHa jam 4 sore, aku tunggu kalian di lobi. Kalian tahu kan alamatnya?”

 

Seolah terhipnotis Donghae mengangguk menyetujui, “aku percaya, aku akan datang.” Ucapnya sambil matanya menatap mata jernih milik Kyuhyun. Sepasang manik yang memancarkan ketulusan. Alasan yang membuat Donghae mempercayai anak itu dengan sangat cepat.

 

“baiklah Donghae-ssi, esok ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu sebelum penanda tanganan kontrak. Datanglah sendiri dulu, setelah itu baru-”

 

“sendiri?” Tanya Donghae memotong kalimat Kyuhyun, menyiratkan ke tidak mengertiannya.

 

“ya, tentu saja sendiri. Memangnya dengan siapa lagi?”

 

“lalu bagaimana dengan Eunhyuk?”

 

Kyuhyun tampak berpikir, Eunhyuk? Satu sama yang terasa asing ditelinganya. “Eunhyuk? Siapa Eunhyuk?”

 

Kepala Donghae berpaling kearah Hyukjae, meraih tangannya dan menariknya mendekat. “temanku Eunhyuk, Lee Hyukjae,”

 

“oh! Maaf, tapi aku hanya menginginkanmu Donghae-ssi. Lagipula aku tak tahu bakat apa yang temanmu itu miliki,” kata Kyuhyun jujur, bola matanya lurus menatap Eunhyuk.

 

Sementara Eunhyuk masih tetap menunjukan tatapan tak suka pada Kyuhyun, membuat Changmin yang ada di belakang Kyuhyun menjadi geram. “Lee Hyukjae-ssi, bisakah kau berhenti menatap temanku seperti itu? memangnya dia punya salah apa padamu?”

 

Melihat suasana yang kembali memanas karena ulah Eunhyuk dan Changmin, akhirnya Sungmin memutuskan untuk menarik Changmin menjauh. “Kyuhyun-ah, aku tunggu disana. Kau bisa menyelesaikannya sendirikan?”

 

Kyuhyun mengangguk, sementara Changmin terus meronta. “hyung! Kita tetap disini! Bagaimana jika kyu-” suara Changmin hilang dibalik telapak tangan Sungmin yang membekap mulutnya dan membawanya menjauh beberapa meter dari sana.

 

Kini keadannya mulai dapat terkendali lagi. Namun Donghae justru melakukan sesuatu yang membuat Kyuhyun kecewa, ia mengembalikan kartu nama Kyuhyun pada pemiliknya. “maaf Kyuhyun-ssi, jika tanpa Eunhyuk aku tak bisa pergi.”

 

Kyuhyun mengernyit mendapati Donghae yang awalnya tampak menggebu kini malah tiba-tiba saja menolaknya.

 

“Donghae-ya!”

 

“Donghae-ssi!”

 

Melihat keteguhan Donghae sepertinya memang akan sulit sekali untuk merekrutnya saja, melihat mereka berdua membuat Kyuhyun mengingat kaos kaki. Tak bisa dipakai jika hanya satu buah, jika menginginkan perpaduan yang sempurna maka ia harus memiliki keduanya.

 

“baiklah, pertama-tama setidaknya tunjukan padaku bakat yang kau miliki Hyukjae-ssi.”

 

“untuk apa aku melakukannya?” tantang Eunhyuk tak mau menuruti begitu saja kemauan Kyuhyun.

 

“demi sahabatmu.” Jawab Kyuhyun telak.

 

Eunhyuk lirik Donghae yang tersenyum kecil entah apa artinya. Sejenak ia tampak berpikir sebelum akhirnya kembali mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun. Benar, sekali saja, sekali saja Eunhyuk ingin melakukan sesuatu untuk sahabatnya itu. Mungkin ini saatnya.

 

Meski enggan akhirnya Eunhyuk bernyanyi.

 

Namun respon Kyuhyun jauh dari kata puas. Bahkan anak itu tak tersenyum sama sekali.

 

Berganti Eunhyuk kini menampilkan kemampuan rapp nya.

 

Dan lagi-lagi, Kyuhyun tak menampakan ekspresi apapun. Ia hanya diam memperhatikan.

 

Eunhyuk hampir menyerah, ia lirik Donghae yang berada disampingnya. Donghae yang terus menatapnya dengan tatapan penuh harap. Membuat Eunhyuk luluh dan akhirnya memutuskan untuk berusaha sekali lagi.

 

Kali ini ia menari. Melakukan beberapa gerakan poppin dan bahkan shuffle namun lagi-lagi Kyuhyun hanya diam. Kini dia justru menggelengkan kepalanya. Seolah apa yang Eunhyuk tampilkan itu sama sekali tak ada istimewanya.

 

Menyerah… remaja berambut pirang itu pikir mungkin dirinya memang tak punya kesempatan untuk menjadi bintang.

 

“bagaimana Kyuhyun-ssi? Temanku punya potensi dan bakat tersembunyi bukan?” Tanya Donghae antusias.

 

Kyuhyun menghela safasnya berat dan berucap. “maaf, tapi tak ada satupun bakat yang menonjol dari temanmu ini, Donghae-ssi.”

 

Pancaran mata Donghae perlahan meredup mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Kyuhyun. Meski ia ingin selalu bersama Eunhyuk dan ia menolak kesempatan ini karena Eunhyuk. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam tetap saja ada perasaan itu. Sebuah keinginanan yang sejak kecil selalu ia perjuangkan. Keinginannya untuk menjadi bintang dan membuktikan pada dunia kalau dirinya ada.

 

Melihat raut Donghae yang kecewa. Ada perasaan sakit yang menelusup dihati pemuda itu, mungkin satu kesempatan bisa membuatnya merasa lebih baik?

 

“aku rasa aku bisa mempertimbangkannya,” aju Kyuhyun dengan sebuah kesepakatan baru. “tapi dengan satu syarat.”

 

Donghae tampak mulai kembali bersemangat, “apa syaratnya?”

 

“kau harus bisa membuktikan kalau temanmu itu memang punya potensi. Aku akan membuat kontrak 3 bulan bersama kalian. Jika dalam 3 bulan Hyukjae-ssi bisa menampilkan kemampuannya. Aku akan dengan senang hati memperpanjang kontrak kalian.”

 

“setuju!” jawab Donghae menerima persyaratan itu sepihak tanpa menunggu persetujuan Eunhyuk.

 

Sementara Kyuhyun tersenyum puas. Tak ada yang tahu kalau dalam hati si bungsu Cho itu berkata, ‘sekali dayung dua, tiga pulau terlampaui.’

 

Dan akhirnya malam itu satu kesepakatanpun dibuat bersama sepasang kaos kaki.

 

.

 

.

 

TBC

 

Halo~ Kha comeback~~~ setelah 5 bulan lebih ya, 😀

Disini, sepasang kaos kaki sudah di rekrut, kenpa prosesnya mudah? Karena masalah mereka nanti di chapter entah ke berapa kkkk

 

#HappyKyuDay ahjussi keceehhh~~~